Rasulullah Muhammad Saw — Sayyidatina Fathimah Azzahro+Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib–Imam Husein ash-Sibth — Imam Ali Zainal Abidin — Imam Muhammad al-Baqir–Imam Ja’far Shadiq — Imam Ali al-Uraidhi Imam Muhammad an-Naqib — Imam Isa an-Naqib ar-Rumi — Imam Ahmad Al-Muhajir — Imam Ubaidullah — Imam Alwy Ba’Alawy — Imam Muhammad — Imam Alwy — Imam Ali Khali Qasam — Imam Muhammad Shahib Marbath — Imam Ali — Imam Al-Faqih al-Muqaddam Muhammd Ba’Alawy — Imam Alwy al-Ghuyyur — Imam Ali Maula Darrak — Imam Muhammad Maulad Dawileh — Imam Alwy an-Nasiq — Al-Habib Ali — Al-Habib Alwy — Al-Habib Hasan– Al-Imam Yahya Ba’Alawy — Al-Habib Ahmad — Al-Habib Syekh — Al-Habib Muhammad — Al-Habib Thoha — Al-Habib Muhammad al-Qodhi — Al-Habib Thoha — Al-Habib Hasan — Al-Habib Thoha — Al-Habib Umar — Al-Habib Hasyim — Al-Habib Ali — Al-Habib Muhammad Luthfi
Saturday, 5 October 2013
Profil Habib Luthfi bin Yahya
Rasulullah Muhammad Saw — Sayyidatina Fathimah Azzahro+Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib–Imam Husein ash-Sibth — Imam Ali Zainal Abidin — Imam Muhammad al-Baqir–Imam Ja’far Shadiq — Imam Ali al-Uraidhi Imam Muhammad an-Naqib — Imam Isa an-Naqib ar-Rumi — Imam Ahmad Al-Muhajir — Imam Ubaidullah — Imam Alwy Ba’Alawy — Imam Muhammad — Imam Alwy — Imam Ali Khali Qasam — Imam Muhammad Shahib Marbath — Imam Ali — Imam Al-Faqih al-Muqaddam Muhammd Ba’Alawy — Imam Alwy al-Ghuyyur — Imam Ali Maula Darrak — Imam Muhammad Maulad Dawileh — Imam Alwy an-Nasiq — Al-Habib Ali — Al-Habib Alwy — Al-Habib Hasan– Al-Imam Yahya Ba’Alawy — Al-Habib Ahmad — Al-Habib Syekh — Al-Habib Muhammad — Al-Habib Thoha — Al-Habib Muhammad al-Qodhi — Al-Habib Thoha — Al-Habib Hasan — Al-Habib Thoha — Al-Habib Umar — Al-Habib Hasyim — Al-Habib Ali — Al-Habib Muhammad Luthfi
LARANGAN MEMUKUL ANAK KECIL YANG SEDANG MENANGIS
Rasulullah SAW bersabda : Janganlah kamu memukul anak- anak kamu di
sebabkan mereka menangis dalam masa setahun. Karena pada empat bulan
pertama kelahirannya Ia bersyahadat LAA ILAAHA ILLALLAH. Pada empat
bulan kedua pula ia berselawat ke atas Nabi SAW Dan pada empat bulan
seterusnya pula ia mendoakan kedua ayah bunda nya. ( H.R. Abdullah Ibnu
Umar r.a.)
Baginda Rasulullah SAW menjelaskan bahwa tangisan
anak di waktu kecil pada bulan pertama adalah tanda ia bertauhid kepada
Tuhan Nya dan empat bulan kedua pula ia membacakan selawat kepada Nabi
nya dan empat bulan seterus nya ia memohon istighfar untuk kedua ayah
bunda nya.
Rasulullah SAW
Bersabda : Anak-anak sebelum sampai ia baligh maka apa-apa yang di
perbuat nya daripada kebaikan maka di tuliskan untuknya dan kedua ibu
bapaknya.
Dan apa yang di perbuat nya daripada kejahatan maka
tiadalah di tulis untuk nya dan tidak pula di tulis untuk kedua ibu
bapaknya. Apabila ia telah baligh maka berlakulah yang di tulis itu
atasnya ia itu segala amal baik atau buruknya. ( H.R.Imam Anas bin Malik
r.a.)
Sabda Rasulullah SAW ;"Siapa yang menyampaikan satu ilmu
dan orang membaca mengamalkannya maka dia akan beroleh pahala walaupun
sudah tiada." (HR. Muslim)
sumber artikel https://www.facebook.com/IslamicMotivationIndonesia
------------------------------ ------------------------------ ---------------
Insya Allah bisa bermanfa'at
Friday, 4 October 2013
Mengapa hanya menyebut nama Muhammad dan Ibrahim dalam shalawat
“Ya, Allah curahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, curahkanlah barakah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan barakah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Thursday, 3 October 2013
SUNAN GUNUNG JATI
Dalam usia yang begitu muda Syarif Hidayatullah ditinggal mati oleh
ayahnya. Ia ditunjuk untuk menggantikan kedudukannya sebagai Raja Mesir
tapi anak yang masih berusia dua puluh tahun itu tidak mau. Dia dan
ibunya bermaksud pulang ke tanah jawa berdakwah di Jawa Barat. Kedudukan
ayahnya itu kemudian diberikan kepada adiknya yaitu Syarif Nurullah.
Sewaktu
berada di negeri Mesir Syarif Hidayatullah berguru kepada beberapa ulam
besar didaratan timur tengah. Dalam usia muda itu ilmunya sudah sangat
banyak, maka ketika pulang ke tanah leluhurnya yaitu Jawa ia tidak
merasa kesulitan melakukan dakwah.
SUNAN MURIA
Beliau adalah putera Sunan Kalijaga
dengan Dewi Saroh. Nama aslinya Raden Umar Said. Seperti ayahnya, dalam
berdakwah beliau menggunakan cara halus, ibarat mengambil ikan tidak
sampai mengeruhkan airnya. Itulah cara yang ditempuh untuk menyiarkan
agama Islam di sekitar Gunung Muria.Tempat tinggal beliau di gunung Muria yang salah satu puncaknya bernama Colo. Letaknya disebelah utara kota Kudus. Sasaran dakwah beliau adalah para pedagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Beliau lah satu-satu wali yang tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan Islam. Dan beliau pula yang menciptakan tembang Sinom dan Kinanti.
SUNAN DRAJAD
Nama asli Sunan Drajad adalah Raden Qosim, beliau putera Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati dan merupakan adik dari Raden Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang.
Raden Qosim yang sudah mewarisi ilmu dari ayahnya kemudian diperintah untuk berdakwah di sebelah barat Gresik yaitu daerah kosong dari ulama besar antara Tuban dan Gresik.
Raden Qosim memulai perjalanannya dengan naik perahu dari Gresik sesudah singgah ditempat Sunan Giri.
Dalam perjalanan ke arah Barat itu perahu beliau tiba-tiba dihantam
oleh ombak yang besar sehingga menabrak karang dan hancur. Hampir saja
Raden Qosim kehilangan jiwanya. Tapi bila Tuhan belum menentukan ajal
seseorang biar bagaimanapun hebatnya kecelakaan pasti dia akan selamat,
demikian pula halnya dengan Raden Qosim. Secara kebetulan seekor ikan
besar yaitu ikan talang datang kepada Raden Qosim dan beliau pun menaiki
punggung ikan tersebut hingga selamat ke tepi pantai.
SUNAN KUDUS
Menurut
salah satu sumber, Sunan Kudus adalah putera Raden Usman haji yang
bergelar Sunan Ngudung dari Jipang Panolan. Ada yang mengatakan letak
Jipang Panolan ini disebelah utara kota Blora. Di dalam babad tanah
jawa, disebutkan bahwa Sunan Ngudung pernah memimpin pasukan Majapahit.
Sunan ngudung selaku senopati Demak berhadapan dengan Raden Husain atau
Adipati Terung dari Majapahit. Dalam pertempuran yang sengit dan saling
mengeluarkan aji kesaktian itu Sunan Ngudung gugur sebagai pahlawan
sahid. Kedudukannya sebagai senopati Demak kemudian digantikan oleh sunan Kudus yang puteranya sendiri yang bernama asli Ja’far Sodiq.SUNAN KALIJAGA
Tumenggung
Wilakita seringkali disebut Raden Sahur, walau dia termasuk keturunan
Ranggawale yang beragama Hindu tapi Raden Sahur sendiri sudah masuk
agama Islam.
Sejak
kecil Raden Said sudah diperkenalkan kepada agama Islam oleh guru agama
Kadipaten Tuban. Tetapi karena melihat keadaan sekitar atau lingkungan
yang kontradiksi dengan kehidupan rakyat jelata maka jiwa Raden Said
berontak.
Gelora
jiwa muda Raden Said seakan meledak-ledak manakala melihat praktek
oknum pejabat kadipaten Tuban disaat menarik pajak pada penduduk atau
rakyat jelata.
SUNAN BONANG
Dari
berbagai sumber disebutkan bahwa Sunan Bonang itu nama aslinya adalah
Syekh Maulana Makdum Ibrahim. Putera Sunan Ampel dan Dewi Condrowati
yang sering disebut Nyai Ageng Manila.
Ada yang mengatakan Dewi Condrowati itu adalah puteri Prabu Kertabumi.
Dengan demikian Raden Makdum adalah seorang Pangeran Majapahit karena
ibunya adalah puteri Raja Majapahit dan ayahnya menantu Raja Majapahit.
Sebagai
seorang wali yang disegani dan dianggap Mufti atau pemimpin agama se
tanah jawa, tentu saja Sunan Ampel mempunyai ilmu yang sangat tinggi.
Sejak kecil Raden Makdum Ibrahim sudah diberi pelajaran agama Islam
secara tekun dan disiplin.
SUNAN GIRI
Di
awal abad 14 M, kerajaan Blambangan diperintah oleh Prabu Mena Sembuyu,
salah seorang keturunan Prabu Hayam Wuruk dari kerajaan Majapahit. Raja
dan rakyatnya memeluk agam Hindu dan sebagian ada yang memeluk agama
Budha.
Pada
suatu hari Parbu Menak Sembuyu gelisah, demikian pula permaisurinya
pasalnya puteri mereka satu-satunya jatuh selama beberapa bulan. Sudah
diusahakan mendatangkan tabib dan dukun untuk mengobati tapi sang puteri
belum sembuh juga.
Memang
pada waktu itu kerajaan Blambangan sedang dilanda wabah penyakit.
Banyak sudah korban berjatuhan. Menurut gambaran babad tanah jawa esok
sakit sorenya mati. Seluruh penduduk sangat prihatin, berduka dan hampir
semua kegiatan sehari-hari menjadi macet total.
SUNAN AMPEL
Tahukah anda dengan daerah Bukhara? Bukhara terletak di Samarqand. Sejak
dahulu daerah Samarqand dikenal sebagai daerah Islam yang melahirkan
ulama-ulama besar seperti Imam Bukhari yang mashur sebagai pewaris
hadist shahih.
Disamarqand
ini ada seorang ulama besar bernama Syekh Jamalluddin Jumadil Kubra,
seorang Ahlussunnah bermazhab syafi’I, beliau mempunyai seorang putera
bernama Ibrahim, dan karena berasal dari samarqand maka Ibrahim kemudian
mendapatkan tambahan nama Samarqandi. Orang jawa sukar menyebutkan
Samarqandi maka mereka hanya menyebutnya sebagai Syekh Ibrahim
Asmarakandi.
Syekh
Ibrahim Asmarakandi ini diperintah oleh ayahnya yaitu Syekh Jamalluddin
Jumadil Kubra untuk berdakwah ke negara-negara Asia. Perintah inilah
yang dilaksanakan dan kemudian beliau diambil menantu oleh Raja Cempa,
dijodohkan dengan puteri Raja Cempa yang bernama Dewi Candrawulan.
SYEKH MAULANA MALIK IBRAHIM
Jauh
sebelum Maulana Malik Ibrahim datang ke Pulau Jawa. Sebenarnya sudah
ada masyarakat Islam di daerah-daerah pantai utara. Termasuk di desa
Leran. Hal itu bisa dibuktikan dengan adanya makam seorang wanita
bernama Fatimah Binti Maimun yang meninggal pada tahun 475 Hijriyah atau
pada tahun 1082 M.
Jadi
sebelum jaman Wali Songo, Islam sudah ada di pulau Jawa, yaitu daerah
Jepara dan Leren. Tetapi Islam pada masa itu masih belum berkembang
secara besar-besaran.
Maulana
Malik Ibrahim yang lebih dikenal penduduk setempat sebagai Kakek Bantal
itu diperkirakan datang ke Gresik pada tahun 1404 M. Beliau berdakwah
di Gresik hingga akhir wafatnya yaitu pada tahun 1419 M.
Pada
masa itu kerajaan yang berkuasa di Jawa Timur adalah Majapahit. Raja
dan rakyatnya kebanyakan masih beragama Hindu atau Budha. Sebagian
rakyat Gresik sudah ada yang beragam Islam, tetapi masih banyak yang
beragama Hindu atau bahkan tidak beragama sama sekali.
Tuesday, 1 October 2013
Mengenal Imam Muslim
Kita semua
tentu mengetahui bahwa sumber hukum utama dalam Islam adalah Al Qur’an dan
hadits Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam. Tentang Al Qur’an, tentu
tidak perlu diragukan lagi kebenaran dan keontetikannya. Namun berkaitan dengan
hadits Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam, banyak sekali upaya dari
musuh-musuh Islam serta orang-orang munafik yang ingin merancukan ajaran Islam
dengan membuat hadits palsu, yaitu hadits yang diklaim sebagai ucapan
Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam padahal sebenarnya bukan. Seperti
Abdul Karim bin Abi Auja’, ia mengaku perbuatannya sebelum ia dihukum mati
dengan berkata: “Demi Allah, aku telah memalsukan hadits sebanyak 4000 hadits.
Saya halalkan yang haram dan saya haramkan yang halal”. Namun alhamdulillah,
Allah Ta’ala menjaga kemurnian agama-Nya dengan memunculkan para ulama
pakar hadits yang berupaya memisahkan hadits shahih dengan hadits lemah dan
palsu. Dan upaya ini bukanlah pekerjaan yang mudah dan selesai dalam sekejap.
Bahkan memerlukan penelitian yang panjang, ketelitian yang tajam, kecerdasan
akal yang tinggi, hafalan yang kokoh, serta pemahaman yang mantap terhadap Al
Qur’an dan hadits. Maka seorang muslim yang memahami hal ini sepatutnya ia
menghargai dan bahkan kagum atas jasa para pakar hadits umat Islam yang telah
memberikan kontribusi besar bagi agama ini.
KETIKA PAKAIAN SEORANG ULAMA DIBUANG
"Akhlak dalam Berdakwah"
Guru Mulia, al-Habib Umar bin Hafidz, menjelaskan perihal dakwah dengan gamblang dalam kitab karya beliau "Irsyad ad-Da’iyyat".
Dakwah memerlukan mujahadah. Mujahadah untuk mendidik jiwa agar bersabar dan teguh, agar kembali kepada Allah, meneladani Nabi Saw. menyampaikan nasihat, berhijrah, bersikap murah hati dan mengutamakan orang lain. Setiap jenis mujahadah memerlukan pembahasan tersendiri.
Kita harus mengetahui sejarah orang-orang dahulu yang hidup sebelum kita. Dulu Imam Alwi bin Syihabuddin, kakek al-Habib Abdullah Syihab (w. Tarim, 12 Ramadhan 1386H) dan al-Habib Abdullah bin Umar asy-Syathiri, ayahanda al-Habib Salim asy-Syathiri, menjadi pemimpin Rubath Tarim selama 50 tahun (w. Tarim, 29 Jumadil Ula 1361H).
Dalam berdakwah keduanya sering diganggu masyarakat. Syahdan, al-Habib Abdulah bin Umar asy-Syathiri adalah ulama yang saat berwudhu selalu mengamalkan sunnah-sunnahnya. Suatu hari, ketika beliau sedang berwudhu di jabiyah Masjid Ba’alawi, seorang lelaki tua menganggap wudhu beliau terlalu lama. "Was-was apakah ini? Kau membuat kami menunggu terlalu lama!" Kata lelaki tua itu.
Dia lalu membuka pintu jabiyah, masuk ke dalamnya. "Keluar dari sini!" Bentak lelaki tua itu seraya membuang pakaian Habib Abdulah bin Umar asy-Syathiri. Sedangkan al-Habib Abdulah bin Umar asy-Syathiri belum selesai berwudhu. Lalu Habib Abdulah bin Umar asy-Syathiri segera mengambil pakaiannya dan segera pulang ke rumah untuk menyempurnakan wudhunya.
Sesampai al-Habib Abdullah di rumah, beliau bergumam: “Hari ini aku telah melukai hati seseorang di Tarim. Ini adalah aib bagiku. Aku tidak boleh menyusahkan orang!”
Coba perhatikan, jika ada seseorang membuang pakaian kalian dan berkata seperti di atas, apa yang kalian lakukan? Apa yang kalian ucapkan? Apa kalian akan bersikap sopan kepada orang tua yang membuang pakaian kalian, seraya berkata wahai orang yang tidak beradab! Apa yang kalian akan ucapkan? Apakah kalian akan mendatangi orang tua tersebutdan meminta maaf?
Guru Mulia, al-Habib Umar bin Hafidz, menjelaskan perihal dakwah dengan gamblang dalam kitab karya beliau "Irsyad ad-Da’iyyat".
Dakwah memerlukan mujahadah. Mujahadah untuk mendidik jiwa agar bersabar dan teguh, agar kembali kepada Allah, meneladani Nabi Saw. menyampaikan nasihat, berhijrah, bersikap murah hati dan mengutamakan orang lain. Setiap jenis mujahadah memerlukan pembahasan tersendiri.
Kita harus mengetahui sejarah orang-orang dahulu yang hidup sebelum kita. Dulu Imam Alwi bin Syihabuddin, kakek al-Habib Abdullah Syihab (w. Tarim, 12 Ramadhan 1386H) dan al-Habib Abdullah bin Umar asy-Syathiri, ayahanda al-Habib Salim asy-Syathiri, menjadi pemimpin Rubath Tarim selama 50 tahun (w. Tarim, 29 Jumadil Ula 1361H).
Dalam berdakwah keduanya sering diganggu masyarakat. Syahdan, al-Habib Abdulah bin Umar asy-Syathiri adalah ulama yang saat berwudhu selalu mengamalkan sunnah-sunnahnya. Suatu hari, ketika beliau sedang berwudhu di jabiyah Masjid Ba’alawi, seorang lelaki tua menganggap wudhu beliau terlalu lama. "Was-was apakah ini? Kau membuat kami menunggu terlalu lama!" Kata lelaki tua itu.
Dia lalu membuka pintu jabiyah, masuk ke dalamnya. "Keluar dari sini!" Bentak lelaki tua itu seraya membuang pakaian Habib Abdulah bin Umar asy-Syathiri. Sedangkan al-Habib Abdulah bin Umar asy-Syathiri belum selesai berwudhu. Lalu Habib Abdulah bin Umar asy-Syathiri segera mengambil pakaiannya dan segera pulang ke rumah untuk menyempurnakan wudhunya.
Sesampai al-Habib Abdullah di rumah, beliau bergumam: “Hari ini aku telah melukai hati seseorang di Tarim. Ini adalah aib bagiku. Aku tidak boleh menyusahkan orang!”
Coba perhatikan, jika ada seseorang membuang pakaian kalian dan berkata seperti di atas, apa yang kalian lakukan? Apa yang kalian ucapkan? Apa kalian akan bersikap sopan kepada orang tua yang membuang pakaian kalian, seraya berkata wahai orang yang tidak beradab! Apa yang kalian akan ucapkan? Apakah kalian akan mendatangi orang tua tersebutdan meminta maaf?
Friday, 27 September 2013
WAHAI HABIB MUNDZIR, KEWAFATANMU INDAH SEPERTI WAFATNYA KAKEKMU RASULULLAH SAW.
Menyaksikan betapa hebat dan indahnya kewafatan Guru Mulia Habibana
Mundzir bin Fuad al-Musawa, tak kuasa diriku menahan air mata dan dada
mendadak sesak. Wahai guru bagi ruhku, wahai idolaku, wahai pujaan
hatiku, wahai pejuang sejati, betapa cepat Allah Swt. memanggilmu. Kami
masih membutuhkan bimbinganmu wahai Habibana.
Cukup... cukup... cukup... wahai yang bersedih sebab perpisahan antara kekasih dengan pujaan hati. Bangkit dan bangkit... pujaan hatimu telah berwasiat: “Silaturrahim batiniah tidak mengenal batasan waktu dan ruang bagi orang-orang muslim yang saling mencintai. Jika aku wafat mendahului kalian, kutitipkan perjuangan dakwah sang Nabi Saw. pada kalian, kita akan abadi bersama dalam kebahagiaan kelak insya Allah tanpa ada perpisahan.”
Aku jadi teringat dengan taushiyah yang disampaikan al-Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa dua tahun lalu di haulnya Syaikh Armia bin KH. Kurdi, Cikura Bojong-Tegal pada tanggal 24 Desember tahun 2011 M berikut ini:
“Sahabat Anas bin Malik Ra. pernah berkata: “Hari Kamis adalah hari saat mulai sakitnya Rasulullah Saw. sebelum wafatnya, di saat itu beliau sakit parah dan pusing berat.”
Rasulullah Saw. bersabda kepada Sayyidatuna Aisyah Ra.: “Duh kepalaku sakit.”
Para sahabat Nabi Saw. berhenti kerja, berhenti dagang, toko tutup, pasar tutup, berkabung atas sakitnya Rasulullah Saw.
Namun hari Senin, tepatnya malam Senin ba’da Isya, beliau Saw. tersadar dari berbaringnya, kemudian bersabda kepada Aisyah Ra.: “Ya Aisyah, apakah para sahabat sudah shalat (Isya)?”
Jawab Aisyah Ra.: “Masih menunggumu wahai Rasulullah.”
Lalu Rasulullah Saw. meminta bantuan kepada Aisyah Ra.: “Bangunkan aku, topang tubuhku untuk sampai ke tempat wudhu.”
Di tengah jalan menuju tempat wudhu beliau Saw. roboh, pingsan lagi. Lalu tengah malamnya beliau Saw. tersadar lagi, bangun lagi dari pingsannya. “Ya Aisyah, apakah orang-orang sudah shalat?”
Jawab Aisyah Ra.: “Mereka masih di luar belum shalat menunggumu wahai Rasul.”
Lantas Rasulullah Saw. pun meminta bantuan lagi kepada Aisyah Ra.: “Ayo bawa aku ke tempat wudhu.”
Sampai di depan tempat wudhu beliau Saw. roboh lagi, pingsan lagi. Sepertiga malam terakhir Rasulullah Saw. bangun tersadar lagi, lalu bertanya seperti pertanyaan sebelumnya: “Orang-orang sudah shalat belum ya Aisyah?”
Jawab Aisyah Ra.: “Mereka masih menunggumu wahai Rasulullah (para sahabat tidak bergerak di tempatnya, ada yang tertidur di dalam menunggunya tetapi tetap tidak bergerak menanti keluarnya Rasulullah Saw.).”
Maka beliau Saw. bersabda: “Perintahkan Sayyidina Abu Bakar untuk mengimami shalat.”
Di saat para sahabat menjalankan shalat, diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, tentang rumahnya Rasulullah Saw. Di shaf pertama Masjid Nabawi itu sudah termasuk pintunya rumah Rasulullah Saw. Para sahabat akan tahu jika Rasulullah masuk Masjid Nabawi. Kalau pintu rumah terbuka, cahaya terang benderang masuk menerangi Masjid Nabawi, berarti pertanda Rasulullah Saw. masuk ke dalam masjid. Pintu itu terbuka dan Rasulullah Saw. melihat keluar. Melihat para sahabat shalat dengan shaf yang rata, maka beliau tersenyum.
Kemudian dalam sebuah riwayat, para sahabat seakan-akan shalatnya hampir batal dikarenakan betapa gembiranya merek melihat Rasulullah Saw. yang sudah berhari-hari tidak keluar (dari rumahnya).
Namun Rasulullah Saw. memberi isyarat: “Jangan ada yang brgerak, teruskan shalat.” Beliau Saw. hanya mmbuka tabir, lalu menutupnya kembali masuk ke dalam rumah.
Brkata Anas bin Malik Ra.: “Tidak pernah kami melihat pemandangan yang lebih indah dan lebih menakjubkan dari wajah Nabi Saw. Dan itu adalah terakhir kali para sahabat melihat Baginda Rasulullah Saw., karena di waktu Dhuha beliau Saw. wafat.”
Di saat waktu Dhuha, Sayyidatuna Aisyah Ra. memangku Rasulullah Saw. yang sedang berbaring sakit: “Engkau mau siwak wahai Rasulullah?”
Rasulullah Saw. hanya mengangguk. Lalu dibasahilah siwak itu oleh Aisyah Ra. dan disiwakkanlah ke bibir Rasulullah Saw. Lalu Rasulullah Saw. bersabda: “Laa Ilaaha Illallaah... Sungguh dalam kematian itu kepedihan.”
Kenapa? Padahal para shalihin dan auliya’ tidak pernah merasakan sakit saat kematian. Karena saat itu Rasulullah Saw.berdoa: “Wahai Allah, pedihkan, sakitkan sakaratul mautku. Ringankan untuk ummatku.”
Maka Rasulullah Saw.berteriak: “Betapa pedihnya sakaratul maut.” Lalu beliau Saw. sendiri yang memegang siwak, lalu tangannya terjatuh di pangkuan Sayyidatuna Aisyah Ra. Dan tersebarlah kabar wafatnya Rasulullah Saw.
Sahabat Mu’adz bin Jabal Ra. yang diperintahkan Rasulullah Saw. menyebarkan Islam di Yaman, telat mendengar kabar wafatnya Rasulullah Saw. Setelah baru mengetahuinya, Sayyidina Mu’adz Ra. langsung lari tergesa-gesa menuju ke Madinah, menuju rumahnya Sayyidatuna Aisyah Ra. Sampai di depan rumahnya Aisyah Ra., Mu’adz bin Jabal Ra. mengetuk pintu, dan dijawab dari dalam rumah oleh Sayyidatuna Aisyah Ra.: “Siapa orang yang datang tengah malam ketuk-ketuk pintu?”
“Aku Mu’adz bin Jabal wahai Ummul Mukminin Aisyah. Tolong ceritakan, aku tidak bisa tahu keadaannya Rasulullah Saw. sampai beliau dimakamkan.” Pinta shabat Mu’adz bin Jabal Ra.
Jawab Sayyidatuna Aisyah Ra.: “Wahai Mu’adz, beruntung beruntung beruntung engkau tidak melihat wajah Rasulullah Saw. saat menahan pedihnya sakaratul maut. Kalau kau melihatnya, maka akan hilang seluruh kenikmatan hidupmu di dunia. Kau tidak akan bisa merasakan nikmatnya makan dan minum serta seluruh kehidupan hingga engkau wafat.”
Jika melihat dahsyatnya Nabi Saw. menahan pedihnya sakaratul maut, untuk apa? Untukku dan kalian ummat Sayyidina Muhammad Saw. agar diringankan sakaratul maut!”
Wahai segenap pecinta Habib Mundzir, bangkit dan bangkitlah. Teruskan perjuangan dan cita-cita beliau dalam menegakkan panji-panji Sayyidina Muhammad Saw., menjadikan Ibukota Jakarta menjadi Kota Sayyidina Muhammad Saw. Tiru dan tirulah akhlak mulia dan semangat beliau dalam berdakwah yang santun nan indah, menyayangi dan mengayomi semua orang tanpa pandang bulu.
Lahu al-Fatihah...
Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 17 September 2013
http://www.muslimedianews.com/2013/09/wahai-habib-mundzir-kewafatanmu-indah.html
http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2013/09/wahai-habib-mundzir-kewafatanmu-indah.html
Cukup... cukup... cukup... wahai yang bersedih sebab perpisahan antara kekasih dengan pujaan hati. Bangkit dan bangkit... pujaan hatimu telah berwasiat: “Silaturrahim batiniah tidak mengenal batasan waktu dan ruang bagi orang-orang muslim yang saling mencintai. Jika aku wafat mendahului kalian, kutitipkan perjuangan dakwah sang Nabi Saw. pada kalian, kita akan abadi bersama dalam kebahagiaan kelak insya Allah tanpa ada perpisahan.”
Aku jadi teringat dengan taushiyah yang disampaikan al-Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa dua tahun lalu di haulnya Syaikh Armia bin KH. Kurdi, Cikura Bojong-Tegal pada tanggal 24 Desember tahun 2011 M berikut ini:
“Sahabat Anas bin Malik Ra. pernah berkata: “Hari Kamis adalah hari saat mulai sakitnya Rasulullah Saw. sebelum wafatnya, di saat itu beliau sakit parah dan pusing berat.”
Rasulullah Saw. bersabda kepada Sayyidatuna Aisyah Ra.: “Duh kepalaku sakit.”
Para sahabat Nabi Saw. berhenti kerja, berhenti dagang, toko tutup, pasar tutup, berkabung atas sakitnya Rasulullah Saw.
Namun hari Senin, tepatnya malam Senin ba’da Isya, beliau Saw. tersadar dari berbaringnya, kemudian bersabda kepada Aisyah Ra.: “Ya Aisyah, apakah para sahabat sudah shalat (Isya)?”
Jawab Aisyah Ra.: “Masih menunggumu wahai Rasulullah.”
Lalu Rasulullah Saw. meminta bantuan kepada Aisyah Ra.: “Bangunkan aku, topang tubuhku untuk sampai ke tempat wudhu.”
Di tengah jalan menuju tempat wudhu beliau Saw. roboh, pingsan lagi. Lalu tengah malamnya beliau Saw. tersadar lagi, bangun lagi dari pingsannya. “Ya Aisyah, apakah orang-orang sudah shalat?”
Jawab Aisyah Ra.: “Mereka masih di luar belum shalat menunggumu wahai Rasul.”
Lantas Rasulullah Saw. pun meminta bantuan lagi kepada Aisyah Ra.: “Ayo bawa aku ke tempat wudhu.”
Sampai di depan tempat wudhu beliau Saw. roboh lagi, pingsan lagi. Sepertiga malam terakhir Rasulullah Saw. bangun tersadar lagi, lalu bertanya seperti pertanyaan sebelumnya: “Orang-orang sudah shalat belum ya Aisyah?”
Jawab Aisyah Ra.: “Mereka masih menunggumu wahai Rasulullah (para sahabat tidak bergerak di tempatnya, ada yang tertidur di dalam menunggunya tetapi tetap tidak bergerak menanti keluarnya Rasulullah Saw.).”
Maka beliau Saw. bersabda: “Perintahkan Sayyidina Abu Bakar untuk mengimami shalat.”
Di saat para sahabat menjalankan shalat, diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, tentang rumahnya Rasulullah Saw. Di shaf pertama Masjid Nabawi itu sudah termasuk pintunya rumah Rasulullah Saw. Para sahabat akan tahu jika Rasulullah masuk Masjid Nabawi. Kalau pintu rumah terbuka, cahaya terang benderang masuk menerangi Masjid Nabawi, berarti pertanda Rasulullah Saw. masuk ke dalam masjid. Pintu itu terbuka dan Rasulullah Saw. melihat keluar. Melihat para sahabat shalat dengan shaf yang rata, maka beliau tersenyum.
Kemudian dalam sebuah riwayat, para sahabat seakan-akan shalatnya hampir batal dikarenakan betapa gembiranya merek melihat Rasulullah Saw. yang sudah berhari-hari tidak keluar (dari rumahnya).
Namun Rasulullah Saw. memberi isyarat: “Jangan ada yang brgerak, teruskan shalat.” Beliau Saw. hanya mmbuka tabir, lalu menutupnya kembali masuk ke dalam rumah.
Brkata Anas bin Malik Ra.: “Tidak pernah kami melihat pemandangan yang lebih indah dan lebih menakjubkan dari wajah Nabi Saw. Dan itu adalah terakhir kali para sahabat melihat Baginda Rasulullah Saw., karena di waktu Dhuha beliau Saw. wafat.”
Di saat waktu Dhuha, Sayyidatuna Aisyah Ra. memangku Rasulullah Saw. yang sedang berbaring sakit: “Engkau mau siwak wahai Rasulullah?”
Rasulullah Saw. hanya mengangguk. Lalu dibasahilah siwak itu oleh Aisyah Ra. dan disiwakkanlah ke bibir Rasulullah Saw. Lalu Rasulullah Saw. bersabda: “Laa Ilaaha Illallaah... Sungguh dalam kematian itu kepedihan.”
Kenapa? Padahal para shalihin dan auliya’ tidak pernah merasakan sakit saat kematian. Karena saat itu Rasulullah Saw.berdoa: “Wahai Allah, pedihkan, sakitkan sakaratul mautku. Ringankan untuk ummatku.”
Maka Rasulullah Saw.berteriak: “Betapa pedihnya sakaratul maut.” Lalu beliau Saw. sendiri yang memegang siwak, lalu tangannya terjatuh di pangkuan Sayyidatuna Aisyah Ra. Dan tersebarlah kabar wafatnya Rasulullah Saw.
Sahabat Mu’adz bin Jabal Ra. yang diperintahkan Rasulullah Saw. menyebarkan Islam di Yaman, telat mendengar kabar wafatnya Rasulullah Saw. Setelah baru mengetahuinya, Sayyidina Mu’adz Ra. langsung lari tergesa-gesa menuju ke Madinah, menuju rumahnya Sayyidatuna Aisyah Ra. Sampai di depan rumahnya Aisyah Ra., Mu’adz bin Jabal Ra. mengetuk pintu, dan dijawab dari dalam rumah oleh Sayyidatuna Aisyah Ra.: “Siapa orang yang datang tengah malam ketuk-ketuk pintu?”
“Aku Mu’adz bin Jabal wahai Ummul Mukminin Aisyah. Tolong ceritakan, aku tidak bisa tahu keadaannya Rasulullah Saw. sampai beliau dimakamkan.” Pinta shabat Mu’adz bin Jabal Ra.
Jawab Sayyidatuna Aisyah Ra.: “Wahai Mu’adz, beruntung beruntung beruntung engkau tidak melihat wajah Rasulullah Saw. saat menahan pedihnya sakaratul maut. Kalau kau melihatnya, maka akan hilang seluruh kenikmatan hidupmu di dunia. Kau tidak akan bisa merasakan nikmatnya makan dan minum serta seluruh kehidupan hingga engkau wafat.”
Jika melihat dahsyatnya Nabi Saw. menahan pedihnya sakaratul maut, untuk apa? Untukku dan kalian ummat Sayyidina Muhammad Saw. agar diringankan sakaratul maut!”
Wahai segenap pecinta Habib Mundzir, bangkit dan bangkitlah. Teruskan perjuangan dan cita-cita beliau dalam menegakkan panji-panji Sayyidina Muhammad Saw., menjadikan Ibukota Jakarta menjadi Kota Sayyidina Muhammad Saw. Tiru dan tirulah akhlak mulia dan semangat beliau dalam berdakwah yang santun nan indah, menyayangi dan mengayomi semua orang tanpa pandang bulu.
Lahu al-Fatihah...
Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 17 September 2013
http://www.muslimedianews.com/2013/09/wahai-habib-mundzir-kewafatanmu-indah.html
http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2013/09/wahai-habib-mundzir-kewafatanmu-indah.html
BERAGAM CARA ALLAH MENJAWAB DOA KITA
Kalam yang masyhur Syaikh Ibnu Athaillah as-Sakandari mengatakan:
“Allah tidak selalu memberikan apa yang kita minta, akan tetapi Allah
akan selalu meberi apa yang kita butuhkan.”
Maulana al-habib M. Luthfi bin Yahya menjelaskan tentang sebuah rahasia (sirr) di balik setiap doa yang kita ucapkan. Kenapa doa yang sering kita lakukan terkadang atau bahkan kebanyakan tak kunjung terijabahi oleh Allah? Bersyukurlah, karena itu pertanda amat sayangnya Allah kepada kita.
Allah Ta’ala berfirman: ادعوني أستجب لكم “Berdoalah padaKu (Allah) maka Aku (Allah) akan menerima kalian”.
Firman Allah tersebut merupakan dasar atau dalil perintah untuk kita berdoa kepada Allah. Lalu apakah doa yang kita panjatkan itu pasti diterima oleh Allah? Doa kita diterima atau tidak itu hak Allah, tapi kita wajib untuk berdoa kepada Allah.
Selanjutnya, yang namanya menerima itu belum tentu mengijabahi. Kita berdoa pasti diterima, akan tetapi belum tentu diijabahi oleh Allah. Tidak semua diberikan atau diijabahi oleh Allah, dan Allah tidak mengijabahi doa itu termasuk bentuk kasih sayang atau rahmat Allah kepada hambaNya.
Doa pun dalam “astajib lakum” itu tetap ada syara’nya, sehingga tidak semua doa diijabahi. Contohnya kita berdoa menjadi Nabi, itu tidak akan diijabahi.
Doa itu ada yang diterima tetapi untuk memenuhi gudang akhirat, ibaratnya kita menabung sehingga tidak diijabahi di dunia. Ada juga doa yang diijabahi di dunia dan akhirat.
Allah Ta’ala itu mengabulkan doa melalui proses syar’an. Seperti begini, Muhammad diangkat menjadi Nabi pada umur 25, lalu umur 40 baru diangkat menjadi Rasul, umur 51 tahun baru diberi perintah shalat melalui isra’ mi’raj, dan ahkamul wudhu’ baru diajarkan di Madinah. Di sini, Nabi Muhammad saja masih diberi proses, tidak langsung.
Kalau kita berdoa lalu Allah tidak mengijabahi doa kita, kita harus bersyukur, berterima kasih pada Allah. Karena bisa jadi, Allah tidak mengijabahi doa kita itu karena kita belum siap menerima doa yang diijabahi oleh Allah, karena ada beberapa hal yang kita belum kuat.
Doa, amalan-amalan, hizib, puasa, melek (saharullayali) dan lain-lain itu untuk membersihkan hati dan menyucikan jiwa (tashfiyatul quluub wa tazkiyatun nafs), sehingga ada godaan di dalamnya, yaitu selalu terjadi perang batin. Contoh: ada orang yang ngaji ke salah satu kiai yang terkenal kealimannya. Lalu orang tersebut timbul dalam hatinya rasa bangga karena bisa dekat dan ngaji kepada sang kiai sehingga merendahkan orang lain. Kalau sudah begitu, itu sebenarnya bala’ atau musibah bagi sang kiai tersebut.
Walhasil, kita harus bersyukur karena kita disayang oleh Allah Ta’ala dengan tidak diberi secara langsung, namun bertahap. Karena kalau diberi langsung kita bisa nggeblag (error) karena tidak kuat.
Al- Habib Munzir bin Fuad Al Musawa menjelaskan perihal firman Allah Swt.: “Mintalah kepadaKu akan Kujawab doa-doa kalian.”
Lalu kita bertanya: “Bagaimana dengan doaku siang dan malam yang masih belum dikabulkan Allah?”
Jawabannya adalah ketidaktahuan kita bahwa Allah menjawab doa kita lebih daripada yang kita minta. Kita minta A misalnya tanpa kita sadari Allah mengangkat 100 musibah yang akan datang di hari esok. Doa kita hanya hal yang remeh saja tapi Allah Yang Maha Dermawan memberi lebih dari itu.
Wallahu a’lam.
Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 22 September 2013
http://www.muslimedianews.com/2013/09/beragam-cara-allah-menjawab-doa-kita.html
http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2013/09/beragam-cara-allah-menjawab-doa-kita.html
Maulana al-habib M. Luthfi bin Yahya menjelaskan tentang sebuah rahasia (sirr) di balik setiap doa yang kita ucapkan. Kenapa doa yang sering kita lakukan terkadang atau bahkan kebanyakan tak kunjung terijabahi oleh Allah? Bersyukurlah, karena itu pertanda amat sayangnya Allah kepada kita.
Allah Ta’ala berfirman: ادعوني أستجب لكم “Berdoalah padaKu (Allah) maka Aku (Allah) akan menerima kalian”.
Firman Allah tersebut merupakan dasar atau dalil perintah untuk kita berdoa kepada Allah. Lalu apakah doa yang kita panjatkan itu pasti diterima oleh Allah? Doa kita diterima atau tidak itu hak Allah, tapi kita wajib untuk berdoa kepada Allah.
Selanjutnya, yang namanya menerima itu belum tentu mengijabahi. Kita berdoa pasti diterima, akan tetapi belum tentu diijabahi oleh Allah. Tidak semua diberikan atau diijabahi oleh Allah, dan Allah tidak mengijabahi doa itu termasuk bentuk kasih sayang atau rahmat Allah kepada hambaNya.
Doa pun dalam “astajib lakum” itu tetap ada syara’nya, sehingga tidak semua doa diijabahi. Contohnya kita berdoa menjadi Nabi, itu tidak akan diijabahi.
Doa itu ada yang diterima tetapi untuk memenuhi gudang akhirat, ibaratnya kita menabung sehingga tidak diijabahi di dunia. Ada juga doa yang diijabahi di dunia dan akhirat.
Allah Ta’ala itu mengabulkan doa melalui proses syar’an. Seperti begini, Muhammad diangkat menjadi Nabi pada umur 25, lalu umur 40 baru diangkat menjadi Rasul, umur 51 tahun baru diberi perintah shalat melalui isra’ mi’raj, dan ahkamul wudhu’ baru diajarkan di Madinah. Di sini, Nabi Muhammad saja masih diberi proses, tidak langsung.
Kalau kita berdoa lalu Allah tidak mengijabahi doa kita, kita harus bersyukur, berterima kasih pada Allah. Karena bisa jadi, Allah tidak mengijabahi doa kita itu karena kita belum siap menerima doa yang diijabahi oleh Allah, karena ada beberapa hal yang kita belum kuat.
Doa, amalan-amalan, hizib, puasa, melek (saharullayali) dan lain-lain itu untuk membersihkan hati dan menyucikan jiwa (tashfiyatul quluub wa tazkiyatun nafs), sehingga ada godaan di dalamnya, yaitu selalu terjadi perang batin. Contoh: ada orang yang ngaji ke salah satu kiai yang terkenal kealimannya. Lalu orang tersebut timbul dalam hatinya rasa bangga karena bisa dekat dan ngaji kepada sang kiai sehingga merendahkan orang lain. Kalau sudah begitu, itu sebenarnya bala’ atau musibah bagi sang kiai tersebut.
Walhasil, kita harus bersyukur karena kita disayang oleh Allah Ta’ala dengan tidak diberi secara langsung, namun bertahap. Karena kalau diberi langsung kita bisa nggeblag (error) karena tidak kuat.
Al- Habib Munzir bin Fuad Al Musawa menjelaskan perihal firman Allah Swt.: “Mintalah kepadaKu akan Kujawab doa-doa kalian.”
Lalu kita bertanya: “Bagaimana dengan doaku siang dan malam yang masih belum dikabulkan Allah?”
Jawabannya adalah ketidaktahuan kita bahwa Allah menjawab doa kita lebih daripada yang kita minta. Kita minta A misalnya tanpa kita sadari Allah mengangkat 100 musibah yang akan datang di hari esok. Doa kita hanya hal yang remeh saja tapi Allah Yang Maha Dermawan memberi lebih dari itu.
Wallahu a’lam.
Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 22 September 2013
http://www.muslimedianews.com/2013/09/beragam-cara-allah-menjawab-doa-kita.html
http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2013/09/beragam-cara-allah-menjawab-doa-kita.html
Sekilas Pandang Profil KH. Maimun Zubair
SAMUDERA ILMU YANG TIADA BERTEPI DARI SEORANG KYAI YANG RENDAH HATI
“Sekilas Pandang Profil KH. Maimun Zubair”
Di kalangan para ulama Nahdlatul Ulama, bahtsul masail diniyyah (pembahasan masalah-masalah keagamaan) merupakan forum untuk berdiskusi, bermusyawarah dan memutuskan berbagai masalah keagamaan mutakhir dengan merujuk berbagai dalil yang tercantum dalam kitab-kitab klasik.
Dalam forum seperti itu, diantara pondok pesantren yang amat disegani adalah Pondok Pesantren al-Anwar Desa Karangmangu, Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Bukan saja karena ketangguhan para santrinya dalam penguasaan hukum Islam, tapi juga karena sosok kiai pengasuhnya yang termasyhur sebagai faqih jempolan. Kiai yang dimaksud adalah KH. Maimoen Zubair.
Meski sudah sangat sepuh, alumnus Lirboyo dan Ma’had Syaikh Yasin al-Fadani di Makkah itu masih aktif menebar ilmu dan nasihat kepada umat. Di sela-sela kegiatan mengajarkan kitab Ihya Ulumiddin dan kitab-kitab tasawuf lainnya kepada pada santri senior setiap ba’da Shubuh dan Ashar, Mbah Moen, demikian ia biasa dipanggil, masih menyempatkan diri menghadiri undangan ceramah dari kampung ke kampung, dari masjid ke masjid, dari pesantren ke pesantren.
Dalam berbagai ceramahnya, kearifan Mbah Maimoen selalu tampak. Di sela-sela tausiyahnya tentang ibadah dan muamalah, ia tidak pernah lupa menyuntikkan optimisme kepada umat yang tengah dihantam musibah bertubi-tubi.
Beliau memang ulama yang sangat disegani di kalangan NU, kalangan pesantren dan terutama sekali kalangan kaum muslimin di pesisir utara Jawa. Ceramahnya sarat dengan tinjauan sejarah dan kaya dengan nuansa fiqih, sehingga membuat betah jamaah pengajian untuk berlama-lama menyimaknya.
Kiai sepuh beranak 15 (tujuh putra, delapan putri) ini memang unik. Tidak seperti kebanyakan kiai, ia juga sering diminta memberi ceramah dan fatwa untuk urusan nonpesantren. Rumahnya di tepi jalur Pantura tak pernah sepi dari tokoh-tokoh nasional, terutama dari kalangan NU, yang sowan minta fatwa politik, nasihat atau sekadar silaturahim.
Belum lagi ribuan mantan santrinya yang secara rutin sowan untuk berbagi cerita mengenai kiprah dakwah masing-masing di kampung halaman. Beberapa diantara mereka berhasil menjadi tokoh di daerah masing-masing, seperti al-Habib Abdullah Zaki bin Syaikh al-Kaff (Bandung), KH. Abdul Adzim (Sidogiri, Pasuruan), KH. Hafidz (Mojokerto), KH. Hamzah Ibrahim, KH. Khayatul Makki (Mantrianom, Banjarnegara), KH. Dr. Zuhrul Anam (Leler, Banyumas), KH. M. Hasani Said (Giren, Tegal), al-Habib Shaleh bin Ali Alattas (Pangkah, Tegal) dan masih banyak lagi.
Jika matahari terbit dari timur, maka mataharinya para santri ini terbit dari Sarang. Pribadi yang santun, jumawa serta rendah hati ini lahir pada hari Kamis, 28 Oktober 1928 (dalam hal ini masih terdapat perselisihan). Beliau adalah putra pertama dari Kyai Zubair. Seorang Kyai yang tersohor karena kesederhanaan dan sifatnya yang merakyat. Ibundanya adalah putri dari Kyai Ahmad bin Syu'aib, ulama yang kharismatis yang teguh memegang pendirian.
Mbah Moen adalah insan yang lahir dari gesekan permata dan intan. Dari ayahnya, beliau meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya beliau meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan. Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati seringkali berseberangan dengan ketegasan. Namun dalam pribadi Mbah Moen, semua itu tersinergi secara padan dan seimbang.
Kerasnya kehidupan pesisir tidak membuat sikapnya ikut mengeras. Beliau adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri. Beliau membuktikan bahwa ilmu tidak harus menyulap pemiliknya menjadi tinggi hati ataupun ekslusif dibanding yang lainnya.
Kesehariannya adalah aktualisasi dari semua itu. Walau banyak dikenal dan mengenal erat tokoh-tokoh nasional, tapi itu tidak menjadikannya tercerabut dari basis tradisinya semula. Sementara walau sering kali menjadi peraduan bagi keluh kesah masyarakat, tapi semua itu tetap tidak menghalanginya untuk menyelami dunia luar, tepatnya yang tidak berhubungan dengan kebiasaan di pesantren sekalipun.
Kematangan ilmunya tidak ada satupun yang meragukan. Sebab sedari balita beliau sudah dibesarkan dengan ilmu-ilmu agama. Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh langsung oleh ayahnya untuk menghafal dan memahami ilmu sharaf, nahwu, fiqih, manthiq, balaghah dan bermacam ilmu syara’ yang lain. Dan siapapun zaman itu tidaklah menyangsikan, bahwa ayahnda Kyai Maimoen, Kyai Zubair, adalah murid pilihan dari Syaikh Sa’id al-Yamani serta Syaikh Hasan al-Yamani al- Makky. Dua ulama yang kesohor pada saat itu.
Kecemerlangan demi kecermelangan tidak heran menghiasi langkahnya menuju dewasa. Pada usia yang masih muda, kira-kira 17 tahun, beliau sudah hafal di luar kepala kiab-kitab nadzam, diantaranya al-Jurumiyyah, al-‘Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharatu at-Tauhid, Sullam al-Munauraq serta Rahabiyyah fi al-Faraidh. Seiring pula dengan kepiawaiannya melahap kitab-kitab fiqh madzhab Syafi’i, semisal Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Fath al-Wahhab dan lain sebagainya.
Pada tahun kemerdekaan, beliau memulai pengembaraannya guna ngangsu kaweruh ke Pondok Pesaantren Lirboyo Kediri (MHM), di bawah bimbingan KH. Abdul Karim yang terkenal dengan Mbah Manaf. Selain kepada Mbah Manaf, beliau juga menimba ilmu agama dari KH. Mahrus Ali dan KH. Marzuqi Dahlan.
Di Pondok Lirboyo, pribadi yang sudah cemerlang ini masih diasah pula selama kurang lebih lima tahun. Waktu yang melelahkan bagi orang kebanyakan, tapi tentu masih belum cukup untuk menegak habis ilmu pengetahuan.
Tanpa kenal batas, beliau tetap menceburkan dirinya dalam samudra ilmu-ilmu agama. Sampai pada akhirnya, saat menginjak usia 21 tahun, beliau menuruti panggilan jiwanya untuk mengembara ke Makkah al-Mukarramah. Perjalanan ini diiringi oleh kakeknya sendiri, yakni KH. Ahmad bin Syu’aib.
Tidak hanya satu, semua mata air ilmu agama dihampirinya. Beliau menerima ilmu dari sekian banyak orang ternama dibidangnya, antara lain as-Sayyid al-Habib Alwi bin Abbas al-Maliki, Syaikh Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Kutbi, Syaikh Yasin bin Isa al- Fadani dan masih banyak lagi.
Dua tahun lebih beliau menetap di Makkah al-Mukarramah. Sekembalinya dari Tanah Suci, beliau masih melanjutkan semangatnya untuk “ngangsu kaweruh” yang tak pernah surut. Walau sudah dari Arab, beliau masih meluangkan waktu untuk memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada ulama-ulama besar tanah Jawa saat itu. Diantara yang bisa disebut namanya adalah KH. Baidhawi (mertua beliau), serta KH. Ma’shum, keduanya tinggal di Lasem. Selanjutnya KH. Ali Ma’shum Krapyak Jogjakarta, KH. Bisri Musthofa, Rembang, KH. Abdul Wahhab Hasbullah, KH. Mushlih Mranggen, KH. Abbas, Buntet Cirebon, Syaikh Ihsan, Jampes Kediri dan juga KH. Abal Fadhal, Senori.
Pada tahun 1965 beliau mengabdikan diri untuk berkhidmat pada ilmu-ilmu agama. Hal itu diiringi dengan berdirinya pondok pesantren yang berada di sisi kediaman beliau. Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama al-Anwar. Satu dari sekian pesantren yang ada di Sarang.
Selain mengajar dan berdakwah, ia masih sempat menulis kitab taqrirat (penetapan hukum suatu masalah) dan syarah (komentar atas kitab salaf). Kitab yang dibuatkan taqrirat olehnya, antara lain, Jauharat at-Tauhid, Ba’dh al-‘Amali dan Alfiyah. Sedangkan kitab yang dibuatkan syarah adalah Syarh al-‘Imrithi. Semuanya dicetak dalam jumlah terbatas untuk kalangan Pesantren al-Anwar dan beberapa pesantren lainnya.
Keharuman nama dan kebesaran beliau sudah tidak bisa dibatasi lagi dengan peta geografis. Banyak sudah ulama-ulama dan santri yang berhasil “jadi orang” karena ikut di-gulo wentah dalam pesantren beliau. Sudah terbukti bahwa ilmu-ilmu yang belaiu miliki tidak cuma membesarkan jiwa beliau secara pribadi, tapi juga membesarkan setiap santri yang bersungguh-sungguh mengecap tetesan ilmu dari beliau.
Tiada harapan lain, semoga Allah melindungi beliau demi kemaslahatan kita bersama di dunia dan akherat. Aamiin.
Dari berbagai sumber
Sya’roni As-Samfuriy, Cikampek 10 September 2013
http://www.muslimedianews.com/2013/09/samudera-ilmu-yang-tiada-bertepi-dari.html
http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2013/09/samudera-ilmu-yang-tiada-bertepi-dari.html
https://www.facebook.com/KumpulanFotoUlamaDanHabaib
“Sekilas Pandang Profil KH. Maimun Zubair”
Di kalangan para ulama Nahdlatul Ulama, bahtsul masail diniyyah (pembahasan masalah-masalah keagamaan) merupakan forum untuk berdiskusi, bermusyawarah dan memutuskan berbagai masalah keagamaan mutakhir dengan merujuk berbagai dalil yang tercantum dalam kitab-kitab klasik.
Dalam forum seperti itu, diantara pondok pesantren yang amat disegani adalah Pondok Pesantren al-Anwar Desa Karangmangu, Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Bukan saja karena ketangguhan para santrinya dalam penguasaan hukum Islam, tapi juga karena sosok kiai pengasuhnya yang termasyhur sebagai faqih jempolan. Kiai yang dimaksud adalah KH. Maimoen Zubair.
Meski sudah sangat sepuh, alumnus Lirboyo dan Ma’had Syaikh Yasin al-Fadani di Makkah itu masih aktif menebar ilmu dan nasihat kepada umat. Di sela-sela kegiatan mengajarkan kitab Ihya Ulumiddin dan kitab-kitab tasawuf lainnya kepada pada santri senior setiap ba’da Shubuh dan Ashar, Mbah Moen, demikian ia biasa dipanggil, masih menyempatkan diri menghadiri undangan ceramah dari kampung ke kampung, dari masjid ke masjid, dari pesantren ke pesantren.
Dalam berbagai ceramahnya, kearifan Mbah Maimoen selalu tampak. Di sela-sela tausiyahnya tentang ibadah dan muamalah, ia tidak pernah lupa menyuntikkan optimisme kepada umat yang tengah dihantam musibah bertubi-tubi.
Beliau memang ulama yang sangat disegani di kalangan NU, kalangan pesantren dan terutama sekali kalangan kaum muslimin di pesisir utara Jawa. Ceramahnya sarat dengan tinjauan sejarah dan kaya dengan nuansa fiqih, sehingga membuat betah jamaah pengajian untuk berlama-lama menyimaknya.
Kiai sepuh beranak 15 (tujuh putra, delapan putri) ini memang unik. Tidak seperti kebanyakan kiai, ia juga sering diminta memberi ceramah dan fatwa untuk urusan nonpesantren. Rumahnya di tepi jalur Pantura tak pernah sepi dari tokoh-tokoh nasional, terutama dari kalangan NU, yang sowan minta fatwa politik, nasihat atau sekadar silaturahim.
Belum lagi ribuan mantan santrinya yang secara rutin sowan untuk berbagi cerita mengenai kiprah dakwah masing-masing di kampung halaman. Beberapa diantara mereka berhasil menjadi tokoh di daerah masing-masing, seperti al-Habib Abdullah Zaki bin Syaikh al-Kaff (Bandung), KH. Abdul Adzim (Sidogiri, Pasuruan), KH. Hafidz (Mojokerto), KH. Hamzah Ibrahim, KH. Khayatul Makki (Mantrianom, Banjarnegara), KH. Dr. Zuhrul Anam (Leler, Banyumas), KH. M. Hasani Said (Giren, Tegal), al-Habib Shaleh bin Ali Alattas (Pangkah, Tegal) dan masih banyak lagi.
Jika matahari terbit dari timur, maka mataharinya para santri ini terbit dari Sarang. Pribadi yang santun, jumawa serta rendah hati ini lahir pada hari Kamis, 28 Oktober 1928 (dalam hal ini masih terdapat perselisihan). Beliau adalah putra pertama dari Kyai Zubair. Seorang Kyai yang tersohor karena kesederhanaan dan sifatnya yang merakyat. Ibundanya adalah putri dari Kyai Ahmad bin Syu'aib, ulama yang kharismatis yang teguh memegang pendirian.
Mbah Moen adalah insan yang lahir dari gesekan permata dan intan. Dari ayahnya, beliau meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya beliau meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan. Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati seringkali berseberangan dengan ketegasan. Namun dalam pribadi Mbah Moen, semua itu tersinergi secara padan dan seimbang.
Kerasnya kehidupan pesisir tidak membuat sikapnya ikut mengeras. Beliau adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri. Beliau membuktikan bahwa ilmu tidak harus menyulap pemiliknya menjadi tinggi hati ataupun ekslusif dibanding yang lainnya.
Kesehariannya adalah aktualisasi dari semua itu. Walau banyak dikenal dan mengenal erat tokoh-tokoh nasional, tapi itu tidak menjadikannya tercerabut dari basis tradisinya semula. Sementara walau sering kali menjadi peraduan bagi keluh kesah masyarakat, tapi semua itu tetap tidak menghalanginya untuk menyelami dunia luar, tepatnya yang tidak berhubungan dengan kebiasaan di pesantren sekalipun.
Kematangan ilmunya tidak ada satupun yang meragukan. Sebab sedari balita beliau sudah dibesarkan dengan ilmu-ilmu agama. Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh langsung oleh ayahnya untuk menghafal dan memahami ilmu sharaf, nahwu, fiqih, manthiq, balaghah dan bermacam ilmu syara’ yang lain. Dan siapapun zaman itu tidaklah menyangsikan, bahwa ayahnda Kyai Maimoen, Kyai Zubair, adalah murid pilihan dari Syaikh Sa’id al-Yamani serta Syaikh Hasan al-Yamani al- Makky. Dua ulama yang kesohor pada saat itu.
Kecemerlangan demi kecermelangan tidak heran menghiasi langkahnya menuju dewasa. Pada usia yang masih muda, kira-kira 17 tahun, beliau sudah hafal di luar kepala kiab-kitab nadzam, diantaranya al-Jurumiyyah, al-‘Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharatu at-Tauhid, Sullam al-Munauraq serta Rahabiyyah fi al-Faraidh. Seiring pula dengan kepiawaiannya melahap kitab-kitab fiqh madzhab Syafi’i, semisal Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Fath al-Wahhab dan lain sebagainya.
Pada tahun kemerdekaan, beliau memulai pengembaraannya guna ngangsu kaweruh ke Pondok Pesaantren Lirboyo Kediri (MHM), di bawah bimbingan KH. Abdul Karim yang terkenal dengan Mbah Manaf. Selain kepada Mbah Manaf, beliau juga menimba ilmu agama dari KH. Mahrus Ali dan KH. Marzuqi Dahlan.
Di Pondok Lirboyo, pribadi yang sudah cemerlang ini masih diasah pula selama kurang lebih lima tahun. Waktu yang melelahkan bagi orang kebanyakan, tapi tentu masih belum cukup untuk menegak habis ilmu pengetahuan.
Tanpa kenal batas, beliau tetap menceburkan dirinya dalam samudra ilmu-ilmu agama. Sampai pada akhirnya, saat menginjak usia 21 tahun, beliau menuruti panggilan jiwanya untuk mengembara ke Makkah al-Mukarramah. Perjalanan ini diiringi oleh kakeknya sendiri, yakni KH. Ahmad bin Syu’aib.
Tidak hanya satu, semua mata air ilmu agama dihampirinya. Beliau menerima ilmu dari sekian banyak orang ternama dibidangnya, antara lain as-Sayyid al-Habib Alwi bin Abbas al-Maliki, Syaikh Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Kutbi, Syaikh Yasin bin Isa al- Fadani dan masih banyak lagi.
Dua tahun lebih beliau menetap di Makkah al-Mukarramah. Sekembalinya dari Tanah Suci, beliau masih melanjutkan semangatnya untuk “ngangsu kaweruh” yang tak pernah surut. Walau sudah dari Arab, beliau masih meluangkan waktu untuk memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada ulama-ulama besar tanah Jawa saat itu. Diantara yang bisa disebut namanya adalah KH. Baidhawi (mertua beliau), serta KH. Ma’shum, keduanya tinggal di Lasem. Selanjutnya KH. Ali Ma’shum Krapyak Jogjakarta, KH. Bisri Musthofa, Rembang, KH. Abdul Wahhab Hasbullah, KH. Mushlih Mranggen, KH. Abbas, Buntet Cirebon, Syaikh Ihsan, Jampes Kediri dan juga KH. Abal Fadhal, Senori.
Pada tahun 1965 beliau mengabdikan diri untuk berkhidmat pada ilmu-ilmu agama. Hal itu diiringi dengan berdirinya pondok pesantren yang berada di sisi kediaman beliau. Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama al-Anwar. Satu dari sekian pesantren yang ada di Sarang.
Selain mengajar dan berdakwah, ia masih sempat menulis kitab taqrirat (penetapan hukum suatu masalah) dan syarah (komentar atas kitab salaf). Kitab yang dibuatkan taqrirat olehnya, antara lain, Jauharat at-Tauhid, Ba’dh al-‘Amali dan Alfiyah. Sedangkan kitab yang dibuatkan syarah adalah Syarh al-‘Imrithi. Semuanya dicetak dalam jumlah terbatas untuk kalangan Pesantren al-Anwar dan beberapa pesantren lainnya.
Keharuman nama dan kebesaran beliau sudah tidak bisa dibatasi lagi dengan peta geografis. Banyak sudah ulama-ulama dan santri yang berhasil “jadi orang” karena ikut di-gulo wentah dalam pesantren beliau. Sudah terbukti bahwa ilmu-ilmu yang belaiu miliki tidak cuma membesarkan jiwa beliau secara pribadi, tapi juga membesarkan setiap santri yang bersungguh-sungguh mengecap tetesan ilmu dari beliau.
Tiada harapan lain, semoga Allah melindungi beliau demi kemaslahatan kita bersama di dunia dan akherat. Aamiin.
Dari berbagai sumber
Sya’roni As-Samfuriy, Cikampek 10 September 2013
http://www.muslimedianews.com/2013/09/samudera-ilmu-yang-tiada-bertepi-dari.html
http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2013/09/samudera-ilmu-yang-tiada-bertepi-dari.html
https://www.facebook.com/KumpulanFotoUlamaDanHabaib
Wednesday, 25 September 2013
Ingat Ingat
Pertama;Tahajjud. Karena kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya.
Kedua;
Melazimi al-Quran & zikir al-Mathurat sebelum terbit & terbenam matahari.
Ketiga;
Memelihara kesempurnaan solat kerana inilah kekuatan mukmin, muslim yang utuh.
Keempat;
Jaga solat dhuha kerana rezeki terletak pada solat dhuha.
Kelima;
Jaga sedekah setiap hari, walaupun hanya dengan sekuntum senyuman.
Keenam;
Jaga wudhuk terus menerus karena Allah SWT menyayangi hamba-Nya yang berwudhuk.
Ketujuh;
Amalkan istighfar setiap masa agar terhapus segala dosa dan noda.
Kelapan;
Perbaharui azam dan tekad untuk terus berkhidmat karena Allah S.W.T.
Kesembilan;
Senantiasa ceria dan berfikiran positif karena itulah watak seorang mukmin sejati.
Kesepuluh;
Memelihara diri dengan keikhlasan yang tulus kerana Allah S.W.T. kerana di situlah terletaknya nilai amalan di sisi-Nya.
Link Source: https://www.facebook.com/IslamicMotivationIndonesia?hc_location=stream
SUBHANALLAH , FAKTA UNIK TENTANG KA'BAH
Ka’bah merupakan kiblat shalat bagi seluruh umat Muslim sedunia. Lokasi Ka’bah berada di dalam wilayah Masjidil Haram yang terletak di kota Makkah, Arab Saudi. Musim Haji setiap tahunnya di sini akan terasa dengan datangnya ribuan kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia, di samping juga melaksanakan Umrah maupun berziarah ke sejumlah lokasi bersejarah di sana.
Ka’bah memiliki arti yang sangat penting bagi umat Muslim.
Ka’bah memiliki rahasia tersembunyi, bahkan tempat-tempat sekitar Ka’bah termasuk depan pintu Multazam merupakan tempat mustajab untuk berdoa. Namun, tahukah Anda jika ternyata ada banyak fakta unik di balik kesucian bangunan Ka’bah?
Yuk kita simak.
1. Ka’bah mengeluarkan sinar radiasi
Planet bumi mengeluarkan semacam radiasi, yang kemudian diketahui sebagai medan magnet. Penemuan ini sempat mengguncang National Aeronautics and Space Administration (NASA), badan antariksa Amerika Serikat, dan temuan ini sempat dipublikasikan melalui internet.
Namun entah mengapa, setelah 21 hari tayang, website yang mempublikasikan temuan itu hilang dari dunia maya. Namun demikian, keberadaan radiasi itu tetap diteliti, dan akhirnya diketahui kalau radiasi tersebut berpusat di kota Makkah, tempat di mana Ka’bah berada.
Yang lebih mengejutkan, radiasi tersebut ternyata bersifat infinite (tidak berujung). Hal ini terbuktikan ketika para astronot mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih tetap terlihat. Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’bah di planet bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.
2. Zero Magnetism Area
Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’, artinya adalah apabila seseorang mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.
Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Makkah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Oleh sebab itu, ketika mengelilingi Ka’bah, maka seakan-akan fisik para jamaah haji seperti di-charge ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.
3. Tekanan Gravitasi Tinggi
Ka’bah dan sekitarnya merupakan sebuah area dengan gaya gravitasi yang tinggi. Ini menyebabkan satelit, frekuensi radio ataupun peralatan teknologi lainnya tidak dapat mengetahui isi di dalam Ka’bah.
Selain itu, tekanan gravitasi tinggi juga menyebabkan kadar garam dan aliran sungai bawah tanah tinggi. Inilah yang menyebabkan shalat di Masjidil Haram tidak akan terasa panas meskipun tanpa atap di atasnya.
Tekanan gravitasi yang tinggi memberikan kesan langsung kepada sistem imun tubuh untuk bertindak sebagai pertahanan dari segala macam penyakit.
4. Tempat ibadah tertua
Pembangunan Ka’bah telah dilakukan sejak zaman Nabi Adam AS. Ada pula sumber yang menyebutkan, Ka’bah telah dibangun semenjak 2000 tahun sebelum Nabi Adam diturunkan. Pembangunannya pun memerlukan waktu yang lama karena dilakukan dari masa ke masa.
Menurut sebagian riwayat, Ka’bah sudah ada sebelum Nabi Adam AS diturunkan ke bumi, karena sudah dipergunakan oleh para malaikat untuk tawwaf dan ibadah. Ketika Adam dan Hawa terusir dari Taman Surga, mereka diturunkan ke muka bumi, diantar oleh malaikat Jibril. Peristiwa ini jatuh pada tanggal 10 Muharam.
5. Ka’bah memancarkan energi positif
Ka’bah dijadikan sebagai kiblat oleh orang yang shalat di seluruh dunia, karena orang shalat di seluruh dunia memancarkan energi positif apalagi semua berkiblat kepada Ka’bah. Jadi dapat Anda bayangkan energi positif yang terpusat di Ka’bah, dan juga menjadi pusat gerakan shalat sepanjang waktu karena diketahui waktu shalat mengikuti pergerakan matahari.
Itu artinya, setiap waktu sesuai gerakan matahari selalu ada orang yang sedang shalat. Jika sekarang seseorang di sini melakukan shalat Dhuhur, demikian pula wilayah yang lebih barat akan memasuki waktu Dhuhur dan seterusnya atau dalam waktu yang bersamaan orang Indonesia shalat Dhuhur orang yang lebih timur melakukan shalat Ashar demikian seterusnya.
Memandang Ka’bah dengan ikhlas akan mendatangkan ketenangan jiwa. Aturan untuk tidak mengenakan topi atau tutup kepala saat beribadah haji juga memiliki banyak manfaat. Rambut yang ada di tubuh manusia dapat berfungsi sebagai antena untuk menerima energi positif yang dipancarkan Ka’bah.
Sumber: belantaraindonesia. org
Ka’bah memiliki arti yang sangat penting bagi umat Muslim.
Ka’bah memiliki rahasia tersembunyi, bahkan tempat-tempat sekitar Ka’bah termasuk depan pintu Multazam merupakan tempat mustajab untuk berdoa. Namun, tahukah Anda jika ternyata ada banyak fakta unik di balik kesucian bangunan Ka’bah?
Yuk kita simak.
1. Ka’bah mengeluarkan sinar radiasi
Planet bumi mengeluarkan semacam radiasi, yang kemudian diketahui sebagai medan magnet. Penemuan ini sempat mengguncang National Aeronautics and Space Administration (NASA), badan antariksa Amerika Serikat, dan temuan ini sempat dipublikasikan melalui internet.
Namun entah mengapa, setelah 21 hari tayang, website yang mempublikasikan temuan itu hilang dari dunia maya. Namun demikian, keberadaan radiasi itu tetap diteliti, dan akhirnya diketahui kalau radiasi tersebut berpusat di kota Makkah, tempat di mana Ka’bah berada.
Yang lebih mengejutkan, radiasi tersebut ternyata bersifat infinite (tidak berujung). Hal ini terbuktikan ketika para astronot mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih tetap terlihat. Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’bah di planet bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.
2. Zero Magnetism Area
Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’, artinya adalah apabila seseorang mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.
Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Makkah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Oleh sebab itu, ketika mengelilingi Ka’bah, maka seakan-akan fisik para jamaah haji seperti di-charge ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.
3. Tekanan Gravitasi Tinggi
Ka’bah dan sekitarnya merupakan sebuah area dengan gaya gravitasi yang tinggi. Ini menyebabkan satelit, frekuensi radio ataupun peralatan teknologi lainnya tidak dapat mengetahui isi di dalam Ka’bah.
Selain itu, tekanan gravitasi tinggi juga menyebabkan kadar garam dan aliran sungai bawah tanah tinggi. Inilah yang menyebabkan shalat di Masjidil Haram tidak akan terasa panas meskipun tanpa atap di atasnya.
Tekanan gravitasi yang tinggi memberikan kesan langsung kepada sistem imun tubuh untuk bertindak sebagai pertahanan dari segala macam penyakit.
4. Tempat ibadah tertua
Pembangunan Ka’bah telah dilakukan sejak zaman Nabi Adam AS. Ada pula sumber yang menyebutkan, Ka’bah telah dibangun semenjak 2000 tahun sebelum Nabi Adam diturunkan. Pembangunannya pun memerlukan waktu yang lama karena dilakukan dari masa ke masa.
Menurut sebagian riwayat, Ka’bah sudah ada sebelum Nabi Adam AS diturunkan ke bumi, karena sudah dipergunakan oleh para malaikat untuk tawwaf dan ibadah. Ketika Adam dan Hawa terusir dari Taman Surga, mereka diturunkan ke muka bumi, diantar oleh malaikat Jibril. Peristiwa ini jatuh pada tanggal 10 Muharam.
5. Ka’bah memancarkan energi positif
Ka’bah dijadikan sebagai kiblat oleh orang yang shalat di seluruh dunia, karena orang shalat di seluruh dunia memancarkan energi positif apalagi semua berkiblat kepada Ka’bah. Jadi dapat Anda bayangkan energi positif yang terpusat di Ka’bah, dan juga menjadi pusat gerakan shalat sepanjang waktu karena diketahui waktu shalat mengikuti pergerakan matahari.
Itu artinya, setiap waktu sesuai gerakan matahari selalu ada orang yang sedang shalat. Jika sekarang seseorang di sini melakukan shalat Dhuhur, demikian pula wilayah yang lebih barat akan memasuki waktu Dhuhur dan seterusnya atau dalam waktu yang bersamaan orang Indonesia shalat Dhuhur orang yang lebih timur melakukan shalat Ashar demikian seterusnya.
Memandang Ka’bah dengan ikhlas akan mendatangkan ketenangan jiwa. Aturan untuk tidak mengenakan topi atau tutup kepala saat beribadah haji juga memiliki banyak manfaat. Rambut yang ada di tubuh manusia dapat berfungsi sebagai antena untuk menerima energi positif yang dipancarkan Ka’bah.
Sumber: belantaraindonesia. org
Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat itu SATU
Saya
seringkali dapat pertanyaan lewat email tentang hubungan antara syariat
dan hakikat. Pada kesempatan ini saya ingin sedikit membahas hubungan
yang sangat erat antara keduanya. Syariat bisa diibaratkan sebagai
jasmani/badan tempat ruh berada sementara hakikat ibarat ruh yang
menggerakkan badan, keduanya sangat berhubungan erat dan tidak bisa
dipisahkan. Badan memerlukan ruh untuk hidup sementara ruh memerlukan
badan agar memiliki wadah.
Saidi
Syekh Muhammad Hasyim Al-Khalidi guru Mursyid dari Ayahanda Prof. Dr.
Saidi Syekh Kadirun Yahya MA. M.Sc mengibaratkan syariat laksana baju
sedangkan hakikat ibarat badan. Dalam beberapa pantun yang Beliau
ciptakan tersirat pesan-pesan tentang pentingnya merawat tubuh sebagai
perhatian utama sedangkan merawat baju juga tidak boleh dilupakan.
Imam
Malik mengatakan bahwa seorang mukmin sejati adalah orang yang
mengamalkan syariat dan hakikat secara bersamaan tanpa meninggalkan
salah satunya. Ada adagium cukup terkenal, “Hakikat tanpa syariat adalah kepalsuan, sedang syariat tanpa hakikat adalah sia-sia.” Imam Malik berkata, “Barangsiapa
bersyariat tanpa berhakikat, niscaya ia akan menjadi fasik. Sedang yang
berhakikat tanpa bersyariat, niscaya ia akan menjadi zindik.Barangsiapa
menghimpun keduanya [syariat dan hakikat], ia benar-benar telah
berhakikat.”
Syariat
adalah hukum-hukum atau aturan-aturan dari Allah yang disampaikan oleh
Nabi untuk dijadikan pedoman kepada manusia, baik aturan ibadah maupun
yang lainnya. Apa yang tertulis dalam Al-Qur’an hanya berupa pokok
ajaran dan bersifat universal, karenanya Nabi yang merupakan orang
paling dekat dengan Allah dan paling memahami Al-Qur’an menjelaskan
aturan pokok tersebut lewat ucapan dan tindakan Beliau, para sahabat
menjadikan sebagai pedoman kedua yang dikenal sebagai hadist. Ucapan
Nabi bernilai tinggi dan masih sarat dengan simbol-simbol yang
memerlukan keahlian untuk menafsirkannya.
Para
sahabat sebagai orang-orang pilihan yang dekat dengan nabi merupakan
orang yang paling memahami nabi, mereka paling mengerti akan ucapan Nabi
karena memang hidup sezaman dengan nabi. Penafsiran dari para sahabat
itulah kemudian diterjemahkan dalam bentuk hukum-hukum oleh generasi
selanjutnya. Para ulama sebagai pewaris ilmu Nabi melakukan ijtihad,
menggali sumber utama hukum Islam kemudian menterjemahkan sesuai dengan
perkembangan zaman saat itu, maka lahirlah cabang-cabang ilmu yang
digunakan sampai generasi sekarang. Sumber hukum Islam itu kemudian
dikenal memiliki 4 pilar yaitu : Al-Qur’an, Hadist, Ijmak dan Qiyas,
itulah yang kita kenal dengan syariat Islam.
Untuk
melaksanakan Syariat Islam terutama bidang ibadah harus dengan metode
yang tepat sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah dan apa yang
dilakukan Rasulullah SAW sehingga hasilnya akan sama. Sebagai contoh
sederhana, Allah memerintahkan kita untuk shalat, kemudian Nabi
melaksanakannya, para sahabat mengikuti. Nabi mengatakan, “Shalatlah
kalian seperti aku shalat”. Tata cara shalat Nabi yang disaksikan oleh
sahabat dan juga dilaksanakan oleh sahabat kemudian dijadikan aturan
oleh Ulama, maka kita kenal sebagai rukun shalat yang 13 perkara. Kalau
hanya sekedar shalat maka aturan 13 itu bisa menjadi pedoman untuk
seluruh ummat Islam agar shalatnya standar sesuai dengan shalat Nabi.
Akan tetapi, dalam rukun shalat tidak diajarkan cara supaya khusyuk dan
supaya bisa mencapai tahap makrifat dimana hamba bisa memandang wajah
Allah SWT.
Ketika memulai shalat dengan “Wajjahtu waj-hiya lillaa-dzii fatharas-samaawaati wal-ardho haniifam-muslimaw- wamaa ana minal-musy-rikiin..” Kuhadapkan
wajahku kepada wajah-Nya Zat yang menciptakan langit dan bumi, dengan
keadaan lurus dan berserah diri, dan tidaklah aku termasuk orang-orang
yang musyrik. Seharusnya seorang hamba sudah menemukan
chanel atau gelombang kepada Tuhan, menemukan wajahnya yang Maha Agung,
sehingga kita tidak termasuk orang musyrik menyekutukan Tuhan. Kita
dengan mudah menuduh musyrik kepada orang lain, tanpa sadar kita hanya
mengenal nama Tuhan saja sementara yang hadir dalam shalat wajah-wajah
lain selain Dia. Kalau wajah-Nya sudah ditemukan di awal shalat maka
ketika sampai kepada bacaan Al-Fatihah, disana benar-benar terjadi
dialog yang sangat akrab antara hamba dengan Tuhannya.
Syariat
tidak mengajarkan hal-hal seperti itu karena syariat hanya berupa hukum
atau aturan. Untuk bisa melaksanakan syariat dengan benar, ruh ibadah
itu hidup, diperlukan metodologi pelaksanaan teknisnya yang dikenal
dengan Tariqatullah jalan kepada Allah yang kemudian disebut dengan
Tarekat. Jadi Tarekat itu pada awalnya bukan perkumpulan orang-orang
mengamalkan zikir. Nama Tarekat diambil dari sebuah istilah di zaman
Nabi yaitu Tariqatussiriah yang bermakna Jalan Rahasia atau Amalan
Rahasia untuk mencapai kesempurnaan ibadah. Munculnya perkumpulan
Tarekat dikemudian hari adalah untuk menyesuaikan dengan perkembangan
zaman agar orang-orang dalam ibadah lebih teratur, tertib dan
terorganisir seperti nasehat Syaidina Ali bin Abi Thalib kw, “Kejahatan
yang terorganisir akan bisa mengalahkan kebaikan yang tidak
terorganisir”.
Kalau
ajaran-ajaran agama yang kita kenal dengan syariat itu tidak
dilaksanakan dengan metode yang benar (Thariqatullah) maka ibadah akan
menjadi kosong hanya sekedar memenuhi kewajiban agama saja. Shalat hanya
mengikuti rukun-rukun dengan gerak kosong belaka, badan bergerak
mengikuti gerakan shalat namun hati berkelana kemana-mana. Sepanjang
shalat akan muncul berjuta khayalan karena ruh masih di alam dunia belum
sampai ke alam Rabbani.
Ibadah
haji yang merupakan puncak ibadah, diundang oleh Maha Raja Dunia
Akhirat, seharusnya disana berjumpa dengan yang mengundang yaitu Pemilik
Ka’bah, pemilik dunia akhirat, Tuhan seru sekalian alam, tapi yang
terjadi yang dijumpai disana hanya berupa dinding dinding batu yang
ditutupi kain hitam. Pada saat wukuf di arafah itu adalah proses
menunggu, menunggu Dia yang dirindui oleh sekalian hamba untuk hadir
dalam kekosongan jiwa manusia, namun yang ditunggu tak pernah muncul.
Disini
sebenarnya letak kesilapan kaum muslim diseluruh dunia, terlalu
disibukkan aturan syariat dan lupa akan ilmu untuk melaksanakan syariat
itu dengan benar yaitu Tarekat. Ketika ilmu tarekat dilupakan bahkan
sebagian orang bodoh menganggap ilmu warisan nabi ini sebagai bid’ah
maka pelaksanaan ibadah menjadi kacau balau. Badan seolah-olah khusuk
beribadah sementara hatinya lalai, menari-nari di alam duniawi dan yang
didapat dari shalat itu bukan pahala tapi ancaman Neraka Wail. Harus di
ingat bawah “Lalai” yang di maksud disana bukan sekedar tidak tepat
waktu tapi hati sepanjang ibadah tidak mengingat Allah. Bagaimana
mungkin dalam shalat bisa mengingat Allah kalau diluar shalat tidak di
latih ber-Dzikir (mengingat) Allah? dan bagaimana mungkin seorang bisa
berdzikir kalau jiwanya belum disucikan? Urutan latihannya sesuai dengan
perintah Allah dalam surat Al ‘Ala, “Beruntunglah orang yang telah
disucikan jiwanya/ruhnya, kemudian dia berdzikir menyebut nama Tuhan dan
kemudian menegakkan shalat”.
Kesimpulan
dari tulisan singkat ini bahwa sebenarnya tidak ada pemisahan antara ke
empat ilmu yaitu Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat, ke empatnya
adalah SATU. Iman dan Islam bisa dijelaskan dengan ilmu syariat
sedangkan maqam Ihsan hanya bisa ditempuh lewat ilmu Tarekat. Ketika
kita telah mencapai tahap Makrifat maka dari sana kita bisa memandang
dengan jelas bahwa ke empat ilmu tersebut tidak terpisah tapi SATU.
Tulisan
ini saya tulis dalam perjalanan ziarah ke Maqam Guru saya tercinta,
teringat pesan-pesan Beliau akan pentingnya ilmu Tarekat sebagai
penyempurnaan Syariat agar mencapai Hakikat dan Makrifat. Mudah-mudahan
tulisan ini bisa menjadi renungan dan memberikan manfaat untuk kita
semua. Amin!
Monday, 23 September 2013
Asmaul Husna
Di
dalam kitab suci Al-Qur'an Allah SWT disebut juga dengan nama-nama
sebutan yang berjumlah 99 nama yang masing-masing memiliki arti definisi
/ pengertian yang bersifat baik, agung dan bagus. Secara ringkas dan
sederhana Asmaul Husna adalah sembilanpuluhsembilan nama baik Allah SWT.
Firman Allah SWT dalam surat Al-Araf ayat 180 :
"Allah mempunyai asmaul husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan".
Berikut ini adalah 99 nama Allah SWT beserta artinya :
1. Ar-Rahman (Ar Rahman) Artinya Yang Maha Pemurah
2. Ar-Rahim (Ar Rahim) Artinya Yang Maha Mengasihi
3. Al-Malik (Al Malik) Artinya Yang Maha Menguasai / Maharaja Teragung
4. Al-Quddus (Al Quddus) Artinya Yang Maha Suci
5. Al-Salam (Al Salam) Artinya Yang Maha Selamat Sejahtera
6. Al-Mu'min (Al Mukmin) Artinya Yang Maha Melimpahkan Keamanan
7. Al-Muhaimin (Al Muhaimin) Artinya Yang Maha Pengawal serta Pengawas
8. Al-Aziz (Al Aziz) Artinya Yang Maha Berkuasa
9. Al-Jabbar (Al Jabbar) Artinya Yang Maha Kuat Yang Menundukkan Segalanya
10. Al-Mutakabbir (Al Mutakabbir) Artinya Yang Melengkapi Segala kebesaranNya
11. Al-Khaliq (Al Khaliq) Artinya Yang Maha Pencipta
12. Al-Bari (Al Bari) Artinya Yang Maha Menjadikan
13. Al-Musawwir (Al Musawwir) Artinya Yang Maha Pembentuk
14. Al-Ghaffar (Al Ghaffar) Artinya Yang Maha Pengampun
15. Al-Qahhar (Al Qahhar) Artinya Yang Maha Perkasa
16. Al-Wahhab (Al Wahhab) Artinya Yang Maha Penganugerah
17. Al-Razzaq (Al Razzaq) Artinya Yang Maha Pemberi Rezeki
18. Al-Fattah (Al Fattah) Artinya Yang Maha Pembuka
19. Al-'Alim (Al Alim) Artinya Yang Maha Mengetahui
20. Al-Qabidh (Al Qabidh) Artinya Yang Maha Pengekang
21. Al-Basit (Al Basit) Artinya Yang Maha Melimpah Nikmat
22. Al-Khafidh (Al Khafidh) Artinya Yang Maha Perendah / Pengurang
23. Ar-Rafi' (Ar Rafik) Artinya Yang Maha Peninggi
24. Al-Mu'izz (Al Mu'izz) Artinya Yang Maha Menghormati / Memuliakan
25. Al-Muzill (Al Muzill) Artinya Yang Maha Menghina
26. As-Sami' (As Sami) Artinya Yang Maha Mendengar
27. Al-Basir (Al Basir) Artinya Yang Maha Melihat
28. Al-Hakam (Al Hakam) Artinya Yang Maha Mengadili
29. Al-'Adl (Al Adil) Artinya Yang Maha Adil
30. Al-Latif (Al Latif) Artinya Yang Maha Lembut serta Halus
31. Al-Khabir (Al Khabir) Artinya Yang Maha Mengetahui
32. Al-Halim (Al Halim) Artinya Yang Maha Penyabar
33. Al-'Azim (Al Azim) Artinya Yang Maha Agung
34. Al-Ghafur (Al Ghafur) Artinya Yang Maha Pengampun
35. Asy-Syakur (Asy Syakur) Artinya Yang Maha Bersyukur
36. Al-'Aliy (Al Ali) Artinya Yang Maha Tinggi serta Mulia
37. Al-Kabir (Al Kabir) Artinya Yang Maha Besar
38. Al-Hafiz (Al Hafiz) Artinya Yang Maha Memelihara
39. Al-Muqit (Al Muqit) Artinya Yang Maha Menjaga
40. Al-Hasib (Al Hasib) Artinya Yang Maha Penghitung
41. Al-Jalil (Al Jalil) Artinya Yang Maha Besar serta Mulia
42. Al-Karim (Al Karim) Artinya Yang Maha Pemurah
43. Ar-Raqib (Ar Raqib) Artinya Yang Maha Waspada
44. Al-Mujib (Al Mujib) Artinya Yang Maha Pengkabul
45. Al-Wasi' (Al Wasik) Artinya Yang Maha Luas
46. Al-Hakim (Al Hakim) Artinya Yang Maha Bijaksana
47. Al-Wadud (Al Wadud) Artinya Yang Maha Penyayang
48. Al-Majid (Al Majid) Artinya Yang Maha Mulia
49. Al-Ba'ith (Al Baith) Artinya Yang Maha Membangkitkan Semula
50. Asy-Syahid (Asy Syahid) Artinya Yang Maha Menyaksikan
51. Al-Haqq (Al Haqq) Artinya Yang Maha Benar
52. Al-Wakil (Al Wakil) Artinya Yang Maha Pentadbir
53. Al-Qawiy (Al Qawiy) Artinya Yang Maha Kuat
54. Al-Matin (Al Matin) Artinya Yang Maha Teguh
55. Al-Waliy (Al Waliy) Artinya Yang Maha Melindungi
56. Al-Hamid (Al Hamid) Artinya Yang Maha Terpuji
57. Al-Muhsi (Al Muhsi) Artinya Yang Maha Penghitung
58. Al-Mubdi (Al Mubdi) Artinya Yang Maha Pencipta dari Asal
59. Al-Mu'id (Al Muid) Artinya Yang Maha Mengembali dan Memulihkan
60. Al-Muhyi (Al Muhyi) Artinya Yang Maha Menghidupkan
61. Al-Mumit (Al Mumit) Artinya Yang Mematikan
62. Al-Hayy (Al Hayy) Artinya Yang Senantiasa Hidup
63. Al-Qayyum (Al Qayyum) Artinya Yang Hidup serta Berdiri Sendiri
64. Al-Wajid (Al Wajid) Artinya Yang Maha Penemu
65. Al-Majid (Al Majid) Artinya Yang Maha Mulia
66. Al-Wahid (Al Wahid) Artinya Yang Maha Esa
67. Al-Ahad (Al Ahad) Artinya Yang Tunggal
68. As-Samad (As Samad) Artinya Yang Menjadi Tumpuan
69. Al-Qadir (Al Qadir) Artinya Yang Maha Berupaya
70. Al-Muqtadir (Al Muqtadir) Artinya Yang Maha Berkuasa
71. Al-Muqaddim (Al Muqaddim) Artinya Yang Maha Menyegera
72. Al-Mu'akhkhir (Al Muakhir) Artinya Yang Maha Penangguh
73. Al-Awwal (Al Awwal) Artinya Yang Pertama
74. Al-Akhir (Al Akhir) Artinya Yang Akhir
75. Az-Zahir (Az Zahir) Artinya Yang Zahir
76. Al-Batin (Al Batin) Artinya Yang Batin
77. Al-Wali (Al Wali) Artinya Yang Wali / Yang Memerintah
78. Al-Muta'ali (Al Muta Ali) Artinya Yang Maha Tinggi serta Mulia
79. Al-Barr (Al Barr) Artinya Yang banyak membuat kebajikan
80. At-Tawwab (At Tawwab) Artinya Yang Menerima Taubat
81. Al-Muntaqim (Al Muntaqim) Artinya Yang Menghukum Yang Bersalah
82. Al-'Afuw (Al Afuw) Artinya Yang Maha Pengampun
83. Ar-Ra'uf (Ar Rauf) Artinya Yang Maha Pengasih serta Penyayang
84. Malik-ul-Mulk (Malikul Mulk) Artinya Pemilik Kedaulatan Yang Kekal
85. Dzul-Jalal-Wal-Ikram (Dzul Jalal Wal Ikram) Artinya Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan
86. Al-Muqsit (Al Muqsit) Artinya Yang Maha Saksama
87. Al-Jami' (Al Jami) Artinya Yang Maha Pengumpul
88. Al-Ghaniy (Al Ghaniy) Artinya Yang Maha Kaya Dan Lengkap
89. Al-Mughni (Al Mughni) Artinya Yang Maha Mengkayakan dan Memakmurkan
90. Al-Mani' (Al Mani) Artinya Yang Maha Pencegah
91. Al-Darr (Al Darr) Artinya Yang Mendatangkan Mudharat
92. Al-Nafi' (Al Nafi) Artinya Yang Memberi Manfaat
93. Al-Nur (Al Nur) Artinya Cahaya
94. Al-Hadi (Al Hadi) Artinya Yang Memimpin dan Memberi Pertunjuk
95. Al-Badi' (Al Badi) Artinya Yang Maha Pencipta Yang Tiada BandinganNya
96. Al-Baqi (Al Baqi) Artinya Yang Maha Kekal
97. Al-Warith (Al Warith) Artinya Yang Maha Mewarisi
98. Ar-Rasyid (Ar Rasyid) Artinya Yang Memimpin Kepada Kebenaran
99. As-Sabur (As Sabur) Artinya Yang Maha Penyabar / Sabar
MP3 Asmaul Husna Haddad Alwi Download
Source Link : http://organisasi.org/99-nama-allah-swt-asmaul-husna-sembilan-puluh-sembilan-sebutan-tuhan-asmaul-husnah
Firman Allah SWT dalam surat Al-Araf ayat 180 :
"Allah mempunyai asmaul husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan".
Berikut ini adalah 99 nama Allah SWT beserta artinya :
1. Ar-Rahman (Ar Rahman) Artinya Yang Maha Pemurah
2. Ar-Rahim (Ar Rahim) Artinya Yang Maha Mengasihi
3. Al-Malik (Al Malik) Artinya Yang Maha Menguasai / Maharaja Teragung
4. Al-Quddus (Al Quddus) Artinya Yang Maha Suci
5. Al-Salam (Al Salam) Artinya Yang Maha Selamat Sejahtera
6. Al-Mu'min (Al Mukmin) Artinya Yang Maha Melimpahkan Keamanan
7. Al-Muhaimin (Al Muhaimin) Artinya Yang Maha Pengawal serta Pengawas
8. Al-Aziz (Al Aziz) Artinya Yang Maha Berkuasa
9. Al-Jabbar (Al Jabbar) Artinya Yang Maha Kuat Yang Menundukkan Segalanya
10. Al-Mutakabbir (Al Mutakabbir) Artinya Yang Melengkapi Segala kebesaranNya
11. Al-Khaliq (Al Khaliq) Artinya Yang Maha Pencipta
12. Al-Bari (Al Bari) Artinya Yang Maha Menjadikan
13. Al-Musawwir (Al Musawwir) Artinya Yang Maha Pembentuk
14. Al-Ghaffar (Al Ghaffar) Artinya Yang Maha Pengampun
15. Al-Qahhar (Al Qahhar) Artinya Yang Maha Perkasa
16. Al-Wahhab (Al Wahhab) Artinya Yang Maha Penganugerah
17. Al-Razzaq (Al Razzaq) Artinya Yang Maha Pemberi Rezeki
18. Al-Fattah (Al Fattah) Artinya Yang Maha Pembuka
19. Al-'Alim (Al Alim) Artinya Yang Maha Mengetahui
20. Al-Qabidh (Al Qabidh) Artinya Yang Maha Pengekang
21. Al-Basit (Al Basit) Artinya Yang Maha Melimpah Nikmat
22. Al-Khafidh (Al Khafidh) Artinya Yang Maha Perendah / Pengurang
23. Ar-Rafi' (Ar Rafik) Artinya Yang Maha Peninggi
24. Al-Mu'izz (Al Mu'izz) Artinya Yang Maha Menghormati / Memuliakan
25. Al-Muzill (Al Muzill) Artinya Yang Maha Menghina
26. As-Sami' (As Sami) Artinya Yang Maha Mendengar
27. Al-Basir (Al Basir) Artinya Yang Maha Melihat
28. Al-Hakam (Al Hakam) Artinya Yang Maha Mengadili
29. Al-'Adl (Al Adil) Artinya Yang Maha Adil
30. Al-Latif (Al Latif) Artinya Yang Maha Lembut serta Halus
31. Al-Khabir (Al Khabir) Artinya Yang Maha Mengetahui
32. Al-Halim (Al Halim) Artinya Yang Maha Penyabar
33. Al-'Azim (Al Azim) Artinya Yang Maha Agung
34. Al-Ghafur (Al Ghafur) Artinya Yang Maha Pengampun
35. Asy-Syakur (Asy Syakur) Artinya Yang Maha Bersyukur
36. Al-'Aliy (Al Ali) Artinya Yang Maha Tinggi serta Mulia
37. Al-Kabir (Al Kabir) Artinya Yang Maha Besar
38. Al-Hafiz (Al Hafiz) Artinya Yang Maha Memelihara
39. Al-Muqit (Al Muqit) Artinya Yang Maha Menjaga
40. Al-Hasib (Al Hasib) Artinya Yang Maha Penghitung
41. Al-Jalil (Al Jalil) Artinya Yang Maha Besar serta Mulia
42. Al-Karim (Al Karim) Artinya Yang Maha Pemurah
43. Ar-Raqib (Ar Raqib) Artinya Yang Maha Waspada
44. Al-Mujib (Al Mujib) Artinya Yang Maha Pengkabul
45. Al-Wasi' (Al Wasik) Artinya Yang Maha Luas
46. Al-Hakim (Al Hakim) Artinya Yang Maha Bijaksana
47. Al-Wadud (Al Wadud) Artinya Yang Maha Penyayang
48. Al-Majid (Al Majid) Artinya Yang Maha Mulia
49. Al-Ba'ith (Al Baith) Artinya Yang Maha Membangkitkan Semula
50. Asy-Syahid (Asy Syahid) Artinya Yang Maha Menyaksikan
51. Al-Haqq (Al Haqq) Artinya Yang Maha Benar
52. Al-Wakil (Al Wakil) Artinya Yang Maha Pentadbir
53. Al-Qawiy (Al Qawiy) Artinya Yang Maha Kuat
54. Al-Matin (Al Matin) Artinya Yang Maha Teguh
55. Al-Waliy (Al Waliy) Artinya Yang Maha Melindungi
56. Al-Hamid (Al Hamid) Artinya Yang Maha Terpuji
57. Al-Muhsi (Al Muhsi) Artinya Yang Maha Penghitung
58. Al-Mubdi (Al Mubdi) Artinya Yang Maha Pencipta dari Asal
59. Al-Mu'id (Al Muid) Artinya Yang Maha Mengembali dan Memulihkan
60. Al-Muhyi (Al Muhyi) Artinya Yang Maha Menghidupkan
61. Al-Mumit (Al Mumit) Artinya Yang Mematikan
62. Al-Hayy (Al Hayy) Artinya Yang Senantiasa Hidup
63. Al-Qayyum (Al Qayyum) Artinya Yang Hidup serta Berdiri Sendiri
64. Al-Wajid (Al Wajid) Artinya Yang Maha Penemu
65. Al-Majid (Al Majid) Artinya Yang Maha Mulia
66. Al-Wahid (Al Wahid) Artinya Yang Maha Esa
67. Al-Ahad (Al Ahad) Artinya Yang Tunggal
68. As-Samad (As Samad) Artinya Yang Menjadi Tumpuan
69. Al-Qadir (Al Qadir) Artinya Yang Maha Berupaya
70. Al-Muqtadir (Al Muqtadir) Artinya Yang Maha Berkuasa
71. Al-Muqaddim (Al Muqaddim) Artinya Yang Maha Menyegera
72. Al-Mu'akhkhir (Al Muakhir) Artinya Yang Maha Penangguh
73. Al-Awwal (Al Awwal) Artinya Yang Pertama
74. Al-Akhir (Al Akhir) Artinya Yang Akhir
75. Az-Zahir (Az Zahir) Artinya Yang Zahir
76. Al-Batin (Al Batin) Artinya Yang Batin
77. Al-Wali (Al Wali) Artinya Yang Wali / Yang Memerintah
78. Al-Muta'ali (Al Muta Ali) Artinya Yang Maha Tinggi serta Mulia
79. Al-Barr (Al Barr) Artinya Yang banyak membuat kebajikan
80. At-Tawwab (At Tawwab) Artinya Yang Menerima Taubat
81. Al-Muntaqim (Al Muntaqim) Artinya Yang Menghukum Yang Bersalah
82. Al-'Afuw (Al Afuw) Artinya Yang Maha Pengampun
83. Ar-Ra'uf (Ar Rauf) Artinya Yang Maha Pengasih serta Penyayang
84. Malik-ul-Mulk (Malikul Mulk) Artinya Pemilik Kedaulatan Yang Kekal
85. Dzul-Jalal-Wal-Ikram (Dzul Jalal Wal Ikram) Artinya Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan
86. Al-Muqsit (Al Muqsit) Artinya Yang Maha Saksama
87. Al-Jami' (Al Jami) Artinya Yang Maha Pengumpul
88. Al-Ghaniy (Al Ghaniy) Artinya Yang Maha Kaya Dan Lengkap
89. Al-Mughni (Al Mughni) Artinya Yang Maha Mengkayakan dan Memakmurkan
90. Al-Mani' (Al Mani) Artinya Yang Maha Pencegah
91. Al-Darr (Al Darr) Artinya Yang Mendatangkan Mudharat
92. Al-Nafi' (Al Nafi) Artinya Yang Memberi Manfaat
93. Al-Nur (Al Nur) Artinya Cahaya
94. Al-Hadi (Al Hadi) Artinya Yang Memimpin dan Memberi Pertunjuk
95. Al-Badi' (Al Badi) Artinya Yang Maha Pencipta Yang Tiada BandinganNya
96. Al-Baqi (Al Baqi) Artinya Yang Maha Kekal
97. Al-Warith (Al Warith) Artinya Yang Maha Mewarisi
98. Ar-Rasyid (Ar Rasyid) Artinya Yang Memimpin Kepada Kebenaran
99. As-Sabur (As Sabur) Artinya Yang Maha Penyabar / Sabar
MP3 Asmaul Husna Haddad Alwi Download
Source Link : http://organisasi.org/99-nama-allah-swt-asmaul-husna-sembilan-puluh-sembilan-sebutan-tuhan-asmaul-husnah
Subscribe to:
Comments (Atom)







