Friday, 27 September 2013

WAHAI HABIB MUNDZIR, KEWAFATANMU INDAH SEPERTI WAFATNYA KAKEKMU RASULULLAH SAW.


Menyaksikan betapa hebat dan indahnya kewafatan Guru Mulia Habibana Mundzir bin Fuad al-Musawa, tak kuasa diriku menahan air mata dan dada mendadak sesak. Wahai guru bagi ruhku, wahai idolaku, wahai pujaan hatiku, wahai pejuang sejati, betapa cepat Allah Swt. memanggilmu. Kami masih membutuhkan bimbinganmu wahai Habibana.

Cukup... cukup... cukup... wahai yang bersedih sebab perpisahan antara kekasih dengan pujaan hati. Bangkit dan bangkit... pujaan hatimu telah berwasiat: “Silaturrahim batiniah tidak mengenal batasan waktu dan ruang bagi orang-orang muslim yang saling mencintai. Jika aku wafat mendahului kalian, kutitipkan perjuangan dakwah sang Nabi Saw. pada kalian, kita akan abadi bersama dalam kebahagiaan kelak insya Allah tanpa ada perpisahan.”

Aku jadi teringat dengan taushiyah yang disampaikan al-Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa dua tahun lalu di haulnya Syaikh Armia bin KH. Kurdi, Cikura Bojong-Tegal pada tanggal 24 Desember tahun 2011 M berikut ini:

“Sahabat Anas bin Malik Ra. pernah berkata: “Hari Kamis adalah hari saat mulai sakitnya Rasulullah Saw. sebelum wafatnya, di saat itu beliau sakit parah dan pusing berat.”

Rasulullah Saw. bersabda kepada Sayyidatuna Aisyah Ra.: “Duh kepalaku sakit.”

Para sahabat Nabi Saw. berhenti kerja, berhenti dagang, toko tutup, pasar tutup, berkabung atas sakitnya Rasulullah Saw.

Namun hari Senin, tepatnya malam Senin ba’da Isya, beliau Saw. tersadar dari berbaringnya, kemudian bersabda kepada Aisyah Ra.: “Ya Aisyah, apakah para sahabat sudah shalat (Isya)?”

Jawab Aisyah Ra.: “Masih menunggumu wahai Rasulullah.”

Lalu Rasulullah Saw. meminta bantuan kepada Aisyah Ra.: “Bangunkan aku, topang tubuhku untuk sampai ke tempat wudhu.”

Di tengah jalan menuju tempat wudhu beliau Saw. roboh, pingsan lagi. Lalu tengah malamnya beliau Saw. tersadar lagi, bangun lagi dari pingsannya. “Ya Aisyah, apakah orang-orang sudah shalat?”

Jawab Aisyah Ra.: “Mereka masih di luar belum shalat menunggumu wahai Rasul.”

Lantas Rasulullah Saw. pun meminta bantuan lagi kepada Aisyah Ra.: “Ayo bawa aku ke tempat wudhu.”

Sampai di depan tempat wudhu beliau Saw. roboh lagi, pingsan lagi. Sepertiga malam terakhir Rasulullah Saw. bangun tersadar lagi, lalu bertanya seperti pertanyaan sebelumnya: “Orang-orang sudah shalat belum ya Aisyah?”

Jawab Aisyah Ra.: “Mereka masih menunggumu wahai Rasulullah (para sahabat tidak bergerak di tempatnya, ada yang tertidur di dalam menunggunya tetapi tetap tidak bergerak menanti keluarnya Rasulullah Saw.).”

Maka beliau Saw. bersabda: “Perintahkan Sayyidina Abu Bakar untuk mengimami shalat.”

Di saat para sahabat menjalankan shalat, diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, tentang rumahnya Rasulullah Saw. Di shaf pertama Masjid Nabawi itu sudah termasuk pintunya rumah Rasulullah Saw. Para sahabat akan tahu jika Rasulullah masuk Masjid Nabawi. Kalau pintu rumah terbuka, cahaya terang benderang masuk menerangi Masjid Nabawi, berarti pertanda Rasulullah Saw. masuk ke dalam masjid. Pintu itu terbuka dan Rasulullah Saw. melihat keluar. Melihat para sahabat shalat dengan shaf yang rata, maka beliau tersenyum.

Kemudian dalam sebuah riwayat, para sahabat seakan-akan shalatnya hampir batal dikarenakan betapa gembiranya merek melihat Rasulullah Saw. yang sudah berhari-hari tidak keluar (dari rumahnya).

Namun Rasulullah Saw. memberi isyarat: “Jangan ada yang brgerak, teruskan shalat.” Beliau Saw. hanya mmbuka tabir, lalu menutupnya kembali masuk ke dalam rumah.

Brkata Anas bin Malik Ra.: “Tidak pernah kami melihat pemandangan yang lebih indah dan lebih menakjubkan dari wajah Nabi Saw. Dan itu adalah terakhir kali para sahabat melihat Baginda Rasulullah Saw., karena di waktu Dhuha beliau Saw. wafat.”

Di saat waktu Dhuha, Sayyidatuna Aisyah Ra. memangku Rasulullah Saw. yang sedang berbaring sakit: “Engkau mau siwak wahai Rasulullah?”

Rasulullah Saw. hanya mengangguk. Lalu dibasahilah siwak itu oleh Aisyah Ra. dan disiwakkanlah ke bibir Rasulullah Saw. Lalu Rasulullah Saw. bersabda: “Laa Ilaaha Illallaah... Sungguh dalam kematian itu kepedihan.”

Kenapa? Padahal para shalihin dan auliya’ tidak pernah merasakan sakit saat kematian. Karena saat itu Rasulullah Saw.berdoa: “Wahai Allah, pedihkan, sakitkan sakaratul mautku. Ringankan untuk ummatku.”

Maka Rasulullah Saw.berteriak: “Betapa pedihnya sakaratul maut.” Lalu beliau Saw. sendiri yang memegang siwak, lalu tangannya terjatuh di pangkuan Sayyidatuna Aisyah Ra. Dan tersebarlah kabar wafatnya Rasulullah Saw.

Sahabat Mu’adz bin Jabal Ra. yang diperintahkan Rasulullah Saw. menyebarkan Islam di Yaman, telat mendengar kabar wafatnya Rasulullah Saw. Setelah baru mengetahuinya, Sayyidina Mu’adz Ra. langsung lari tergesa-gesa menuju ke Madinah, menuju rumahnya Sayyidatuna Aisyah Ra. Sampai di depan rumahnya Aisyah Ra., Mu’adz bin Jabal Ra. mengetuk pintu, dan dijawab dari dalam rumah oleh Sayyidatuna Aisyah Ra.: “Siapa orang yang datang tengah malam ketuk-ketuk pintu?”

“Aku Mu’adz bin Jabal wahai Ummul Mukminin Aisyah. Tolong ceritakan, aku tidak bisa tahu keadaannya Rasulullah Saw. sampai beliau dimakamkan.” Pinta shabat Mu’adz bin Jabal Ra.

Jawab Sayyidatuna Aisyah Ra.: “Wahai Mu’adz, beruntung beruntung beruntung engkau tidak melihat wajah Rasulullah Saw. saat menahan pedihnya sakaratul maut. Kalau kau melihatnya, maka akan hilang seluruh kenikmatan hidupmu di dunia. Kau tidak akan bisa merasakan nikmatnya makan dan minum serta seluruh kehidupan hingga engkau wafat.”

Jika melihat dahsyatnya Nabi Saw. menahan pedihnya sakaratul maut, untuk apa? Untukku dan kalian ummat Sayyidina Muhammad Saw. agar diringankan sakaratul maut!”

Wahai segenap pecinta Habib Mundzir, bangkit dan bangkitlah. Teruskan perjuangan dan cita-cita beliau dalam menegakkan panji-panji Sayyidina Muhammad Saw., menjadikan Ibukota Jakarta menjadi Kota Sayyidina Muhammad Saw. Tiru dan tirulah akhlak mulia dan semangat beliau dalam berdakwah yang santun nan indah, menyayangi dan mengayomi semua orang tanpa pandang bulu.

Lahu al-Fatihah...

Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 17 September 2013

http://www.muslimedianews.com/2013/09/wahai-habib-mundzir-kewafatanmu-indah.html
http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2013/09/wahai-habib-mundzir-kewafatanmu-indah.html

BERAGAM CARA ALLAH MENJAWAB DOA KITA

Kalam yang masyhur Syaikh Ibnu Athaillah as-Sakandari mengatakan: “Allah tidak selalu memberikan apa yang kita minta, akan tetapi Allah akan selalu meberi apa yang kita butuhkan.”

Maulana al-habib M. Luthfi bin Yahya menjelaskan tentang sebuah rahasia (sirr) di balik setiap doa yang kita ucapkan. Kenapa doa yang sering kita lakukan terkadang atau bahkan kebanyakan tak kunjung terijabahi oleh Allah? Bersyukurlah, karena itu pertanda amat sayangnya Allah kepada kita.

Allah Ta’ala berfirman: ادعوني أستجب لكم “Berdoalah padaKu (Allah) maka Aku (Allah) akan menerima kalian”.

Firman Allah tersebut merupakan dasar atau dalil perintah untuk kita berdoa kepada Allah. Lalu apakah doa yang kita panjatkan itu pasti diterima oleh Allah? Doa kita diterima atau tidak itu hak Allah, tapi kita wajib untuk berdoa kepada Allah.

Selanjutnya, yang namanya menerima itu belum tentu mengijabahi. Kita berdoa pasti diterima, akan tetapi belum tentu diijabahi oleh Allah. Tidak semua diberikan atau diijabahi oleh Allah, dan Allah tidak mengijabahi doa itu termasuk bentuk kasih sayang atau rahmat Allah kepada hambaNya.

Doa pun dalam “astajib lakum” itu tetap ada syara’nya, sehingga tidak semua doa diijabahi. Contohnya kita berdoa menjadi Nabi, itu tidak akan diijabahi.

Doa itu ada yang diterima tetapi untuk memenuhi gudang akhirat, ibaratnya kita menabung sehingga tidak diijabahi di dunia. Ada juga doa yang diijabahi di dunia dan akhirat.

Allah Ta’ala itu mengabulkan doa melalui proses syar’an. Seperti begini, Muhammad diangkat menjadi Nabi pada umur 25, lalu umur 40 baru diangkat menjadi Rasul, umur 51 tahun baru diberi perintah shalat melalui isra’ mi’raj, dan ahkamul wudhu’ baru diajarkan di Madinah. Di sini, Nabi Muhammad saja masih diberi proses, tidak langsung.

Kalau kita berdoa lalu Allah tidak mengijabahi doa kita, kita harus bersyukur, berterima kasih pada Allah. Karena bisa jadi, Allah tidak mengijabahi doa kita itu karena kita belum siap menerima doa yang diijabahi oleh Allah, karena ada beberapa hal yang kita belum kuat.

Doa, amalan-amalan, hizib, puasa, melek (saharullayali) dan lain-lain itu untuk membersihkan hati dan menyucikan jiwa (tashfiyatul quluub wa tazkiyatun nafs), sehingga ada godaan di dalamnya, yaitu selalu terjadi perang batin. Contoh: ada orang yang ngaji ke salah satu kiai yang terkenal kealimannya. Lalu orang tersebut timbul dalam hatinya rasa bangga karena bisa dekat dan ngaji kepada sang kiai sehingga merendahkan orang lain. Kalau sudah begitu, itu sebenarnya bala’ atau musibah bagi sang kiai tersebut.

Walhasil, kita harus bersyukur karena kita disayang oleh Allah Ta’ala dengan tidak diberi secara langsung, namun bertahap. Karena kalau diberi langsung kita bisa nggeblag (error) karena tidak kuat.

Al- Habib Munzir bin Fuad Al Musawa menjelaskan perihal firman Allah Swt.: “Mintalah kepadaKu akan Kujawab doa-doa kalian.”

Lalu kita bertanya: “Bagaimana dengan doaku siang dan malam yang masih belum dikabulkan Allah?”

Jawabannya adalah ketidaktahuan kita bahwa Allah menjawab doa kita lebih daripada yang kita minta. Kita minta A misalnya tanpa kita sadari Allah mengangkat 100 musibah yang akan datang di hari esok. Doa kita hanya hal yang remeh saja tapi Allah Yang Maha Dermawan memberi lebih dari itu.

Wallahu a’lam.

Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 22 September 2013

http://www.muslimedianews.com/2013/09/beragam-cara-allah-menjawab-doa-kita.html
http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2013/09/beragam-cara-allah-menjawab-doa-kita.html

Sekilas Pandang Profil KH. Maimun Zubair

SAMUDERA ILMU YANG TIADA BERTEPI DARI SEORANG KYAI YANG RENDAH HATI


“Sekilas Pandang Profil KH. Maimun Zubair”

Di kalangan para ulama Nahdlatul Ulama, bahtsul masail diniyyah (pembahasan masalah-masalah keagamaan) merupakan forum untuk berdiskusi, bermusyawarah dan memutuskan berbagai masalah keagamaan mutakhir dengan merujuk berbagai dalil yang tercantum dalam kitab-kitab klasik.

Dalam forum seperti itu, diantara pondok pesantren yang amat disegani adalah Pondok Pesantren al-Anwar Desa Karangmangu, Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Bukan saja karena ketangguhan para santrinya dalam penguasaan hukum Islam, tapi juga karena sosok kiai pengasuhnya yang termasyhur sebagai faqih jempolan. Kiai yang dimaksud adalah KH. Maimoen Zubair.

Meski sudah sangat sepuh, alumnus Lirboyo dan Ma’had Syaikh Yasin al-Fadani di Makkah itu masih aktif menebar ilmu dan nasihat kepada umat. Di sela-sela kegiatan mengajarkan kitab Ihya Ulumiddin dan kitab-kitab tasawuf lainnya kepada pada santri senior setiap ba’da Shubuh dan Ashar, Mbah Moen, demikian ia biasa dipanggil, masih menyempatkan diri menghadiri undangan ceramah dari kampung ke kampung, dari masjid ke masjid, dari pesantren ke pesantren.

Dalam berbagai ceramahnya, kearifan Mbah Maimoen selalu tampak. Di sela-sela tausiyahnya tentang ibadah dan muamalah, ia tidak pernah lupa menyuntikkan optimisme kepada umat yang tengah dihantam musibah bertubi-tubi.

Beliau memang ulama yang sangat disegani di kalangan NU, kalangan pesantren dan terutama sekali kalangan kaum muslimin di pesisir utara Jawa. Ceramahnya sarat dengan tinjauan sejarah dan kaya dengan nuansa fiqih, sehingga membuat betah jamaah pengajian untuk berlama-lama menyimaknya.

Kiai sepuh beranak 15 (tujuh putra, delapan putri) ini memang unik. Tidak seperti kebanyakan kiai, ia juga sering diminta memberi ceramah dan fatwa untuk urusan nonpesantren. Rumahnya di tepi jalur Pantura tak pernah sepi dari tokoh-tokoh nasional, terutama dari kalangan NU, yang sowan minta fatwa politik, nasihat atau sekadar silaturahim.

Belum lagi ribuan mantan santrinya yang secara rutin sowan untuk berbagi cerita mengenai kiprah dakwah masing-masing di kampung halaman. Beberapa diantara mereka berhasil menjadi tokoh di daerah masing-masing, seperti al-Habib Abdullah Zaki bin Syaikh al-Kaff (Bandung), KH. Abdul Adzim (Sidogiri, Pasuruan), KH. Hafidz (Mojokerto), KH. Hamzah Ibrahim, KH. Khayatul Makki (Mantrianom, Banjarnegara), KH. Dr. Zuhrul Anam (Leler, Banyumas), KH. M. Hasani Said (Giren, Tegal), al-Habib Shaleh bin Ali Alattas (Pangkah, Tegal) dan masih banyak lagi.

Jika matahari terbit dari timur, maka mataharinya para santri ini terbit dari Sarang. Pribadi yang santun, jumawa serta rendah hati ini lahir pada hari Kamis, 28 Oktober 1928 (dalam hal ini masih terdapat perselisihan). Beliau adalah putra pertama dari Kyai Zubair. Seorang Kyai yang tersohor karena kesederhanaan dan sifatnya yang merakyat. Ibundanya adalah putri dari Kyai Ahmad bin Syu'aib, ulama yang kharismatis yang teguh memegang pendirian.

Mbah Moen adalah insan yang lahir dari gesekan permata dan intan. Dari ayahnya, beliau meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya beliau meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan. Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati seringkali berseberangan dengan ketegasan. Namun dalam pribadi Mbah Moen, semua itu tersinergi secara padan dan seimbang.

Kerasnya kehidupan pesisir tidak membuat sikapnya ikut mengeras. Beliau adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri. Beliau membuktikan bahwa ilmu tidak harus menyulap pemiliknya menjadi tinggi hati ataupun ekslusif dibanding yang lainnya.

Kesehariannya adalah aktualisasi dari semua itu. Walau banyak dikenal dan mengenal erat tokoh-tokoh nasional, tapi itu tidak menjadikannya tercerabut dari basis tradisinya semula. Sementara walau sering kali menjadi peraduan bagi keluh kesah masyarakat, tapi semua itu tetap tidak menghalanginya untuk menyelami dunia luar, tepatnya yang tidak berhubungan dengan kebiasaan di pesantren sekalipun.

Kematangan ilmunya tidak ada satupun yang meragukan. Sebab sedari balita beliau sudah dibesarkan dengan ilmu-ilmu agama. Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh langsung oleh ayahnya untuk menghafal dan memahami ilmu sharaf, nahwu, fiqih, manthiq, balaghah dan bermacam ilmu syara’ yang lain. Dan siapapun zaman itu tidaklah menyangsikan, bahwa ayahnda Kyai Maimoen, Kyai Zubair, adalah murid pilihan dari Syaikh Sa’id al-Yamani serta Syaikh Hasan al-Yamani al- Makky. Dua ulama yang kesohor pada saat itu.

Kecemerlangan demi kecermelangan tidak heran menghiasi langkahnya menuju dewasa. Pada usia yang masih muda, kira-kira 17 tahun, beliau sudah hafal di luar kepala kiab-kitab nadzam, diantaranya al-Jurumiyyah, al-‘Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharatu at-Tauhid, Sullam al-Munauraq serta Rahabiyyah fi al-Faraidh. Seiring pula dengan kepiawaiannya melahap kitab-kitab fiqh madzhab Syafi’i, semisal Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Fath al-Wahhab dan lain sebagainya.

Pada tahun kemerdekaan, beliau memulai pengembaraannya guna ngangsu kaweruh ke Pondok Pesaantren Lirboyo Kediri (MHM), di bawah bimbingan KH. Abdul Karim yang terkenal dengan Mbah Manaf. Selain kepada Mbah Manaf, beliau juga menimba ilmu agama dari KH. Mahrus Ali dan KH. Marzuqi Dahlan.

Di Pondok Lirboyo, pribadi yang sudah cemerlang ini masih diasah pula selama kurang lebih lima tahun. Waktu yang melelahkan bagi orang kebanyakan, tapi tentu masih belum cukup untuk menegak habis ilmu pengetahuan.

Tanpa kenal batas, beliau tetap menceburkan dirinya dalam samudra ilmu-ilmu agama. Sampai pada akhirnya, saat menginjak usia 21 tahun, beliau menuruti panggilan jiwanya untuk mengembara ke Makkah al-Mukarramah. Perjalanan ini diiringi oleh kakeknya sendiri, yakni KH. Ahmad bin Syu’aib.

Tidak hanya satu, semua mata air ilmu agama dihampirinya. Beliau menerima ilmu dari sekian banyak orang ternama dibidangnya, antara lain as-Sayyid al-Habib Alwi bin Abbas al-Maliki, Syaikh Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Kutbi, Syaikh Yasin bin Isa al- Fadani dan masih banyak lagi.

Dua tahun lebih beliau menetap di Makkah al-Mukarramah. Sekembalinya dari Tanah Suci, beliau masih melanjutkan semangatnya untuk “ngangsu kaweruh” yang tak pernah surut. Walau sudah dari Arab, beliau masih meluangkan waktu untuk memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada ulama-ulama besar tanah Jawa saat itu. Diantara yang bisa disebut namanya adalah KH. Baidhawi (mertua beliau), serta KH. Ma’shum, keduanya tinggal di Lasem. Selanjutnya KH. Ali Ma’shum Krapyak Jogjakarta, KH. Bisri Musthofa, Rembang, KH. Abdul Wahhab Hasbullah, KH. Mushlih Mranggen, KH. Abbas, Buntet Cirebon, Syaikh Ihsan, Jampes Kediri dan juga KH. Abal Fadhal, Senori.

Pada tahun 1965 beliau mengabdikan diri untuk berkhidmat pada ilmu-ilmu agama. Hal itu diiringi dengan berdirinya pondok pesantren yang berada di sisi kediaman beliau. Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama al-Anwar. Satu dari sekian pesantren yang ada di Sarang.

Selain mengajar dan berdakwah, ia masih sempat menulis kitab taqrirat (penetapan hukum suatu masalah) dan syarah (komentar atas kitab salaf). Kitab yang dibuatkan taqrirat olehnya, antara lain, Jauharat at-Tauhid, Ba’dh al-‘Amali dan Alfiyah. Sedangkan kitab yang dibuatkan syarah adalah Syarh al-‘Imrithi. Semuanya dicetak dalam jumlah terbatas untuk kalangan Pesantren al-Anwar dan beberapa pesantren lainnya.

Keharuman nama dan kebesaran beliau sudah tidak bisa dibatasi lagi dengan peta geografis. Banyak sudah ulama-ulama dan santri yang berhasil “jadi orang” karena ikut di-gulo wentah dalam pesantren beliau. Sudah terbukti bahwa ilmu-ilmu yang belaiu miliki tidak cuma membesarkan jiwa beliau secara pribadi, tapi juga membesarkan setiap santri yang bersungguh-sungguh mengecap tetesan ilmu dari beliau.

Tiada harapan lain, semoga Allah melindungi beliau demi kemaslahatan kita bersama di dunia dan akherat. Aamiin.

Dari berbagai sumber

Sya’roni As-Samfuriy, Cikampek 10 September 2013

http://www.muslimedianews.com/2013/09/samudera-ilmu-yang-tiada-bertepi-dari.html
http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2013/09/samudera-ilmu-yang-tiada-bertepi-dari.html

https://www.facebook.com/KumpulanFotoUlamaDanHabaib