"Akhlak dalam Berdakwah"
Guru Mulia, al-Habib Umar bin Hafidz, menjelaskan perihal dakwah dengan gamblang dalam kitab karya beliau "Irsyad ad-Da’iyyat".
Dakwah memerlukan mujahadah. Mujahadah untuk mendidik jiwa agar bersabar dan teguh, agar kembali kepada Allah, meneladani Nabi Saw. menyampaikan nasihat, berhijrah, bersikap murah hati dan mengutamakan orang lain. Setiap jenis mujahadah memerlukan pembahasan tersendiri.
Kita harus mengetahui sejarah orang-orang dahulu yang hidup sebelum kita. Dulu Imam Alwi bin Syihabuddin, kakek al-Habib Abdullah Syihab (w. Tarim, 12 Ramadhan 1386H) dan al-Habib Abdullah bin Umar asy-Syathiri, ayahanda al-Habib Salim asy-Syathiri, menjadi pemimpin Rubath Tarim selama 50 tahun (w. Tarim, 29 Jumadil Ula 1361H).
Dalam berdakwah keduanya sering diganggu masyarakat. Syahdan, al-Habib Abdulah bin Umar asy-Syathiri adalah ulama yang saat berwudhu selalu mengamalkan sunnah-sunnahnya. Suatu hari, ketika beliau sedang berwudhu di jabiyah Masjid Ba’alawi, seorang lelaki tua menganggap wudhu beliau terlalu lama. "Was-was apakah ini? Kau membuat kami menunggu terlalu lama!" Kata lelaki tua itu.
Dia lalu membuka pintu jabiyah, masuk ke dalamnya. "Keluar dari sini!" Bentak lelaki tua itu seraya membuang pakaian Habib Abdulah bin Umar asy-Syathiri. Sedangkan al-Habib Abdulah bin Umar asy-Syathiri belum selesai berwudhu. Lalu Habib Abdulah bin Umar asy-Syathiri segera mengambil pakaiannya dan segera pulang ke rumah untuk menyempurnakan wudhunya.
Sesampai al-Habib Abdullah di rumah, beliau bergumam: “Hari ini aku telah melukai hati seseorang di Tarim. Ini adalah aib bagiku. Aku tidak boleh menyusahkan orang!”
Coba perhatikan, jika ada seseorang membuang pakaian kalian dan berkata seperti di atas, apa yang kalian lakukan? Apa yang kalian ucapkan? Apa kalian akan bersikap sopan kepada orang tua yang membuang pakaian kalian, seraya berkata wahai orang yang tidak beradab! Apa yang kalian akan ucapkan? Apakah kalian akan mendatangi orang tua tersebutdan meminta maaf?
Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Tuesday, 1 October 2013
Friday, 27 September 2013
WAHAI HABIB MUNDZIR, KEWAFATANMU INDAH SEPERTI WAFATNYA KAKEKMU RASULULLAH SAW.
Menyaksikan betapa hebat dan indahnya kewafatan Guru Mulia Habibana
Mundzir bin Fuad al-Musawa, tak kuasa diriku menahan air mata dan dada
mendadak sesak. Wahai guru bagi ruhku, wahai idolaku, wahai pujaan
hatiku, wahai pejuang sejati, betapa cepat Allah Swt. memanggilmu. Kami
masih membutuhkan bimbinganmu wahai Habibana.
Cukup... cukup... cukup... wahai yang bersedih sebab perpisahan antara kekasih dengan pujaan hati. Bangkit dan bangkit... pujaan hatimu telah berwasiat: “Silaturrahim batiniah tidak mengenal batasan waktu dan ruang bagi orang-orang muslim yang saling mencintai. Jika aku wafat mendahului kalian, kutitipkan perjuangan dakwah sang Nabi Saw. pada kalian, kita akan abadi bersama dalam kebahagiaan kelak insya Allah tanpa ada perpisahan.”
Aku jadi teringat dengan taushiyah yang disampaikan al-Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa dua tahun lalu di haulnya Syaikh Armia bin KH. Kurdi, Cikura Bojong-Tegal pada tanggal 24 Desember tahun 2011 M berikut ini:
“Sahabat Anas bin Malik Ra. pernah berkata: “Hari Kamis adalah hari saat mulai sakitnya Rasulullah Saw. sebelum wafatnya, di saat itu beliau sakit parah dan pusing berat.”
Rasulullah Saw. bersabda kepada Sayyidatuna Aisyah Ra.: “Duh kepalaku sakit.”
Para sahabat Nabi Saw. berhenti kerja, berhenti dagang, toko tutup, pasar tutup, berkabung atas sakitnya Rasulullah Saw.
Namun hari Senin, tepatnya malam Senin ba’da Isya, beliau Saw. tersadar dari berbaringnya, kemudian bersabda kepada Aisyah Ra.: “Ya Aisyah, apakah para sahabat sudah shalat (Isya)?”
Jawab Aisyah Ra.: “Masih menunggumu wahai Rasulullah.”
Lalu Rasulullah Saw. meminta bantuan kepada Aisyah Ra.: “Bangunkan aku, topang tubuhku untuk sampai ke tempat wudhu.”
Di tengah jalan menuju tempat wudhu beliau Saw. roboh, pingsan lagi. Lalu tengah malamnya beliau Saw. tersadar lagi, bangun lagi dari pingsannya. “Ya Aisyah, apakah orang-orang sudah shalat?”
Jawab Aisyah Ra.: “Mereka masih di luar belum shalat menunggumu wahai Rasul.”
Lantas Rasulullah Saw. pun meminta bantuan lagi kepada Aisyah Ra.: “Ayo bawa aku ke tempat wudhu.”
Sampai di depan tempat wudhu beliau Saw. roboh lagi, pingsan lagi. Sepertiga malam terakhir Rasulullah Saw. bangun tersadar lagi, lalu bertanya seperti pertanyaan sebelumnya: “Orang-orang sudah shalat belum ya Aisyah?”
Jawab Aisyah Ra.: “Mereka masih menunggumu wahai Rasulullah (para sahabat tidak bergerak di tempatnya, ada yang tertidur di dalam menunggunya tetapi tetap tidak bergerak menanti keluarnya Rasulullah Saw.).”
Maka beliau Saw. bersabda: “Perintahkan Sayyidina Abu Bakar untuk mengimami shalat.”
Di saat para sahabat menjalankan shalat, diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, tentang rumahnya Rasulullah Saw. Di shaf pertama Masjid Nabawi itu sudah termasuk pintunya rumah Rasulullah Saw. Para sahabat akan tahu jika Rasulullah masuk Masjid Nabawi. Kalau pintu rumah terbuka, cahaya terang benderang masuk menerangi Masjid Nabawi, berarti pertanda Rasulullah Saw. masuk ke dalam masjid. Pintu itu terbuka dan Rasulullah Saw. melihat keluar. Melihat para sahabat shalat dengan shaf yang rata, maka beliau tersenyum.
Kemudian dalam sebuah riwayat, para sahabat seakan-akan shalatnya hampir batal dikarenakan betapa gembiranya merek melihat Rasulullah Saw. yang sudah berhari-hari tidak keluar (dari rumahnya).
Namun Rasulullah Saw. memberi isyarat: “Jangan ada yang brgerak, teruskan shalat.” Beliau Saw. hanya mmbuka tabir, lalu menutupnya kembali masuk ke dalam rumah.
Brkata Anas bin Malik Ra.: “Tidak pernah kami melihat pemandangan yang lebih indah dan lebih menakjubkan dari wajah Nabi Saw. Dan itu adalah terakhir kali para sahabat melihat Baginda Rasulullah Saw., karena di waktu Dhuha beliau Saw. wafat.”
Di saat waktu Dhuha, Sayyidatuna Aisyah Ra. memangku Rasulullah Saw. yang sedang berbaring sakit: “Engkau mau siwak wahai Rasulullah?”
Rasulullah Saw. hanya mengangguk. Lalu dibasahilah siwak itu oleh Aisyah Ra. dan disiwakkanlah ke bibir Rasulullah Saw. Lalu Rasulullah Saw. bersabda: “Laa Ilaaha Illallaah... Sungguh dalam kematian itu kepedihan.”
Kenapa? Padahal para shalihin dan auliya’ tidak pernah merasakan sakit saat kematian. Karena saat itu Rasulullah Saw.berdoa: “Wahai Allah, pedihkan, sakitkan sakaratul mautku. Ringankan untuk ummatku.”
Maka Rasulullah Saw.berteriak: “Betapa pedihnya sakaratul maut.” Lalu beliau Saw. sendiri yang memegang siwak, lalu tangannya terjatuh di pangkuan Sayyidatuna Aisyah Ra. Dan tersebarlah kabar wafatnya Rasulullah Saw.
Sahabat Mu’adz bin Jabal Ra. yang diperintahkan Rasulullah Saw. menyebarkan Islam di Yaman, telat mendengar kabar wafatnya Rasulullah Saw. Setelah baru mengetahuinya, Sayyidina Mu’adz Ra. langsung lari tergesa-gesa menuju ke Madinah, menuju rumahnya Sayyidatuna Aisyah Ra. Sampai di depan rumahnya Aisyah Ra., Mu’adz bin Jabal Ra. mengetuk pintu, dan dijawab dari dalam rumah oleh Sayyidatuna Aisyah Ra.: “Siapa orang yang datang tengah malam ketuk-ketuk pintu?”
“Aku Mu’adz bin Jabal wahai Ummul Mukminin Aisyah. Tolong ceritakan, aku tidak bisa tahu keadaannya Rasulullah Saw. sampai beliau dimakamkan.” Pinta shabat Mu’adz bin Jabal Ra.
Jawab Sayyidatuna Aisyah Ra.: “Wahai Mu’adz, beruntung beruntung beruntung engkau tidak melihat wajah Rasulullah Saw. saat menahan pedihnya sakaratul maut. Kalau kau melihatnya, maka akan hilang seluruh kenikmatan hidupmu di dunia. Kau tidak akan bisa merasakan nikmatnya makan dan minum serta seluruh kehidupan hingga engkau wafat.”
Jika melihat dahsyatnya Nabi Saw. menahan pedihnya sakaratul maut, untuk apa? Untukku dan kalian ummat Sayyidina Muhammad Saw. agar diringankan sakaratul maut!”
Wahai segenap pecinta Habib Mundzir, bangkit dan bangkitlah. Teruskan perjuangan dan cita-cita beliau dalam menegakkan panji-panji Sayyidina Muhammad Saw., menjadikan Ibukota Jakarta menjadi Kota Sayyidina Muhammad Saw. Tiru dan tirulah akhlak mulia dan semangat beliau dalam berdakwah yang santun nan indah, menyayangi dan mengayomi semua orang tanpa pandang bulu.
Lahu al-Fatihah...
Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 17 September 2013
http://www.muslimedianews.com/2013/09/wahai-habib-mundzir-kewafatanmu-indah.html
http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2013/09/wahai-habib-mundzir-kewafatanmu-indah.html
Cukup... cukup... cukup... wahai yang bersedih sebab perpisahan antara kekasih dengan pujaan hati. Bangkit dan bangkit... pujaan hatimu telah berwasiat: “Silaturrahim batiniah tidak mengenal batasan waktu dan ruang bagi orang-orang muslim yang saling mencintai. Jika aku wafat mendahului kalian, kutitipkan perjuangan dakwah sang Nabi Saw. pada kalian, kita akan abadi bersama dalam kebahagiaan kelak insya Allah tanpa ada perpisahan.”
Aku jadi teringat dengan taushiyah yang disampaikan al-Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa dua tahun lalu di haulnya Syaikh Armia bin KH. Kurdi, Cikura Bojong-Tegal pada tanggal 24 Desember tahun 2011 M berikut ini:
“Sahabat Anas bin Malik Ra. pernah berkata: “Hari Kamis adalah hari saat mulai sakitnya Rasulullah Saw. sebelum wafatnya, di saat itu beliau sakit parah dan pusing berat.”
Rasulullah Saw. bersabda kepada Sayyidatuna Aisyah Ra.: “Duh kepalaku sakit.”
Para sahabat Nabi Saw. berhenti kerja, berhenti dagang, toko tutup, pasar tutup, berkabung atas sakitnya Rasulullah Saw.
Namun hari Senin, tepatnya malam Senin ba’da Isya, beliau Saw. tersadar dari berbaringnya, kemudian bersabda kepada Aisyah Ra.: “Ya Aisyah, apakah para sahabat sudah shalat (Isya)?”
Jawab Aisyah Ra.: “Masih menunggumu wahai Rasulullah.”
Lalu Rasulullah Saw. meminta bantuan kepada Aisyah Ra.: “Bangunkan aku, topang tubuhku untuk sampai ke tempat wudhu.”
Di tengah jalan menuju tempat wudhu beliau Saw. roboh, pingsan lagi. Lalu tengah malamnya beliau Saw. tersadar lagi, bangun lagi dari pingsannya. “Ya Aisyah, apakah orang-orang sudah shalat?”
Jawab Aisyah Ra.: “Mereka masih di luar belum shalat menunggumu wahai Rasul.”
Lantas Rasulullah Saw. pun meminta bantuan lagi kepada Aisyah Ra.: “Ayo bawa aku ke tempat wudhu.”
Sampai di depan tempat wudhu beliau Saw. roboh lagi, pingsan lagi. Sepertiga malam terakhir Rasulullah Saw. bangun tersadar lagi, lalu bertanya seperti pertanyaan sebelumnya: “Orang-orang sudah shalat belum ya Aisyah?”
Jawab Aisyah Ra.: “Mereka masih menunggumu wahai Rasulullah (para sahabat tidak bergerak di tempatnya, ada yang tertidur di dalam menunggunya tetapi tetap tidak bergerak menanti keluarnya Rasulullah Saw.).”
Maka beliau Saw. bersabda: “Perintahkan Sayyidina Abu Bakar untuk mengimami shalat.”
Di saat para sahabat menjalankan shalat, diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, tentang rumahnya Rasulullah Saw. Di shaf pertama Masjid Nabawi itu sudah termasuk pintunya rumah Rasulullah Saw. Para sahabat akan tahu jika Rasulullah masuk Masjid Nabawi. Kalau pintu rumah terbuka, cahaya terang benderang masuk menerangi Masjid Nabawi, berarti pertanda Rasulullah Saw. masuk ke dalam masjid. Pintu itu terbuka dan Rasulullah Saw. melihat keluar. Melihat para sahabat shalat dengan shaf yang rata, maka beliau tersenyum.
Kemudian dalam sebuah riwayat, para sahabat seakan-akan shalatnya hampir batal dikarenakan betapa gembiranya merek melihat Rasulullah Saw. yang sudah berhari-hari tidak keluar (dari rumahnya).
Namun Rasulullah Saw. memberi isyarat: “Jangan ada yang brgerak, teruskan shalat.” Beliau Saw. hanya mmbuka tabir, lalu menutupnya kembali masuk ke dalam rumah.
Brkata Anas bin Malik Ra.: “Tidak pernah kami melihat pemandangan yang lebih indah dan lebih menakjubkan dari wajah Nabi Saw. Dan itu adalah terakhir kali para sahabat melihat Baginda Rasulullah Saw., karena di waktu Dhuha beliau Saw. wafat.”
Di saat waktu Dhuha, Sayyidatuna Aisyah Ra. memangku Rasulullah Saw. yang sedang berbaring sakit: “Engkau mau siwak wahai Rasulullah?”
Rasulullah Saw. hanya mengangguk. Lalu dibasahilah siwak itu oleh Aisyah Ra. dan disiwakkanlah ke bibir Rasulullah Saw. Lalu Rasulullah Saw. bersabda: “Laa Ilaaha Illallaah... Sungguh dalam kematian itu kepedihan.”
Kenapa? Padahal para shalihin dan auliya’ tidak pernah merasakan sakit saat kematian. Karena saat itu Rasulullah Saw.berdoa: “Wahai Allah, pedihkan, sakitkan sakaratul mautku. Ringankan untuk ummatku.”
Maka Rasulullah Saw.berteriak: “Betapa pedihnya sakaratul maut.” Lalu beliau Saw. sendiri yang memegang siwak, lalu tangannya terjatuh di pangkuan Sayyidatuna Aisyah Ra. Dan tersebarlah kabar wafatnya Rasulullah Saw.
Sahabat Mu’adz bin Jabal Ra. yang diperintahkan Rasulullah Saw. menyebarkan Islam di Yaman, telat mendengar kabar wafatnya Rasulullah Saw. Setelah baru mengetahuinya, Sayyidina Mu’adz Ra. langsung lari tergesa-gesa menuju ke Madinah, menuju rumahnya Sayyidatuna Aisyah Ra. Sampai di depan rumahnya Aisyah Ra., Mu’adz bin Jabal Ra. mengetuk pintu, dan dijawab dari dalam rumah oleh Sayyidatuna Aisyah Ra.: “Siapa orang yang datang tengah malam ketuk-ketuk pintu?”
“Aku Mu’adz bin Jabal wahai Ummul Mukminin Aisyah. Tolong ceritakan, aku tidak bisa tahu keadaannya Rasulullah Saw. sampai beliau dimakamkan.” Pinta shabat Mu’adz bin Jabal Ra.
Jawab Sayyidatuna Aisyah Ra.: “Wahai Mu’adz, beruntung beruntung beruntung engkau tidak melihat wajah Rasulullah Saw. saat menahan pedihnya sakaratul maut. Kalau kau melihatnya, maka akan hilang seluruh kenikmatan hidupmu di dunia. Kau tidak akan bisa merasakan nikmatnya makan dan minum serta seluruh kehidupan hingga engkau wafat.”
Jika melihat dahsyatnya Nabi Saw. menahan pedihnya sakaratul maut, untuk apa? Untukku dan kalian ummat Sayyidina Muhammad Saw. agar diringankan sakaratul maut!”
Wahai segenap pecinta Habib Mundzir, bangkit dan bangkitlah. Teruskan perjuangan dan cita-cita beliau dalam menegakkan panji-panji Sayyidina Muhammad Saw., menjadikan Ibukota Jakarta menjadi Kota Sayyidina Muhammad Saw. Tiru dan tirulah akhlak mulia dan semangat beliau dalam berdakwah yang santun nan indah, menyayangi dan mengayomi semua orang tanpa pandang bulu.
Lahu al-Fatihah...
Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 17 September 2013
http://www.muslimedianews.com/2013/09/wahai-habib-mundzir-kewafatanmu-indah.html
http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2013/09/wahai-habib-mundzir-kewafatanmu-indah.html
BERAGAM CARA ALLAH MENJAWAB DOA KITA
Kalam yang masyhur Syaikh Ibnu Athaillah as-Sakandari mengatakan:
“Allah tidak selalu memberikan apa yang kita minta, akan tetapi Allah
akan selalu meberi apa yang kita butuhkan.”
Maulana al-habib M. Luthfi bin Yahya menjelaskan tentang sebuah rahasia (sirr) di balik setiap doa yang kita ucapkan. Kenapa doa yang sering kita lakukan terkadang atau bahkan kebanyakan tak kunjung terijabahi oleh Allah? Bersyukurlah, karena itu pertanda amat sayangnya Allah kepada kita.
Allah Ta’ala berfirman: ادعوني أستجب لكم “Berdoalah padaKu (Allah) maka Aku (Allah) akan menerima kalian”.
Firman Allah tersebut merupakan dasar atau dalil perintah untuk kita berdoa kepada Allah. Lalu apakah doa yang kita panjatkan itu pasti diterima oleh Allah? Doa kita diterima atau tidak itu hak Allah, tapi kita wajib untuk berdoa kepada Allah.
Selanjutnya, yang namanya menerima itu belum tentu mengijabahi. Kita berdoa pasti diterima, akan tetapi belum tentu diijabahi oleh Allah. Tidak semua diberikan atau diijabahi oleh Allah, dan Allah tidak mengijabahi doa itu termasuk bentuk kasih sayang atau rahmat Allah kepada hambaNya.
Doa pun dalam “astajib lakum” itu tetap ada syara’nya, sehingga tidak semua doa diijabahi. Contohnya kita berdoa menjadi Nabi, itu tidak akan diijabahi.
Doa itu ada yang diterima tetapi untuk memenuhi gudang akhirat, ibaratnya kita menabung sehingga tidak diijabahi di dunia. Ada juga doa yang diijabahi di dunia dan akhirat.
Allah Ta’ala itu mengabulkan doa melalui proses syar’an. Seperti begini, Muhammad diangkat menjadi Nabi pada umur 25, lalu umur 40 baru diangkat menjadi Rasul, umur 51 tahun baru diberi perintah shalat melalui isra’ mi’raj, dan ahkamul wudhu’ baru diajarkan di Madinah. Di sini, Nabi Muhammad saja masih diberi proses, tidak langsung.
Kalau kita berdoa lalu Allah tidak mengijabahi doa kita, kita harus bersyukur, berterima kasih pada Allah. Karena bisa jadi, Allah tidak mengijabahi doa kita itu karena kita belum siap menerima doa yang diijabahi oleh Allah, karena ada beberapa hal yang kita belum kuat.
Doa, amalan-amalan, hizib, puasa, melek (saharullayali) dan lain-lain itu untuk membersihkan hati dan menyucikan jiwa (tashfiyatul quluub wa tazkiyatun nafs), sehingga ada godaan di dalamnya, yaitu selalu terjadi perang batin. Contoh: ada orang yang ngaji ke salah satu kiai yang terkenal kealimannya. Lalu orang tersebut timbul dalam hatinya rasa bangga karena bisa dekat dan ngaji kepada sang kiai sehingga merendahkan orang lain. Kalau sudah begitu, itu sebenarnya bala’ atau musibah bagi sang kiai tersebut.
Walhasil, kita harus bersyukur karena kita disayang oleh Allah Ta’ala dengan tidak diberi secara langsung, namun bertahap. Karena kalau diberi langsung kita bisa nggeblag (error) karena tidak kuat.
Al- Habib Munzir bin Fuad Al Musawa menjelaskan perihal firman Allah Swt.: “Mintalah kepadaKu akan Kujawab doa-doa kalian.”
Lalu kita bertanya: “Bagaimana dengan doaku siang dan malam yang masih belum dikabulkan Allah?”
Jawabannya adalah ketidaktahuan kita bahwa Allah menjawab doa kita lebih daripada yang kita minta. Kita minta A misalnya tanpa kita sadari Allah mengangkat 100 musibah yang akan datang di hari esok. Doa kita hanya hal yang remeh saja tapi Allah Yang Maha Dermawan memberi lebih dari itu.
Wallahu a’lam.
Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 22 September 2013
http://www.muslimedianews.com/2013/09/beragam-cara-allah-menjawab-doa-kita.html
http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2013/09/beragam-cara-allah-menjawab-doa-kita.html
Maulana al-habib M. Luthfi bin Yahya menjelaskan tentang sebuah rahasia (sirr) di balik setiap doa yang kita ucapkan. Kenapa doa yang sering kita lakukan terkadang atau bahkan kebanyakan tak kunjung terijabahi oleh Allah? Bersyukurlah, karena itu pertanda amat sayangnya Allah kepada kita.
Allah Ta’ala berfirman: ادعوني أستجب لكم “Berdoalah padaKu (Allah) maka Aku (Allah) akan menerima kalian”.
Firman Allah tersebut merupakan dasar atau dalil perintah untuk kita berdoa kepada Allah. Lalu apakah doa yang kita panjatkan itu pasti diterima oleh Allah? Doa kita diterima atau tidak itu hak Allah, tapi kita wajib untuk berdoa kepada Allah.
Selanjutnya, yang namanya menerima itu belum tentu mengijabahi. Kita berdoa pasti diterima, akan tetapi belum tentu diijabahi oleh Allah. Tidak semua diberikan atau diijabahi oleh Allah, dan Allah tidak mengijabahi doa itu termasuk bentuk kasih sayang atau rahmat Allah kepada hambaNya.
Doa pun dalam “astajib lakum” itu tetap ada syara’nya, sehingga tidak semua doa diijabahi. Contohnya kita berdoa menjadi Nabi, itu tidak akan diijabahi.
Doa itu ada yang diterima tetapi untuk memenuhi gudang akhirat, ibaratnya kita menabung sehingga tidak diijabahi di dunia. Ada juga doa yang diijabahi di dunia dan akhirat.
Allah Ta’ala itu mengabulkan doa melalui proses syar’an. Seperti begini, Muhammad diangkat menjadi Nabi pada umur 25, lalu umur 40 baru diangkat menjadi Rasul, umur 51 tahun baru diberi perintah shalat melalui isra’ mi’raj, dan ahkamul wudhu’ baru diajarkan di Madinah. Di sini, Nabi Muhammad saja masih diberi proses, tidak langsung.
Kalau kita berdoa lalu Allah tidak mengijabahi doa kita, kita harus bersyukur, berterima kasih pada Allah. Karena bisa jadi, Allah tidak mengijabahi doa kita itu karena kita belum siap menerima doa yang diijabahi oleh Allah, karena ada beberapa hal yang kita belum kuat.
Doa, amalan-amalan, hizib, puasa, melek (saharullayali) dan lain-lain itu untuk membersihkan hati dan menyucikan jiwa (tashfiyatul quluub wa tazkiyatun nafs), sehingga ada godaan di dalamnya, yaitu selalu terjadi perang batin. Contoh: ada orang yang ngaji ke salah satu kiai yang terkenal kealimannya. Lalu orang tersebut timbul dalam hatinya rasa bangga karena bisa dekat dan ngaji kepada sang kiai sehingga merendahkan orang lain. Kalau sudah begitu, itu sebenarnya bala’ atau musibah bagi sang kiai tersebut.
Walhasil, kita harus bersyukur karena kita disayang oleh Allah Ta’ala dengan tidak diberi secara langsung, namun bertahap. Karena kalau diberi langsung kita bisa nggeblag (error) karena tidak kuat.
Al- Habib Munzir bin Fuad Al Musawa menjelaskan perihal firman Allah Swt.: “Mintalah kepadaKu akan Kujawab doa-doa kalian.”
Lalu kita bertanya: “Bagaimana dengan doaku siang dan malam yang masih belum dikabulkan Allah?”
Jawabannya adalah ketidaktahuan kita bahwa Allah menjawab doa kita lebih daripada yang kita minta. Kita minta A misalnya tanpa kita sadari Allah mengangkat 100 musibah yang akan datang di hari esok. Doa kita hanya hal yang remeh saja tapi Allah Yang Maha Dermawan memberi lebih dari itu.
Wallahu a’lam.
Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 22 September 2013
http://www.muslimedianews.com/2013/09/beragam-cara-allah-menjawab-doa-kita.html
http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2013/09/beragam-cara-allah-menjawab-doa-kita.html
Sekilas Pandang Profil KH. Maimun Zubair
SAMUDERA ILMU YANG TIADA BERTEPI DARI SEORANG KYAI YANG RENDAH HATI
“Sekilas Pandang Profil KH. Maimun Zubair”
Di kalangan para ulama Nahdlatul Ulama, bahtsul masail diniyyah (pembahasan masalah-masalah keagamaan) merupakan forum untuk berdiskusi, bermusyawarah dan memutuskan berbagai masalah keagamaan mutakhir dengan merujuk berbagai dalil yang tercantum dalam kitab-kitab klasik.
Dalam forum seperti itu, diantara pondok pesantren yang amat disegani adalah Pondok Pesantren al-Anwar Desa Karangmangu, Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Bukan saja karena ketangguhan para santrinya dalam penguasaan hukum Islam, tapi juga karena sosok kiai pengasuhnya yang termasyhur sebagai faqih jempolan. Kiai yang dimaksud adalah KH. Maimoen Zubair.
Meski sudah sangat sepuh, alumnus Lirboyo dan Ma’had Syaikh Yasin al-Fadani di Makkah itu masih aktif menebar ilmu dan nasihat kepada umat. Di sela-sela kegiatan mengajarkan kitab Ihya Ulumiddin dan kitab-kitab tasawuf lainnya kepada pada santri senior setiap ba’da Shubuh dan Ashar, Mbah Moen, demikian ia biasa dipanggil, masih menyempatkan diri menghadiri undangan ceramah dari kampung ke kampung, dari masjid ke masjid, dari pesantren ke pesantren.
Dalam berbagai ceramahnya, kearifan Mbah Maimoen selalu tampak. Di sela-sela tausiyahnya tentang ibadah dan muamalah, ia tidak pernah lupa menyuntikkan optimisme kepada umat yang tengah dihantam musibah bertubi-tubi.
Beliau memang ulama yang sangat disegani di kalangan NU, kalangan pesantren dan terutama sekali kalangan kaum muslimin di pesisir utara Jawa. Ceramahnya sarat dengan tinjauan sejarah dan kaya dengan nuansa fiqih, sehingga membuat betah jamaah pengajian untuk berlama-lama menyimaknya.
Kiai sepuh beranak 15 (tujuh putra, delapan putri) ini memang unik. Tidak seperti kebanyakan kiai, ia juga sering diminta memberi ceramah dan fatwa untuk urusan nonpesantren. Rumahnya di tepi jalur Pantura tak pernah sepi dari tokoh-tokoh nasional, terutama dari kalangan NU, yang sowan minta fatwa politik, nasihat atau sekadar silaturahim.
Belum lagi ribuan mantan santrinya yang secara rutin sowan untuk berbagi cerita mengenai kiprah dakwah masing-masing di kampung halaman. Beberapa diantara mereka berhasil menjadi tokoh di daerah masing-masing, seperti al-Habib Abdullah Zaki bin Syaikh al-Kaff (Bandung), KH. Abdul Adzim (Sidogiri, Pasuruan), KH. Hafidz (Mojokerto), KH. Hamzah Ibrahim, KH. Khayatul Makki (Mantrianom, Banjarnegara), KH. Dr. Zuhrul Anam (Leler, Banyumas), KH. M. Hasani Said (Giren, Tegal), al-Habib Shaleh bin Ali Alattas (Pangkah, Tegal) dan masih banyak lagi.
Jika matahari terbit dari timur, maka mataharinya para santri ini terbit dari Sarang. Pribadi yang santun, jumawa serta rendah hati ini lahir pada hari Kamis, 28 Oktober 1928 (dalam hal ini masih terdapat perselisihan). Beliau adalah putra pertama dari Kyai Zubair. Seorang Kyai yang tersohor karena kesederhanaan dan sifatnya yang merakyat. Ibundanya adalah putri dari Kyai Ahmad bin Syu'aib, ulama yang kharismatis yang teguh memegang pendirian.
Mbah Moen adalah insan yang lahir dari gesekan permata dan intan. Dari ayahnya, beliau meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya beliau meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan. Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati seringkali berseberangan dengan ketegasan. Namun dalam pribadi Mbah Moen, semua itu tersinergi secara padan dan seimbang.
Kerasnya kehidupan pesisir tidak membuat sikapnya ikut mengeras. Beliau adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri. Beliau membuktikan bahwa ilmu tidak harus menyulap pemiliknya menjadi tinggi hati ataupun ekslusif dibanding yang lainnya.
Kesehariannya adalah aktualisasi dari semua itu. Walau banyak dikenal dan mengenal erat tokoh-tokoh nasional, tapi itu tidak menjadikannya tercerabut dari basis tradisinya semula. Sementara walau sering kali menjadi peraduan bagi keluh kesah masyarakat, tapi semua itu tetap tidak menghalanginya untuk menyelami dunia luar, tepatnya yang tidak berhubungan dengan kebiasaan di pesantren sekalipun.
Kematangan ilmunya tidak ada satupun yang meragukan. Sebab sedari balita beliau sudah dibesarkan dengan ilmu-ilmu agama. Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh langsung oleh ayahnya untuk menghafal dan memahami ilmu sharaf, nahwu, fiqih, manthiq, balaghah dan bermacam ilmu syara’ yang lain. Dan siapapun zaman itu tidaklah menyangsikan, bahwa ayahnda Kyai Maimoen, Kyai Zubair, adalah murid pilihan dari Syaikh Sa’id al-Yamani serta Syaikh Hasan al-Yamani al- Makky. Dua ulama yang kesohor pada saat itu.
Kecemerlangan demi kecermelangan tidak heran menghiasi langkahnya menuju dewasa. Pada usia yang masih muda, kira-kira 17 tahun, beliau sudah hafal di luar kepala kiab-kitab nadzam, diantaranya al-Jurumiyyah, al-‘Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharatu at-Tauhid, Sullam al-Munauraq serta Rahabiyyah fi al-Faraidh. Seiring pula dengan kepiawaiannya melahap kitab-kitab fiqh madzhab Syafi’i, semisal Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Fath al-Wahhab dan lain sebagainya.
Pada tahun kemerdekaan, beliau memulai pengembaraannya guna ngangsu kaweruh ke Pondok Pesaantren Lirboyo Kediri (MHM), di bawah bimbingan KH. Abdul Karim yang terkenal dengan Mbah Manaf. Selain kepada Mbah Manaf, beliau juga menimba ilmu agama dari KH. Mahrus Ali dan KH. Marzuqi Dahlan.
Di Pondok Lirboyo, pribadi yang sudah cemerlang ini masih diasah pula selama kurang lebih lima tahun. Waktu yang melelahkan bagi orang kebanyakan, tapi tentu masih belum cukup untuk menegak habis ilmu pengetahuan.
Tanpa kenal batas, beliau tetap menceburkan dirinya dalam samudra ilmu-ilmu agama. Sampai pada akhirnya, saat menginjak usia 21 tahun, beliau menuruti panggilan jiwanya untuk mengembara ke Makkah al-Mukarramah. Perjalanan ini diiringi oleh kakeknya sendiri, yakni KH. Ahmad bin Syu’aib.
Tidak hanya satu, semua mata air ilmu agama dihampirinya. Beliau menerima ilmu dari sekian banyak orang ternama dibidangnya, antara lain as-Sayyid al-Habib Alwi bin Abbas al-Maliki, Syaikh Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Kutbi, Syaikh Yasin bin Isa al- Fadani dan masih banyak lagi.
Dua tahun lebih beliau menetap di Makkah al-Mukarramah. Sekembalinya dari Tanah Suci, beliau masih melanjutkan semangatnya untuk “ngangsu kaweruh” yang tak pernah surut. Walau sudah dari Arab, beliau masih meluangkan waktu untuk memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada ulama-ulama besar tanah Jawa saat itu. Diantara yang bisa disebut namanya adalah KH. Baidhawi (mertua beliau), serta KH. Ma’shum, keduanya tinggal di Lasem. Selanjutnya KH. Ali Ma’shum Krapyak Jogjakarta, KH. Bisri Musthofa, Rembang, KH. Abdul Wahhab Hasbullah, KH. Mushlih Mranggen, KH. Abbas, Buntet Cirebon, Syaikh Ihsan, Jampes Kediri dan juga KH. Abal Fadhal, Senori.
Pada tahun 1965 beliau mengabdikan diri untuk berkhidmat pada ilmu-ilmu agama. Hal itu diiringi dengan berdirinya pondok pesantren yang berada di sisi kediaman beliau. Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama al-Anwar. Satu dari sekian pesantren yang ada di Sarang.
Selain mengajar dan berdakwah, ia masih sempat menulis kitab taqrirat (penetapan hukum suatu masalah) dan syarah (komentar atas kitab salaf). Kitab yang dibuatkan taqrirat olehnya, antara lain, Jauharat at-Tauhid, Ba’dh al-‘Amali dan Alfiyah. Sedangkan kitab yang dibuatkan syarah adalah Syarh al-‘Imrithi. Semuanya dicetak dalam jumlah terbatas untuk kalangan Pesantren al-Anwar dan beberapa pesantren lainnya.
Keharuman nama dan kebesaran beliau sudah tidak bisa dibatasi lagi dengan peta geografis. Banyak sudah ulama-ulama dan santri yang berhasil “jadi orang” karena ikut di-gulo wentah dalam pesantren beliau. Sudah terbukti bahwa ilmu-ilmu yang belaiu miliki tidak cuma membesarkan jiwa beliau secara pribadi, tapi juga membesarkan setiap santri yang bersungguh-sungguh mengecap tetesan ilmu dari beliau.
Tiada harapan lain, semoga Allah melindungi beliau demi kemaslahatan kita bersama di dunia dan akherat. Aamiin.
Dari berbagai sumber
Sya’roni As-Samfuriy, Cikampek 10 September 2013
http://www.muslimedianews.com/2013/09/samudera-ilmu-yang-tiada-bertepi-dari.html
http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2013/09/samudera-ilmu-yang-tiada-bertepi-dari.html
https://www.facebook.com/KumpulanFotoUlamaDanHabaib
“Sekilas Pandang Profil KH. Maimun Zubair”
Di kalangan para ulama Nahdlatul Ulama, bahtsul masail diniyyah (pembahasan masalah-masalah keagamaan) merupakan forum untuk berdiskusi, bermusyawarah dan memutuskan berbagai masalah keagamaan mutakhir dengan merujuk berbagai dalil yang tercantum dalam kitab-kitab klasik.
Dalam forum seperti itu, diantara pondok pesantren yang amat disegani adalah Pondok Pesantren al-Anwar Desa Karangmangu, Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Bukan saja karena ketangguhan para santrinya dalam penguasaan hukum Islam, tapi juga karena sosok kiai pengasuhnya yang termasyhur sebagai faqih jempolan. Kiai yang dimaksud adalah KH. Maimoen Zubair.
Meski sudah sangat sepuh, alumnus Lirboyo dan Ma’had Syaikh Yasin al-Fadani di Makkah itu masih aktif menebar ilmu dan nasihat kepada umat. Di sela-sela kegiatan mengajarkan kitab Ihya Ulumiddin dan kitab-kitab tasawuf lainnya kepada pada santri senior setiap ba’da Shubuh dan Ashar, Mbah Moen, demikian ia biasa dipanggil, masih menyempatkan diri menghadiri undangan ceramah dari kampung ke kampung, dari masjid ke masjid, dari pesantren ke pesantren.
Dalam berbagai ceramahnya, kearifan Mbah Maimoen selalu tampak. Di sela-sela tausiyahnya tentang ibadah dan muamalah, ia tidak pernah lupa menyuntikkan optimisme kepada umat yang tengah dihantam musibah bertubi-tubi.
Beliau memang ulama yang sangat disegani di kalangan NU, kalangan pesantren dan terutama sekali kalangan kaum muslimin di pesisir utara Jawa. Ceramahnya sarat dengan tinjauan sejarah dan kaya dengan nuansa fiqih, sehingga membuat betah jamaah pengajian untuk berlama-lama menyimaknya.
Kiai sepuh beranak 15 (tujuh putra, delapan putri) ini memang unik. Tidak seperti kebanyakan kiai, ia juga sering diminta memberi ceramah dan fatwa untuk urusan nonpesantren. Rumahnya di tepi jalur Pantura tak pernah sepi dari tokoh-tokoh nasional, terutama dari kalangan NU, yang sowan minta fatwa politik, nasihat atau sekadar silaturahim.
Belum lagi ribuan mantan santrinya yang secara rutin sowan untuk berbagi cerita mengenai kiprah dakwah masing-masing di kampung halaman. Beberapa diantara mereka berhasil menjadi tokoh di daerah masing-masing, seperti al-Habib Abdullah Zaki bin Syaikh al-Kaff (Bandung), KH. Abdul Adzim (Sidogiri, Pasuruan), KH. Hafidz (Mojokerto), KH. Hamzah Ibrahim, KH. Khayatul Makki (Mantrianom, Banjarnegara), KH. Dr. Zuhrul Anam (Leler, Banyumas), KH. M. Hasani Said (Giren, Tegal), al-Habib Shaleh bin Ali Alattas (Pangkah, Tegal) dan masih banyak lagi.
Jika matahari terbit dari timur, maka mataharinya para santri ini terbit dari Sarang. Pribadi yang santun, jumawa serta rendah hati ini lahir pada hari Kamis, 28 Oktober 1928 (dalam hal ini masih terdapat perselisihan). Beliau adalah putra pertama dari Kyai Zubair. Seorang Kyai yang tersohor karena kesederhanaan dan sifatnya yang merakyat. Ibundanya adalah putri dari Kyai Ahmad bin Syu'aib, ulama yang kharismatis yang teguh memegang pendirian.
Mbah Moen adalah insan yang lahir dari gesekan permata dan intan. Dari ayahnya, beliau meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya beliau meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan. Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati seringkali berseberangan dengan ketegasan. Namun dalam pribadi Mbah Moen, semua itu tersinergi secara padan dan seimbang.
Kerasnya kehidupan pesisir tidak membuat sikapnya ikut mengeras. Beliau adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri. Beliau membuktikan bahwa ilmu tidak harus menyulap pemiliknya menjadi tinggi hati ataupun ekslusif dibanding yang lainnya.
Kesehariannya adalah aktualisasi dari semua itu. Walau banyak dikenal dan mengenal erat tokoh-tokoh nasional, tapi itu tidak menjadikannya tercerabut dari basis tradisinya semula. Sementara walau sering kali menjadi peraduan bagi keluh kesah masyarakat, tapi semua itu tetap tidak menghalanginya untuk menyelami dunia luar, tepatnya yang tidak berhubungan dengan kebiasaan di pesantren sekalipun.
Kematangan ilmunya tidak ada satupun yang meragukan. Sebab sedari balita beliau sudah dibesarkan dengan ilmu-ilmu agama. Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh langsung oleh ayahnya untuk menghafal dan memahami ilmu sharaf, nahwu, fiqih, manthiq, balaghah dan bermacam ilmu syara’ yang lain. Dan siapapun zaman itu tidaklah menyangsikan, bahwa ayahnda Kyai Maimoen, Kyai Zubair, adalah murid pilihan dari Syaikh Sa’id al-Yamani serta Syaikh Hasan al-Yamani al- Makky. Dua ulama yang kesohor pada saat itu.
Kecemerlangan demi kecermelangan tidak heran menghiasi langkahnya menuju dewasa. Pada usia yang masih muda, kira-kira 17 tahun, beliau sudah hafal di luar kepala kiab-kitab nadzam, diantaranya al-Jurumiyyah, al-‘Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharatu at-Tauhid, Sullam al-Munauraq serta Rahabiyyah fi al-Faraidh. Seiring pula dengan kepiawaiannya melahap kitab-kitab fiqh madzhab Syafi’i, semisal Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Fath al-Wahhab dan lain sebagainya.
Pada tahun kemerdekaan, beliau memulai pengembaraannya guna ngangsu kaweruh ke Pondok Pesaantren Lirboyo Kediri (MHM), di bawah bimbingan KH. Abdul Karim yang terkenal dengan Mbah Manaf. Selain kepada Mbah Manaf, beliau juga menimba ilmu agama dari KH. Mahrus Ali dan KH. Marzuqi Dahlan.
Di Pondok Lirboyo, pribadi yang sudah cemerlang ini masih diasah pula selama kurang lebih lima tahun. Waktu yang melelahkan bagi orang kebanyakan, tapi tentu masih belum cukup untuk menegak habis ilmu pengetahuan.
Tanpa kenal batas, beliau tetap menceburkan dirinya dalam samudra ilmu-ilmu agama. Sampai pada akhirnya, saat menginjak usia 21 tahun, beliau menuruti panggilan jiwanya untuk mengembara ke Makkah al-Mukarramah. Perjalanan ini diiringi oleh kakeknya sendiri, yakni KH. Ahmad bin Syu’aib.
Tidak hanya satu, semua mata air ilmu agama dihampirinya. Beliau menerima ilmu dari sekian banyak orang ternama dibidangnya, antara lain as-Sayyid al-Habib Alwi bin Abbas al-Maliki, Syaikh Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Kutbi, Syaikh Yasin bin Isa al- Fadani dan masih banyak lagi.
Dua tahun lebih beliau menetap di Makkah al-Mukarramah. Sekembalinya dari Tanah Suci, beliau masih melanjutkan semangatnya untuk “ngangsu kaweruh” yang tak pernah surut. Walau sudah dari Arab, beliau masih meluangkan waktu untuk memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada ulama-ulama besar tanah Jawa saat itu. Diantara yang bisa disebut namanya adalah KH. Baidhawi (mertua beliau), serta KH. Ma’shum, keduanya tinggal di Lasem. Selanjutnya KH. Ali Ma’shum Krapyak Jogjakarta, KH. Bisri Musthofa, Rembang, KH. Abdul Wahhab Hasbullah, KH. Mushlih Mranggen, KH. Abbas, Buntet Cirebon, Syaikh Ihsan, Jampes Kediri dan juga KH. Abal Fadhal, Senori.
Pada tahun 1965 beliau mengabdikan diri untuk berkhidmat pada ilmu-ilmu agama. Hal itu diiringi dengan berdirinya pondok pesantren yang berada di sisi kediaman beliau. Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama al-Anwar. Satu dari sekian pesantren yang ada di Sarang.
Selain mengajar dan berdakwah, ia masih sempat menulis kitab taqrirat (penetapan hukum suatu masalah) dan syarah (komentar atas kitab salaf). Kitab yang dibuatkan taqrirat olehnya, antara lain, Jauharat at-Tauhid, Ba’dh al-‘Amali dan Alfiyah. Sedangkan kitab yang dibuatkan syarah adalah Syarh al-‘Imrithi. Semuanya dicetak dalam jumlah terbatas untuk kalangan Pesantren al-Anwar dan beberapa pesantren lainnya.
Keharuman nama dan kebesaran beliau sudah tidak bisa dibatasi lagi dengan peta geografis. Banyak sudah ulama-ulama dan santri yang berhasil “jadi orang” karena ikut di-gulo wentah dalam pesantren beliau. Sudah terbukti bahwa ilmu-ilmu yang belaiu miliki tidak cuma membesarkan jiwa beliau secara pribadi, tapi juga membesarkan setiap santri yang bersungguh-sungguh mengecap tetesan ilmu dari beliau.
Tiada harapan lain, semoga Allah melindungi beliau demi kemaslahatan kita bersama di dunia dan akherat. Aamiin.
Dari berbagai sumber
Sya’roni As-Samfuriy, Cikampek 10 September 2013
http://www.muslimedianews.com/2013/09/samudera-ilmu-yang-tiada-bertepi-dari.html
http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2013/09/samudera-ilmu-yang-tiada-bertepi-dari.html
https://www.facebook.com/KumpulanFotoUlamaDanHabaib
Wednesday, 25 September 2013
SUBHANALLAH , FAKTA UNIK TENTANG KA'BAH
Ka’bah merupakan kiblat shalat bagi seluruh umat Muslim sedunia. Lokasi Ka’bah berada di dalam wilayah Masjidil Haram yang terletak di kota Makkah, Arab Saudi. Musim Haji setiap tahunnya di sini akan terasa dengan datangnya ribuan kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia, di samping juga melaksanakan Umrah maupun berziarah ke sejumlah lokasi bersejarah di sana.
Ka’bah memiliki arti yang sangat penting bagi umat Muslim.
Ka’bah memiliki rahasia tersembunyi, bahkan tempat-tempat sekitar Ka’bah termasuk depan pintu Multazam merupakan tempat mustajab untuk berdoa. Namun, tahukah Anda jika ternyata ada banyak fakta unik di balik kesucian bangunan Ka’bah?
Yuk kita simak.
1. Ka’bah mengeluarkan sinar radiasi
Planet bumi mengeluarkan semacam radiasi, yang kemudian diketahui sebagai medan magnet. Penemuan ini sempat mengguncang National Aeronautics and Space Administration (NASA), badan antariksa Amerika Serikat, dan temuan ini sempat dipublikasikan melalui internet.
Namun entah mengapa, setelah 21 hari tayang, website yang mempublikasikan temuan itu hilang dari dunia maya. Namun demikian, keberadaan radiasi itu tetap diteliti, dan akhirnya diketahui kalau radiasi tersebut berpusat di kota Makkah, tempat di mana Ka’bah berada.
Yang lebih mengejutkan, radiasi tersebut ternyata bersifat infinite (tidak berujung). Hal ini terbuktikan ketika para astronot mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih tetap terlihat. Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’bah di planet bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.
2. Zero Magnetism Area
Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’, artinya adalah apabila seseorang mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.
Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Makkah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Oleh sebab itu, ketika mengelilingi Ka’bah, maka seakan-akan fisik para jamaah haji seperti di-charge ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.
3. Tekanan Gravitasi Tinggi
Ka’bah dan sekitarnya merupakan sebuah area dengan gaya gravitasi yang tinggi. Ini menyebabkan satelit, frekuensi radio ataupun peralatan teknologi lainnya tidak dapat mengetahui isi di dalam Ka’bah.
Selain itu, tekanan gravitasi tinggi juga menyebabkan kadar garam dan aliran sungai bawah tanah tinggi. Inilah yang menyebabkan shalat di Masjidil Haram tidak akan terasa panas meskipun tanpa atap di atasnya.
Tekanan gravitasi yang tinggi memberikan kesan langsung kepada sistem imun tubuh untuk bertindak sebagai pertahanan dari segala macam penyakit.
4. Tempat ibadah tertua
Pembangunan Ka’bah telah dilakukan sejak zaman Nabi Adam AS. Ada pula sumber yang menyebutkan, Ka’bah telah dibangun semenjak 2000 tahun sebelum Nabi Adam diturunkan. Pembangunannya pun memerlukan waktu yang lama karena dilakukan dari masa ke masa.
Menurut sebagian riwayat, Ka’bah sudah ada sebelum Nabi Adam AS diturunkan ke bumi, karena sudah dipergunakan oleh para malaikat untuk tawwaf dan ibadah. Ketika Adam dan Hawa terusir dari Taman Surga, mereka diturunkan ke muka bumi, diantar oleh malaikat Jibril. Peristiwa ini jatuh pada tanggal 10 Muharam.
5. Ka’bah memancarkan energi positif
Ka’bah dijadikan sebagai kiblat oleh orang yang shalat di seluruh dunia, karena orang shalat di seluruh dunia memancarkan energi positif apalagi semua berkiblat kepada Ka’bah. Jadi dapat Anda bayangkan energi positif yang terpusat di Ka’bah, dan juga menjadi pusat gerakan shalat sepanjang waktu karena diketahui waktu shalat mengikuti pergerakan matahari.
Itu artinya, setiap waktu sesuai gerakan matahari selalu ada orang yang sedang shalat. Jika sekarang seseorang di sini melakukan shalat Dhuhur, demikian pula wilayah yang lebih barat akan memasuki waktu Dhuhur dan seterusnya atau dalam waktu yang bersamaan orang Indonesia shalat Dhuhur orang yang lebih timur melakukan shalat Ashar demikian seterusnya.
Memandang Ka’bah dengan ikhlas akan mendatangkan ketenangan jiwa. Aturan untuk tidak mengenakan topi atau tutup kepala saat beribadah haji juga memiliki banyak manfaat. Rambut yang ada di tubuh manusia dapat berfungsi sebagai antena untuk menerima energi positif yang dipancarkan Ka’bah.
Sumber: belantaraindonesia. org
Ka’bah memiliki arti yang sangat penting bagi umat Muslim.
Ka’bah memiliki rahasia tersembunyi, bahkan tempat-tempat sekitar Ka’bah termasuk depan pintu Multazam merupakan tempat mustajab untuk berdoa. Namun, tahukah Anda jika ternyata ada banyak fakta unik di balik kesucian bangunan Ka’bah?
Yuk kita simak.
1. Ka’bah mengeluarkan sinar radiasi
Planet bumi mengeluarkan semacam radiasi, yang kemudian diketahui sebagai medan magnet. Penemuan ini sempat mengguncang National Aeronautics and Space Administration (NASA), badan antariksa Amerika Serikat, dan temuan ini sempat dipublikasikan melalui internet.
Namun entah mengapa, setelah 21 hari tayang, website yang mempublikasikan temuan itu hilang dari dunia maya. Namun demikian, keberadaan radiasi itu tetap diteliti, dan akhirnya diketahui kalau radiasi tersebut berpusat di kota Makkah, tempat di mana Ka’bah berada.
Yang lebih mengejutkan, radiasi tersebut ternyata bersifat infinite (tidak berujung). Hal ini terbuktikan ketika para astronot mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih tetap terlihat. Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’bah di planet bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.
2. Zero Magnetism Area
Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’, artinya adalah apabila seseorang mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.
Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Makkah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Oleh sebab itu, ketika mengelilingi Ka’bah, maka seakan-akan fisik para jamaah haji seperti di-charge ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.
3. Tekanan Gravitasi Tinggi
Ka’bah dan sekitarnya merupakan sebuah area dengan gaya gravitasi yang tinggi. Ini menyebabkan satelit, frekuensi radio ataupun peralatan teknologi lainnya tidak dapat mengetahui isi di dalam Ka’bah.
Selain itu, tekanan gravitasi tinggi juga menyebabkan kadar garam dan aliran sungai bawah tanah tinggi. Inilah yang menyebabkan shalat di Masjidil Haram tidak akan terasa panas meskipun tanpa atap di atasnya.
Tekanan gravitasi yang tinggi memberikan kesan langsung kepada sistem imun tubuh untuk bertindak sebagai pertahanan dari segala macam penyakit.
4. Tempat ibadah tertua
Pembangunan Ka’bah telah dilakukan sejak zaman Nabi Adam AS. Ada pula sumber yang menyebutkan, Ka’bah telah dibangun semenjak 2000 tahun sebelum Nabi Adam diturunkan. Pembangunannya pun memerlukan waktu yang lama karena dilakukan dari masa ke masa.
Menurut sebagian riwayat, Ka’bah sudah ada sebelum Nabi Adam AS diturunkan ke bumi, karena sudah dipergunakan oleh para malaikat untuk tawwaf dan ibadah. Ketika Adam dan Hawa terusir dari Taman Surga, mereka diturunkan ke muka bumi, diantar oleh malaikat Jibril. Peristiwa ini jatuh pada tanggal 10 Muharam.
5. Ka’bah memancarkan energi positif
Ka’bah dijadikan sebagai kiblat oleh orang yang shalat di seluruh dunia, karena orang shalat di seluruh dunia memancarkan energi positif apalagi semua berkiblat kepada Ka’bah. Jadi dapat Anda bayangkan energi positif yang terpusat di Ka’bah, dan juga menjadi pusat gerakan shalat sepanjang waktu karena diketahui waktu shalat mengikuti pergerakan matahari.
Itu artinya, setiap waktu sesuai gerakan matahari selalu ada orang yang sedang shalat. Jika sekarang seseorang di sini melakukan shalat Dhuhur, demikian pula wilayah yang lebih barat akan memasuki waktu Dhuhur dan seterusnya atau dalam waktu yang bersamaan orang Indonesia shalat Dhuhur orang yang lebih timur melakukan shalat Ashar demikian seterusnya.
Memandang Ka’bah dengan ikhlas akan mendatangkan ketenangan jiwa. Aturan untuk tidak mengenakan topi atau tutup kepala saat beribadah haji juga memiliki banyak manfaat. Rambut yang ada di tubuh manusia dapat berfungsi sebagai antena untuk menerima energi positif yang dipancarkan Ka’bah.
Sumber: belantaraindonesia. org
Saturday, 21 September 2013
Meraih Kyusuk Dalam Shalat
Oleh: M. Wachid Romadlon
Shalat adalah sarana seorang muslim berkomunikasi dengan
Allah. Salat yang dilakukan dengan benar akan membuahkan hubungan mesra
antara seorang hamba dengan Rabnya. Maka tidak heran jika kemudian
setiap gerak dan perbuatan seorang muslim akan selalu bernuansa
ketaatan, pribadinya indah karena selalu diliputi oleh cahaya takwa.
Salat yang dilakukan dengan khusyu bak taman indah untuk bercengkrama dengan kekasih, oase bagi jiwa yang kekeringan.
Sebaliknya, salat tanpa khusyu hanyalah seperti jasad tanpa
ruh. Dia hanya menjadi gerakan tanpa makna, bahkan rutinitas yang
membosankan. Salat yang jauh dari khusyu hanya melelahkan jasad, dan
tidak mendatangkan ketenangan, apalagi memberikan pengaruh kebaikan
dalam prilaku. Jadi tidak heran kalau banyak orang yang melaksanakan
salat, tapi juga tetap asyik berbuat kemungkaran dan kerusakan.
Rasulullah Saw. pernah menegaskan bahwa hal yang pertama kali hilang dari umatnya adalah khusyu.
قال النبي صلى الله عليه وسلم: أول شيء يرفع من هذه الأمة الخشوع ، حتى لا ترى فيها خاشعا
Nabi Saw. bersabda, “Hal pertama yang akan diangkat dari
umat ini adalah khusyu, sampai-sampai engkau tidak akan melihat seorang
yang khusyu.” (HR. Thabrani)
sedangkan hal yang paling lama bertahan pada umatnya adalah salat.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” … وَآخِرُ مَا يَبْقَى مِنْهَا الصَّلَاةُ – يُخَيَّلُ إِلَيَّ أَنْ قَالَ -: وَقَدْ يُصَلِّي قَوْمٌ لَا خَلَاقَ لَهُمْ
Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda, “… dan perkara
yang paling lama bertahan adalah salat” terbayang kepadaku beliau
mengatakan, “Bisa jadi suatu kaum salat tapi tidak mendapat pahala
apa-apa” (Musnad Abu Ya`la :6634, didhaifkan oleh seikh Al-Bani dalam
Silsilah Dha`ifah wal Maudhu`ah)
Dengan kata lain, banyak umat Muhammad Saw. di akhir zaman
yang salatnya tanpa ruh, tanpa khusyu, sebatas menggugurkan kewajiban
saja. Pada saat itulah salat tidak lagi menjadi kontrol atas perilaku
keji dan munkar, dia hanya gerakan “senam” tanpa makna.
Perintah untuk menghadirkan khusyu dalam salat
Allah berfirman dalam al-Quran:
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan
(mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat,
kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. Al-Baqarah: 45)
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ * الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ (المؤمنون: 1-2)
“Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. Al-Mukminun: 1-2)
Dalam hadits Rasulullah Saw bersabda:
لَا يَزَالُ اللَّهُ مُقْبِلًا عَلَى الْعَبْدِ مَا لَمْ
يَلْتَفِتْ، فَإِذَا صَرَفَ وَجْهَهُ انْصَرَفَ عَنْهُ (المستدرك على
الصحيحين للحاكم)
“Allah senantiasa menghadap kepada hamba-Nya (ketika salat)
selama hamba tersebut tidak mamalingkan wajahnya. Namun apabila dia
memalingkan wajahnya, Allah juga akan berpaling darinya.” (al-Mustadrak
Imam Hakim)
Ibnul Qayyim pernah mengatakan bahwa seorang hamba
mempunyai dua mauqif (tempat berdiri), kalau mauqif yang pertama baik,
maka yang kedua akan baik, yaitu mauqif salat dan mauqif hisab
(perhitungan amal).
Khusyu Rasulullah Saw, para sahabat, dan tabi`in.
Khusyunya Rasulullah Saw.
Salat bagi Rasulullah Saw. adalah sarana menenagkan jiwa
yang selalu dirindu, sehingga beliu pernah bersabda, “Dan dijadikan
penyejuk hatiku dalam salat.”
Nah, bagaimanakan sifat salat Rasulullah Saw. ?
وعن عبدالله بن الشخير رضي الله عنه قال: «أتيت النبي صلى
الله عليه وسلم وهو يصلي ولجوفه أزيز كأزيز المرجل من البكاء».رواه أبو
داود والنسائي وصححه الألباني.
Dari Abdullah bin Syukhair Ra. beliau menceritakan, “Saya
mendatangi Nabi Saw. saat beliau sedang salat dan dari jauf (daerah
antara tenggorokan sampai ke mulut)ya terdengar suara seperti air
mendidih karena menangis.” (HR. Abu Daud dan Nasa`I, disahihkan oleh
al-Bani)
Atho dan Ibnu Umair pernah bertanya kepada Aisyah r.a.: ”
Ceritakan kepadaku apa yang paling Anda kagumi dari Rasulullah?” Aisyah
sejenak terdiam lalu berkata, ” Suatu malam Rasulullah s.a.w. berdiri
untuk salat, beliau berkata: “Wahai Aisyah biarkan aku menyembah
Tuhanku.” Aku berkata, “Sesungguhnya aku senang bersamamu dan aku senang
menyenangkanmu”. Beliau pun bangun dan salat, lalu menangis dalam
salatnya sehingga janggutnya basah, beliau terus saja manangis sampai
lantai kamarku basah (karena air mata beliau). Lalu berkumandanglah
adzan Bilal untuk subuh, ketika Bilal melihat mata Rasulullah basah
karena menangis, Bilal pun bertanya, ” Wahai Rasulullah, untuk apa
engkau menangis padahal Allah telah mengampunimu dosamu yang lalu dan
yang akan datang?” Rasulullah Saw. menjawab, “Wahai Bilal aku lebih suka
untuk menjadi hamba yang banyak bersyukur. Malam ini diturunkan
kepadaku ayat yang rugilah orang yang membacanya dan tidak menghayatinya
(yaitu ayat Ali Imran 190-194).” (Sahih Ibnu Hibban).)
Khusyu Abu Bakar Ra.
Dari Aisyah Ra. berkata, “Ketika sakit Rasulullah Saw.
semakin parah, Bilal mengumadangkan azan untuk salat. Beliau Saw.
mengatakan, “Perintahkan Abu bakar untuk mengimami salat!” Aku
mengatakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Bakar itu orang yang
cengeng, jika dia menggantikan posisi Anda, dia tidak akan bersuara,
perintahkan umar saja!” tapi beliau berkata lagi, “Perintahkan Abu
Bakar mengimami salat.” (HR. Bukhari Muslim)
Khusyu Umar bin Khattab
Umar yang perkasa itu adalah orang yang sangat mudah
menangis dalam salat dan ketika membaca atau mendengar al-Quran,
sehingga di pipinya tergambar dua garis karena terlalu sering airmatanya
mengalir.
Urwah bin Zubair
Dalam perjalanan dari Madinah ke Damaskus, beliau menjalani
amputasi kaki, tapi tanpa obat bius, beliau memerintahkan agar amputasi
dilaksanakan ketika beliau sujud dalam salat. Akhirnya amputasipun
sukses tanpa bius. Khusyunya mengalahkan sayatan gergaji yang memotong
kakinya.
Sufyan ats-Tsauri
Suatu saat setelah melaksanakan salat maghrib di Masjidil
Haram, Sufyan berdiri lagi untuk melaksanakan salat sunat. Ketika sujud,
dia tenggelam dalam khusyu yang sangat dalam, dan baru mengangkat
kepalanya ketika azan Isya berkumandang.
Ibnu taimiyah
Murid-murid Ibnu Taimiyah selalu bersiap-siap menyangga
tubuh beliau menjelang takbiratul ihram. Tubuh sang Guru ini selalu
bergetar dan hampir jatuh saat takbiratul ihram karena takut kepada
Allah.
Makna khsuyu`
Ibnu al Qayyim al Jauziyah mendevinisikan khusyu dengan merendahkan hati di hadapan (Allah) Yang Maha Mengetahui perkara gaib.
Khusyu hati akan melahirkan khusyu anggota badan. Ketika
hati seorang muslim merasakan bahwa dirinya sedang berdiri di depan Sang
Khalik Swt. tentu seluruh anggota badannya akan mengikutinya dengan
diam penuh kepasrahan. Inilah yang disebut dengan khusyu mukmin. Sa`id
bin al-Musayyab mengatakan,” Kalau hati telah khusyu maka seluruh
anggota badan akan khusyu juga.”
Sebaliknya, ketika hati sibuk dengan perkara dunia maka
gerakan salat akan jauh dari sempurna, jauh dari tumakninah dan setan
semakin bersemangat meniupkan was-was ke dalam hatinya. Inilah yang
disebut oleh Rasulullah Saw. sebagai pencuri salat.
Rasulullah saw. bersabda, ” Seburuk-buruk pencuri adalah
pencuri salat.” “Bagaimana itu wahai Rasulullah?”, tanya sahabat.
“Mereka yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya. (H.R. Ahmad dan
Hakim: sahih)
Khusyu yang harus diwaspadai oleh seorang muslim adalah
khusyu nifaq, yaitu ketika seluruh anggota badan terlihat tenang,
gerakan salat sempurna dan tumakninah, padahal sebenarnya Allah tidak
hadir dalam hatinya. Dia hanya mengharapkan pujian dan penilaian
manusia. Inilah sifat salat orang munafik, penuh dengan kepura-puraan
dan riya.
Langkah meraih khusyu dalam salat
Bagaimanakah cara meraih khusyu yang sebeanrnya? Berikut
ini adalah beberapa tips -yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan
salat- yang akan mengantarkan kepada salat yang khusyu insya Allah.
Segera bersiap ketika azan berkumandang dan lebih awal hadir di Masjid.
Aisyah menuturkan, “Rasulullah Saw. selalu membantu
pekerjaan keluargaya, tapi setiap kali waktu salat tiba beliau segera
beranjak –dalam lafal yang lain- seakan-akan beliau tidak mengenal kami
dan kami tidak mengenal beliau.”
Tuntaskan perkara yang akan mengganggu khusyu, seperti makan, buang air dan lain-lain.
أبو الدرداء يقول: “من فقه الرجل أن ينهي حاجته قبل دخوله في الصلاة؛ ليدخل في الصلاة وقلبه فارغ“
Abu Darda` berkata, “Salah satu bukti pahamnya seseorang
(terhadap agamanya) adalah menuntaskan hajatnya sebelum mulai salat,
sehingga masuk dalam salat dengan hati yang khusyu.”
Rasulullah s.a.w. bersabda, “Tidak baik salat di hadapan
makanan” (Muslim). Riwayat lain mengatakan “Ketika maka malam sudah siap
dan datang waktu salat, maka dahulukan makan malam” (Bukhari).
Hindari pakaian yang bergambar
Disunahkah memakai pakaian yang polos dan tidak banyak
warna. Karena itu akan menarik pandangan orang yang salat dan mengganggu
konsentrasinya dalam salat. Rasulullah pernah salat dan terganggu
dengan kelambu Aisyah yang berwarna-warni lalu beliau meminta untuk
menyingkirkannya. (Bukhari dll.).
Memakai wangi-wangian dan menghindari bau mulut yang tidak sedap.
عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ الدُّنْيَا :
النِّسَاءُ وَالطِّيبُ ، وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ )رواه
النسائي)
Dari Anas Ra. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, ”
Dicintakan kepadaku dari dunia ini: wanita, dan wangi-wangian. Dan
dijadikan penyejuk hatiku dalam salat” (HR. Thabrani)
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من أكل من هذه الشجرة فلا يقربن مسجدنا ، ولا يؤذينا بريح الثوم (رواه مسلم والنسائي وابن ماجه)
Rasulullah Saw. bersabda, “barangsiapa makan dari pohon ini
(maksudnya bawang merah) maka jangan mendekati masjid kami, dan jangan
menyakiti kami dengan bau bawang putih.” (HR. Muslim, Nasai, dan Ibnu
Majah)
Berangkat ke masji dengan tenang dan tidak berlari.
Rasulullah Saw. bersabda,
إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلاَةِ فَلاَ تَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ
تَسْعَوْنَ، وَأْتُوهَا وَعَلَيْكُمُ بالسَّكِينَةُ والوقار، فَمَا
أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ
فِي الصَلاَةٍ مَا كَانَ يَعْمِدُ إِلَى الصَّلاَةِ.(الموطأ )
“Apabila terdengar panggilan salat, janganlah kalian
mendatanginya dengan lari-lari kecil, tapi datanglah dengan tenang.
Ikuti gerakan imam yang kalian dapati, dan adapun yang tertinggal maka
sempurnakanlah. Sesungguhnya kalian dihitung salat, selama sudah berniat
melaksanakannya.” (al-Muwatha`)
Berwudlu dengan sempurna
Imam Zainal Abidin Setiap kali selesai berwudlu, wajahnya
berubah pucat dan tubuhnya bergetar. Ketika ditanya tentang hal itu,
beliau menjawab, “Tahukah engkau, di depan siapa sebantar lagi aku akan
berdiri?”
Mengingat kematian.
Hatim al Asham ketika ditanya bagaimana cara khusyu, dia
mengatakan, “Saya membayangkan surga di sisi kananku, neraka di sisi
kiriku, shirath tepat di bawahku, ka`bah di hadapanku, malaikat maut di
atas kepalaku, dosaku mengelilingiku, pandangan Allah melihat kepadaku,
dan aku mengira itu salat terakhir dalam hidupku, aku hadirkan
keikhlasan semampuku, dan aku pasrah, aku tidak tahu apakah Allah akan
menerimanya.”
Memasang sutrah (pembatas salat).
Sebaiknya ketika salat menghadap pembatas depan, misalnya
dinding atau pembatas yang polos. Tujuannya adalah agar pandangan mata
kita tidak terganggu oleh obyek-obyek visual yang mengganggu
konsentrasi. Rasulullah s.a.w. bersabda, ” Hendaklah kalian ketika salat
menaruh pembatas di depannya agar syetan tidak memutuskan salatnya.”
(Abu Dawud: sahih)
Memaknai takbiratul ihram
Ihram artinya mengharamkan, istilah takbiratul ihram karena
takbir tersebut mengharamkan perkara-perkara boleh dilakukan sebelum
masuk ke dalam salat.
Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas dada.
Rasulullah s.a.w. bersabda,” Kami para nabi diperintahkan
agar dalam salat meletakkan tangan kanan di atas atas tangan kiri
(Thabrani:sahih). Imam Ahmad menjelaskan bahwa tujuannya adalah agar
kita menundukkan diri di depan Allah dengan khusyu’. Ibnu Hajar
mengatakan bahwa sikap seperti itu adalah sikap seorang yang meminta
dengan merendahkan diri dan sikap seperti itu lebih mengantarkan kepada
kekhusyu’an.
Membaca al-Quran dengan tartil.
Memperindah bacaan Quran dan tartil dapat mengantarkan kepada kekhusyu’an. Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ * قُمِ اللَّيْلَ إِلا قَلِيلا * نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلا * أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا* (المزمل:1-4)
“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk
sembahyang) di malam hari kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu)
seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari
seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil).
(QS. Al-Muzammil: 1-4)
Sifat bacaan Nabi Saw.
Umi Salamah berkata bahwa Rasulullah membaca fatihah dalam
salat dengan basmalah, lalu berhenti lalu membaca hamdalah lalu berhenti
lalu membaca arrohmaanirrohiiim dan seterusnya. (Abu Dawud: sahih).
Membaca dengan suara merdu
Rasulullah s.a.w. berpesan, “Perindahlah al-Qur’an dengan
suaramu yang merdu, karena suara yang indah akan memperindah al-Quran”
(Hakim:sahih). Dalam hadist lain beliau bersabda, “Sesungguhnya
seindah-indah suara orang membaca Quran, adalah kalau ia membaca maka
orang-orang yang mendengarnya akan takut kapada Allah. (Ibnu Majah:
sahih).
Membaca dengan tadabbur.
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ (ص: 29)
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh
dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya
mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29)
Dialog antara Allah dan hambanya dalam surat al-Fatihah
Rasulullah Saw. bersabda bahwa Allah Swt berfirman (dalam
hadits qudsi), “Aku membagi salat untuk-Ku dan untuk hamba-Ku menjadi
dua bagian. Setengah untuk-Ku, setengah lainnya untuk hamba-Ku, dan
hamba-Ku apa yang dia minta. Jika hamba membaca “Alhamdulillahi Rabbil
`Alamin” maka Allah Azza wa Jalla mengatakan “Hamba-Ku memujiku”, jika
hamba membaca “ar rahmanirrahim” maka Allah berkata, “hamba-Ku
menyanjung-Ku “, jika hamba membaca “Maliki Yaumiddin” maka Allah
berkata “hamba-Ku mengagungkan-Ku”, jika hamba membaca “Iyyaka na`budu
wa iyyaka nasta`in” maka Allah berkata, “Ayat ini antara Aku dan
hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya”, jika hamba membaca,”
Ihdinash shiratal mustaqim, shiratal lazhina an`amta `alaihim ghairil
maghdhubi `alaihim waladh dhaliin” maka Allah berkata, “Itu semua untuk
hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku itu apa yang dia minta.”
Mengarahkan pandangan mata pada tempat sujud.
Dai Aisyah r.a. Rasulullah s.a.w. ketika salat beliau
menundukkan kepalanya, dan pandangannya tertuju ke tempat sujud.
(Hakim:sahih).
Nah, Bolehkah memejamkan mata dalam salat?
Pendapat sebagian orang yang melakukan salat dengan
memejamkan mata dengan dalih itu bisa mengantarkan kepada kekhusyu’an.
Sesungguhnya itu bertentangan dengan contoh yang diberikan Rasulullah
Saw. Beliau diriwayatkan tidak pernah salat dengan memejamkan mata.
Namun demikian para ulama beda pendapat mengenai masalah itu. Imam Ahmad
mengatakan memejamkah mata saat salat hukumnya makruh karena itu
kebiasaan orang Yahudi. Sebagian ulama mengatakan tidak makruh asalnya
demi tujuan baik, misalnya kalau tidak memejamkan mata terganggu oleh
obyek-obyek visual yang ada di depannya atau di sekitar tempat salat,
maka memejamkan mata pada kondisi seperti itu dianjurkan.
Larangan melihat ke atas
Ketika salat, pandangan tidak boleh mengarah ke atas,
berdasarkan hadits Rasulullah Saw, “Ada orang-orang salat sambil
menghadap ke atas, mudah-mudahan matanya tidak kembali” (HR.
Ahmad:sahih).
Perbanyak doa saat sujud
Berdoa dalam salat, khususnya saat sujud. Rasulullah Saw.
bersabda, “Posisi yang paling dekat antara hamba dan Tuhannya adalah
saat sujud, maka perbanyaklah berdoa ketika sujud” (Muslim).
Tumakninah
Tumakninah artinya tenang dan tidak tergesa-gesa, atau diam
sejenak sehingga dapat menyempurnakan rukun salat, dimana posisi tulang
dan organ tubuh lainnya dapat berada pada tempatnya dengan sempurna.
Tumakninah adalah salah satu rukun salat, sehingga kalau terlewati maka
salat seorang muslim tidak sempurna. Diriwayatkan dalam hadits bahwa
Rasulullah Saw. menyuruh seorang yang salat tergesa-gesa dan tidak
tumakninah. Beliau mengatakan, “Salatlah, karena sebenarnya engkau belum
salat”
Selain beberapa hal di atas, seorang yang ingin meraih
khusyu perlu melakukan beberapa langkah penting, walaupun tidak langsung
berhubungan dengan mekanisme palaksanaan salat, tapi akan sangat
berpengaruh dalam meraih khusyu dalam salat.
Pertama, taubat dan meninggalkan maksiat.
Imam Abu Hanifah berkata kepada muridnya yang sulit bangun malam untuk qiyamullail,” Dosamu membelenggumu).
Hati yang selalu disiram dengan istighfar kepada Allah akan
selalu tersambung kepada Allah, sedangkan hati yang selalu terisi oleh
noda dosa dan maksiat akan sulit tersambung kepada-Nya.
Kedua, latihan dan pembiasaan
Setiap orang akan merasa kesulitan setiap kali manjalani
aktifitas yang baru. Namun semakin lama seseorang berlatih dan
membiasakan diri, maka perkara yang awalnya sulit akan menjadi mudah.
Ketiga, berdoa kepada Allah agar diberikan khusyu dalam salat.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ،
وَمن نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ، ومن عين لا تدمع وَمن عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ ،
وَمن دُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ
“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak
khusyu, dari jiwa yang tidak pernah kenyang, dari mata yang tidak dapat
menangis (karena takut kepada Allah), dari ilmu yang tidak bermanfaat,
dan dari doa yang tidak terkabulkan.”
Link sumber : http://www.kibar-uk.org/2013/04/30/meraih-khusyu-dalam-shalat/
Kenapa dading babi haram
Pertama, babi adalah container (tempat penampung) penyakit.
Beberapa bibit penyakit yang dibawa babi seperti Cacing pita (Taenia solium), Cacing spiral (Trichinella spiralis), Cacing tambang (Ancylostoma duodenale), Cacing paru (Paragonimus pulmonaris), Cacing usus (Fasciolopsis buski), Cacing Schistosoma (japonicum), Bakteri Tuberculosis (TBC), Bakteri kolera (Salmonella choleraesuis), Bakteri Brucellosis suis, Virus cacar (Small pox), Virus kudis (Scabies), Parasit protozoa Balantidium coli, Parasit protozoa Toxoplasma gondii
Kedua, daging babi empuk.
Meskipun empuk dan terkesan lezat, namun karena banyak mengandung lemak, daging babi sulit dicerna. Akibatnya, nutrien (zat gizi) tidak dapat dimanfaatkan tubuh.
Ketiga, menurut Prof. A.V. Nalbandov (Penulis buku : Adap-tif Physiology on Mammals and Birds) menyebutkan bahwa kantung urine (vesica urinaria) babi sering bocor, sehingga urine babi merembes ke dalam daging. Akibatnya, daging babi tercemar kotoran yang mestinya dibuang bersama urine.
Keempat, Lemak punggung (back fat) tebal dan mudah rusak oleh proses ransiditas oksidatif (tengik), tidak layak dikonsumsi manusia.
Kelima, babi merupakan carrier virus/penyakit Flu Burung (Avian influenza) dan Flu Babi (Swine Influenza).
Di dalam tubuh babi, virus AI (H1N1 dan H2N1) yang semula tidak ganas bermutasi menjadi H1N1/H5N1 yang ganas/mematikan dan menular ke manusia.
Keenam, menurut Prof Abdul Basith Muh. Sayid berbagai penyakit yang ditularkan babi seperti, pengerasan urat nadi, naiknya tekanan darah, nyeri dada yang mencekam (Angina pectoris), radang (nyeri) pada sendi-sendi tubuh.
Ketujuh, Dr. Murad Hoffman (Doktor ahli & penulis dari Jerman) menulis bahwa Memakan babi yang terjangkiti cacing babi tidak hanya berbahaya, tapi juga menyebabkan peningkatan kolesterol tubuh dan memperlambat proses penguraian protein dalam tubuh.
Ditambah cacing babi Mengakibatkan penyakit kanker usus, iritasi kulit, eksim, dan rheumatic serta virus-virus influenza yang berbahaya hidup dan berkembang di musim panas karena medium (dibawa oleh) babi.
Kedelapan, penelitian ilmiah di Cina dan Swedia menyebutkan bahwa daging babi merupakan penyebab utama kanker anus dan usus besar.
Kesembilan, Dr Muhammad Abdul Khair (penulis buku : Ijtihaadaat fi at Tafsir Al Qur’an al Kariim) menuliskan bahwa daging babi mengandung benih-benih cacing pita dan Trachenea lolipia. Cacing tersebut berpindah kepada manusia yang mengkonsumsi daging babi.
Kesepuluh, DNA babi mirip dengan manusia, sehingga sifat buruk babi dapat menular ke manusia. Beberapa sifat buruk babi seperti, Binatang paling rakus, kotor, dan jorok di kelasnya, Kemudian kerakusannya tidak tertandingi hewan lain, serta suka memakan bangkai dan kotorannya sendiri dan Kotoran manusia pun dimakannya. Sangat suka berada di tempat yang basah dan kotor. Untuk memuaskan sifat rakusnya, bila tidak ada lagi yang dimakan, ia muntahkan isi perutnya, lalu dimakan kembali. Lebih lanjut Kadang ia mengencingi pakannya terlebih dahulu sebelum dimakan.
Selain kesepuluh alasan diatas ternyata ada beberapa penyakit lain yang dapat disebabkan oleh babi seperti kholera babi (penyakit menular berba-haya yang disebabkan bakteri), keguguran nanah (disebabkan bakteri prosilia babi), kulit kemerahan yang ganas (mematikan) dan menahun, Penyakit pengelupasan kulit, dan Benalu Askaris, yang berbahaya bagi manusia
sumber : www.kibar-uk.org
Beberapa bibit penyakit yang dibawa babi seperti Cacing pita (Taenia solium), Cacing spiral (Trichinella spiralis), Cacing tambang (Ancylostoma duodenale), Cacing paru (Paragonimus pulmonaris), Cacing usus (Fasciolopsis buski), Cacing Schistosoma (japonicum), Bakteri Tuberculosis (TBC), Bakteri kolera (Salmonella choleraesuis), Bakteri Brucellosis suis, Virus cacar (Small pox), Virus kudis (Scabies), Parasit protozoa Balantidium coli, Parasit protozoa Toxoplasma gondii
Kedua, daging babi empuk.
Meskipun empuk dan terkesan lezat, namun karena banyak mengandung lemak, daging babi sulit dicerna. Akibatnya, nutrien (zat gizi) tidak dapat dimanfaatkan tubuh.
Ketiga, menurut Prof. A.V. Nalbandov (Penulis buku : Adap-tif Physiology on Mammals and Birds) menyebutkan bahwa kantung urine (vesica urinaria) babi sering bocor, sehingga urine babi merembes ke dalam daging. Akibatnya, daging babi tercemar kotoran yang mestinya dibuang bersama urine.
Keempat, Lemak punggung (back fat) tebal dan mudah rusak oleh proses ransiditas oksidatif (tengik), tidak layak dikonsumsi manusia.
Kelima, babi merupakan carrier virus/penyakit Flu Burung (Avian influenza) dan Flu Babi (Swine Influenza).
Di dalam tubuh babi, virus AI (H1N1 dan H2N1) yang semula tidak ganas bermutasi menjadi H1N1/H5N1 yang ganas/mematikan dan menular ke manusia.
Keenam, menurut Prof Abdul Basith Muh. Sayid berbagai penyakit yang ditularkan babi seperti, pengerasan urat nadi, naiknya tekanan darah, nyeri dada yang mencekam (Angina pectoris), radang (nyeri) pada sendi-sendi tubuh.
Ketujuh, Dr. Murad Hoffman (Doktor ahli & penulis dari Jerman) menulis bahwa Memakan babi yang terjangkiti cacing babi tidak hanya berbahaya, tapi juga menyebabkan peningkatan kolesterol tubuh dan memperlambat proses penguraian protein dalam tubuh.
Ditambah cacing babi Mengakibatkan penyakit kanker usus, iritasi kulit, eksim, dan rheumatic serta virus-virus influenza yang berbahaya hidup dan berkembang di musim panas karena medium (dibawa oleh) babi.
Kedelapan, penelitian ilmiah di Cina dan Swedia menyebutkan bahwa daging babi merupakan penyebab utama kanker anus dan usus besar.
Kesembilan, Dr Muhammad Abdul Khair (penulis buku : Ijtihaadaat fi at Tafsir Al Qur’an al Kariim) menuliskan bahwa daging babi mengandung benih-benih cacing pita dan Trachenea lolipia. Cacing tersebut berpindah kepada manusia yang mengkonsumsi daging babi.
Kesepuluh, DNA babi mirip dengan manusia, sehingga sifat buruk babi dapat menular ke manusia. Beberapa sifat buruk babi seperti, Binatang paling rakus, kotor, dan jorok di kelasnya, Kemudian kerakusannya tidak tertandingi hewan lain, serta suka memakan bangkai dan kotorannya sendiri dan Kotoran manusia pun dimakannya. Sangat suka berada di tempat yang basah dan kotor. Untuk memuaskan sifat rakusnya, bila tidak ada lagi yang dimakan, ia muntahkan isi perutnya, lalu dimakan kembali. Lebih lanjut Kadang ia mengencingi pakannya terlebih dahulu sebelum dimakan.
Selain kesepuluh alasan diatas ternyata ada beberapa penyakit lain yang dapat disebabkan oleh babi seperti kholera babi (penyakit menular berba-haya yang disebabkan bakteri), keguguran nanah (disebabkan bakteri prosilia babi), kulit kemerahan yang ganas (mematikan) dan menahun, Penyakit pengelupasan kulit, dan Benalu Askaris, yang berbahaya bagi manusia
sumber : www.kibar-uk.org
Subscribe to:
Posts (Atom)




