Rasulullah Muhammad Saw — Sayyidatina Fathimah Azzahro+Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib–Imam Husein ash-Sibth — Imam Ali Zainal Abidin — Imam Muhammad al-Baqir–Imam Ja’far Shadiq — Imam Ali al-Uraidhi Imam Muhammad an-Naqib — Imam Isa an-Naqib ar-Rumi — Imam Ahmad Al-Muhajir — Imam Ubaidullah — Imam Alwy Ba’Alawy — Imam Muhammad — Imam Alwy — Imam Ali Khali Qasam — Imam Muhammad Shahib Marbath — Imam Ali — Imam Al-Faqih al-Muqaddam Muhammd Ba’Alawy — Imam Alwy al-Ghuyyur — Imam Ali Maula Darrak — Imam Muhammad Maulad Dawileh — Imam Alwy an-Nasiq — Al-Habib Ali — Al-Habib Alwy — Al-Habib Hasan– Al-Imam Yahya Ba’Alawy — Al-Habib Ahmad — Al-Habib Syekh — Al-Habib Muhammad — Al-Habib Thoha — Al-Habib Muhammad al-Qodhi — Al-Habib Thoha — Al-Habib Hasan — Al-Habib Thoha — Al-Habib Umar — Al-Habib Hasyim — Al-Habib Ali — Al-Habib Muhammad Luthfi
Saturday, 5 October 2013
Profil Habib Luthfi bin Yahya
Rasulullah Muhammad Saw — Sayyidatina Fathimah Azzahro+Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib–Imam Husein ash-Sibth — Imam Ali Zainal Abidin — Imam Muhammad al-Baqir–Imam Ja’far Shadiq — Imam Ali al-Uraidhi Imam Muhammad an-Naqib — Imam Isa an-Naqib ar-Rumi — Imam Ahmad Al-Muhajir — Imam Ubaidullah — Imam Alwy Ba’Alawy — Imam Muhammad — Imam Alwy — Imam Ali Khali Qasam — Imam Muhammad Shahib Marbath — Imam Ali — Imam Al-Faqih al-Muqaddam Muhammd Ba’Alawy — Imam Alwy al-Ghuyyur — Imam Ali Maula Darrak — Imam Muhammad Maulad Dawileh — Imam Alwy an-Nasiq — Al-Habib Ali — Al-Habib Alwy — Al-Habib Hasan– Al-Imam Yahya Ba’Alawy — Al-Habib Ahmad — Al-Habib Syekh — Al-Habib Muhammad — Al-Habib Thoha — Al-Habib Muhammad al-Qodhi — Al-Habib Thoha — Al-Habib Hasan — Al-Habib Thoha — Al-Habib Umar — Al-Habib Hasyim — Al-Habib Ali — Al-Habib Muhammad Luthfi
LARANGAN MEMUKUL ANAK KECIL YANG SEDANG MENANGIS
Rasulullah SAW bersabda : Janganlah kamu memukul anak- anak kamu di
sebabkan mereka menangis dalam masa setahun. Karena pada empat bulan
pertama kelahirannya Ia bersyahadat LAA ILAAHA ILLALLAH. Pada empat
bulan kedua pula ia berselawat ke atas Nabi SAW Dan pada empat bulan
seterusnya pula ia mendoakan kedua ayah bunda nya. ( H.R. Abdullah Ibnu
Umar r.a.)
Baginda Rasulullah SAW menjelaskan bahwa tangisan
anak di waktu kecil pada bulan pertama adalah tanda ia bertauhid kepada
Tuhan Nya dan empat bulan kedua pula ia membacakan selawat kepada Nabi
nya dan empat bulan seterus nya ia memohon istighfar untuk kedua ayah
bunda nya.
Rasulullah SAW
Bersabda : Anak-anak sebelum sampai ia baligh maka apa-apa yang di
perbuat nya daripada kebaikan maka di tuliskan untuknya dan kedua ibu
bapaknya.
Dan apa yang di perbuat nya daripada kejahatan maka
tiadalah di tulis untuk nya dan tidak pula di tulis untuk kedua ibu
bapaknya. Apabila ia telah baligh maka berlakulah yang di tulis itu
atasnya ia itu segala amal baik atau buruknya. ( H.R.Imam Anas bin Malik
r.a.)
Sabda Rasulullah SAW ;"Siapa yang menyampaikan satu ilmu
dan orang membaca mengamalkannya maka dia akan beroleh pahala walaupun
sudah tiada." (HR. Muslim)
sumber artikel https://www.facebook.com/IslamicMotivationIndonesia
------------------------------ ------------------------------ ---------------
Insya Allah bisa bermanfa'at
Friday, 4 October 2013
Mengapa hanya menyebut nama Muhammad dan Ibrahim dalam shalawat
“Ya, Allah curahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, curahkanlah barakah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan barakah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Thursday, 3 October 2013
SUNAN GUNUNG JATI
Dalam usia yang begitu muda Syarif Hidayatullah ditinggal mati oleh
ayahnya. Ia ditunjuk untuk menggantikan kedudukannya sebagai Raja Mesir
tapi anak yang masih berusia dua puluh tahun itu tidak mau. Dia dan
ibunya bermaksud pulang ke tanah jawa berdakwah di Jawa Barat. Kedudukan
ayahnya itu kemudian diberikan kepada adiknya yaitu Syarif Nurullah.
Sewaktu
berada di negeri Mesir Syarif Hidayatullah berguru kepada beberapa ulam
besar didaratan timur tengah. Dalam usia muda itu ilmunya sudah sangat
banyak, maka ketika pulang ke tanah leluhurnya yaitu Jawa ia tidak
merasa kesulitan melakukan dakwah.
SUNAN MURIA
Beliau adalah putera Sunan Kalijaga
dengan Dewi Saroh. Nama aslinya Raden Umar Said. Seperti ayahnya, dalam
berdakwah beliau menggunakan cara halus, ibarat mengambil ikan tidak
sampai mengeruhkan airnya. Itulah cara yang ditempuh untuk menyiarkan
agama Islam di sekitar Gunung Muria.Tempat tinggal beliau di gunung Muria yang salah satu puncaknya bernama Colo. Letaknya disebelah utara kota Kudus. Sasaran dakwah beliau adalah para pedagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Beliau lah satu-satu wali yang tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan Islam. Dan beliau pula yang menciptakan tembang Sinom dan Kinanti.
SUNAN DRAJAD
Nama asli Sunan Drajad adalah Raden Qosim, beliau putera Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati dan merupakan adik dari Raden Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang.
Raden Qosim yang sudah mewarisi ilmu dari ayahnya kemudian diperintah untuk berdakwah di sebelah barat Gresik yaitu daerah kosong dari ulama besar antara Tuban dan Gresik.
Raden Qosim memulai perjalanannya dengan naik perahu dari Gresik sesudah singgah ditempat Sunan Giri.
Dalam perjalanan ke arah Barat itu perahu beliau tiba-tiba dihantam
oleh ombak yang besar sehingga menabrak karang dan hancur. Hampir saja
Raden Qosim kehilangan jiwanya. Tapi bila Tuhan belum menentukan ajal
seseorang biar bagaimanapun hebatnya kecelakaan pasti dia akan selamat,
demikian pula halnya dengan Raden Qosim. Secara kebetulan seekor ikan
besar yaitu ikan talang datang kepada Raden Qosim dan beliau pun menaiki
punggung ikan tersebut hingga selamat ke tepi pantai.
SUNAN KUDUS
Menurut
salah satu sumber, Sunan Kudus adalah putera Raden Usman haji yang
bergelar Sunan Ngudung dari Jipang Panolan. Ada yang mengatakan letak
Jipang Panolan ini disebelah utara kota Blora. Di dalam babad tanah
jawa, disebutkan bahwa Sunan Ngudung pernah memimpin pasukan Majapahit.
Sunan ngudung selaku senopati Demak berhadapan dengan Raden Husain atau
Adipati Terung dari Majapahit. Dalam pertempuran yang sengit dan saling
mengeluarkan aji kesaktian itu Sunan Ngudung gugur sebagai pahlawan
sahid. Kedudukannya sebagai senopati Demak kemudian digantikan oleh sunan Kudus yang puteranya sendiri yang bernama asli Ja’far Sodiq.SUNAN KALIJAGA
Tumenggung
Wilakita seringkali disebut Raden Sahur, walau dia termasuk keturunan
Ranggawale yang beragama Hindu tapi Raden Sahur sendiri sudah masuk
agama Islam.
Sejak
kecil Raden Said sudah diperkenalkan kepada agama Islam oleh guru agama
Kadipaten Tuban. Tetapi karena melihat keadaan sekitar atau lingkungan
yang kontradiksi dengan kehidupan rakyat jelata maka jiwa Raden Said
berontak.
Gelora
jiwa muda Raden Said seakan meledak-ledak manakala melihat praktek
oknum pejabat kadipaten Tuban disaat menarik pajak pada penduduk atau
rakyat jelata.
SUNAN BONANG
Dari
berbagai sumber disebutkan bahwa Sunan Bonang itu nama aslinya adalah
Syekh Maulana Makdum Ibrahim. Putera Sunan Ampel dan Dewi Condrowati
yang sering disebut Nyai Ageng Manila.
Ada yang mengatakan Dewi Condrowati itu adalah puteri Prabu Kertabumi.
Dengan demikian Raden Makdum adalah seorang Pangeran Majapahit karena
ibunya adalah puteri Raja Majapahit dan ayahnya menantu Raja Majapahit.
Sebagai
seorang wali yang disegani dan dianggap Mufti atau pemimpin agama se
tanah jawa, tentu saja Sunan Ampel mempunyai ilmu yang sangat tinggi.
Sejak kecil Raden Makdum Ibrahim sudah diberi pelajaran agama Islam
secara tekun dan disiplin.
SUNAN GIRI
Di
awal abad 14 M, kerajaan Blambangan diperintah oleh Prabu Mena Sembuyu,
salah seorang keturunan Prabu Hayam Wuruk dari kerajaan Majapahit. Raja
dan rakyatnya memeluk agam Hindu dan sebagian ada yang memeluk agama
Budha.
Pada
suatu hari Parbu Menak Sembuyu gelisah, demikian pula permaisurinya
pasalnya puteri mereka satu-satunya jatuh selama beberapa bulan. Sudah
diusahakan mendatangkan tabib dan dukun untuk mengobati tapi sang puteri
belum sembuh juga.
Memang
pada waktu itu kerajaan Blambangan sedang dilanda wabah penyakit.
Banyak sudah korban berjatuhan. Menurut gambaran babad tanah jawa esok
sakit sorenya mati. Seluruh penduduk sangat prihatin, berduka dan hampir
semua kegiatan sehari-hari menjadi macet total.
SUNAN AMPEL
Tahukah anda dengan daerah Bukhara? Bukhara terletak di Samarqand. Sejak
dahulu daerah Samarqand dikenal sebagai daerah Islam yang melahirkan
ulama-ulama besar seperti Imam Bukhari yang mashur sebagai pewaris
hadist shahih.
Disamarqand
ini ada seorang ulama besar bernama Syekh Jamalluddin Jumadil Kubra,
seorang Ahlussunnah bermazhab syafi’I, beliau mempunyai seorang putera
bernama Ibrahim, dan karena berasal dari samarqand maka Ibrahim kemudian
mendapatkan tambahan nama Samarqandi. Orang jawa sukar menyebutkan
Samarqandi maka mereka hanya menyebutnya sebagai Syekh Ibrahim
Asmarakandi.
Syekh
Ibrahim Asmarakandi ini diperintah oleh ayahnya yaitu Syekh Jamalluddin
Jumadil Kubra untuk berdakwah ke negara-negara Asia. Perintah inilah
yang dilaksanakan dan kemudian beliau diambil menantu oleh Raja Cempa,
dijodohkan dengan puteri Raja Cempa yang bernama Dewi Candrawulan.
SYEKH MAULANA MALIK IBRAHIM
Jauh
sebelum Maulana Malik Ibrahim datang ke Pulau Jawa. Sebenarnya sudah
ada masyarakat Islam di daerah-daerah pantai utara. Termasuk di desa
Leran. Hal itu bisa dibuktikan dengan adanya makam seorang wanita
bernama Fatimah Binti Maimun yang meninggal pada tahun 475 Hijriyah atau
pada tahun 1082 M.
Jadi
sebelum jaman Wali Songo, Islam sudah ada di pulau Jawa, yaitu daerah
Jepara dan Leren. Tetapi Islam pada masa itu masih belum berkembang
secara besar-besaran.
Maulana
Malik Ibrahim yang lebih dikenal penduduk setempat sebagai Kakek Bantal
itu diperkirakan datang ke Gresik pada tahun 1404 M. Beliau berdakwah
di Gresik hingga akhir wafatnya yaitu pada tahun 1419 M.
Pada
masa itu kerajaan yang berkuasa di Jawa Timur adalah Majapahit. Raja
dan rakyatnya kebanyakan masih beragama Hindu atau Budha. Sebagian
rakyat Gresik sudah ada yang beragam Islam, tetapi masih banyak yang
beragama Hindu atau bahkan tidak beragama sama sekali.
Tuesday, 1 October 2013
Mengenal Imam Muslim
Kita semua
tentu mengetahui bahwa sumber hukum utama dalam Islam adalah Al Qur’an dan
hadits Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam. Tentang Al Qur’an, tentu
tidak perlu diragukan lagi kebenaran dan keontetikannya. Namun berkaitan dengan
hadits Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam, banyak sekali upaya dari
musuh-musuh Islam serta orang-orang munafik yang ingin merancukan ajaran Islam
dengan membuat hadits palsu, yaitu hadits yang diklaim sebagai ucapan
Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam padahal sebenarnya bukan. Seperti
Abdul Karim bin Abi Auja’, ia mengaku perbuatannya sebelum ia dihukum mati
dengan berkata: “Demi Allah, aku telah memalsukan hadits sebanyak 4000 hadits.
Saya halalkan yang haram dan saya haramkan yang halal”. Namun alhamdulillah,
Allah Ta’ala menjaga kemurnian agama-Nya dengan memunculkan para ulama
pakar hadits yang berupaya memisahkan hadits shahih dengan hadits lemah dan
palsu. Dan upaya ini bukanlah pekerjaan yang mudah dan selesai dalam sekejap.
Bahkan memerlukan penelitian yang panjang, ketelitian yang tajam, kecerdasan
akal yang tinggi, hafalan yang kokoh, serta pemahaman yang mantap terhadap Al
Qur’an dan hadits. Maka seorang muslim yang memahami hal ini sepatutnya ia
menghargai dan bahkan kagum atas jasa para pakar hadits umat Islam yang telah
memberikan kontribusi besar bagi agama ini.
KETIKA PAKAIAN SEORANG ULAMA DIBUANG
"Akhlak dalam Berdakwah"
Guru Mulia, al-Habib Umar bin Hafidz, menjelaskan perihal dakwah dengan gamblang dalam kitab karya beliau "Irsyad ad-Da’iyyat".
Dakwah memerlukan mujahadah. Mujahadah untuk mendidik jiwa agar bersabar dan teguh, agar kembali kepada Allah, meneladani Nabi Saw. menyampaikan nasihat, berhijrah, bersikap murah hati dan mengutamakan orang lain. Setiap jenis mujahadah memerlukan pembahasan tersendiri.
Kita harus mengetahui sejarah orang-orang dahulu yang hidup sebelum kita. Dulu Imam Alwi bin Syihabuddin, kakek al-Habib Abdullah Syihab (w. Tarim, 12 Ramadhan 1386H) dan al-Habib Abdullah bin Umar asy-Syathiri, ayahanda al-Habib Salim asy-Syathiri, menjadi pemimpin Rubath Tarim selama 50 tahun (w. Tarim, 29 Jumadil Ula 1361H).
Dalam berdakwah keduanya sering diganggu masyarakat. Syahdan, al-Habib Abdulah bin Umar asy-Syathiri adalah ulama yang saat berwudhu selalu mengamalkan sunnah-sunnahnya. Suatu hari, ketika beliau sedang berwudhu di jabiyah Masjid Ba’alawi, seorang lelaki tua menganggap wudhu beliau terlalu lama. "Was-was apakah ini? Kau membuat kami menunggu terlalu lama!" Kata lelaki tua itu.
Dia lalu membuka pintu jabiyah, masuk ke dalamnya. "Keluar dari sini!" Bentak lelaki tua itu seraya membuang pakaian Habib Abdulah bin Umar asy-Syathiri. Sedangkan al-Habib Abdulah bin Umar asy-Syathiri belum selesai berwudhu. Lalu Habib Abdulah bin Umar asy-Syathiri segera mengambil pakaiannya dan segera pulang ke rumah untuk menyempurnakan wudhunya.
Sesampai al-Habib Abdullah di rumah, beliau bergumam: “Hari ini aku telah melukai hati seseorang di Tarim. Ini adalah aib bagiku. Aku tidak boleh menyusahkan orang!”
Coba perhatikan, jika ada seseorang membuang pakaian kalian dan berkata seperti di atas, apa yang kalian lakukan? Apa yang kalian ucapkan? Apa kalian akan bersikap sopan kepada orang tua yang membuang pakaian kalian, seraya berkata wahai orang yang tidak beradab! Apa yang kalian akan ucapkan? Apakah kalian akan mendatangi orang tua tersebutdan meminta maaf?
Guru Mulia, al-Habib Umar bin Hafidz, menjelaskan perihal dakwah dengan gamblang dalam kitab karya beliau "Irsyad ad-Da’iyyat".
Dakwah memerlukan mujahadah. Mujahadah untuk mendidik jiwa agar bersabar dan teguh, agar kembali kepada Allah, meneladani Nabi Saw. menyampaikan nasihat, berhijrah, bersikap murah hati dan mengutamakan orang lain. Setiap jenis mujahadah memerlukan pembahasan tersendiri.
Kita harus mengetahui sejarah orang-orang dahulu yang hidup sebelum kita. Dulu Imam Alwi bin Syihabuddin, kakek al-Habib Abdullah Syihab (w. Tarim, 12 Ramadhan 1386H) dan al-Habib Abdullah bin Umar asy-Syathiri, ayahanda al-Habib Salim asy-Syathiri, menjadi pemimpin Rubath Tarim selama 50 tahun (w. Tarim, 29 Jumadil Ula 1361H).
Dalam berdakwah keduanya sering diganggu masyarakat. Syahdan, al-Habib Abdulah bin Umar asy-Syathiri adalah ulama yang saat berwudhu selalu mengamalkan sunnah-sunnahnya. Suatu hari, ketika beliau sedang berwudhu di jabiyah Masjid Ba’alawi, seorang lelaki tua menganggap wudhu beliau terlalu lama. "Was-was apakah ini? Kau membuat kami menunggu terlalu lama!" Kata lelaki tua itu.
Dia lalu membuka pintu jabiyah, masuk ke dalamnya. "Keluar dari sini!" Bentak lelaki tua itu seraya membuang pakaian Habib Abdulah bin Umar asy-Syathiri. Sedangkan al-Habib Abdulah bin Umar asy-Syathiri belum selesai berwudhu. Lalu Habib Abdulah bin Umar asy-Syathiri segera mengambil pakaiannya dan segera pulang ke rumah untuk menyempurnakan wudhunya.
Sesampai al-Habib Abdullah di rumah, beliau bergumam: “Hari ini aku telah melukai hati seseorang di Tarim. Ini adalah aib bagiku. Aku tidak boleh menyusahkan orang!”
Coba perhatikan, jika ada seseorang membuang pakaian kalian dan berkata seperti di atas, apa yang kalian lakukan? Apa yang kalian ucapkan? Apa kalian akan bersikap sopan kepada orang tua yang membuang pakaian kalian, seraya berkata wahai orang yang tidak beradab! Apa yang kalian akan ucapkan? Apakah kalian akan mendatangi orang tua tersebutdan meminta maaf?
Subscribe to:
Comments (Atom)



